<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Merah Putih Bersatu &#187; revolusi belum selesai</title>
	<atom:link href="http://budipraptono.wordpress.com/tag/revolusi-belum-selesai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budipraptono.wordpress.com</link>
	<description>Menuju Indonesia Menjadi Mercusuar Dunia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Dec 2009 07:07:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='budipraptono.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/3ac43a03ba90685289b55a9217ca2f9f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Merah Putih Bersatu &#187; revolusi belum selesai</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://budipraptono.wordpress.com/osd.xml" title="Merah Putih Bersatu" />
		<item>
		<title>Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ‘Revolusi Belum Selesai”</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/09/25/reformasi-jilid-2-adalah-pengejawantahan-dari-jawaban-%e2%80%98revolusi-belum-selesai%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://budipraptono.wordpress.com/2008/09/25/reformasi-jilid-2-adalah-pengejawantahan-dari-jawaban-%e2%80%98revolusi-belum-selesai%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 06:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budipraptono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Opini]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi jilid 2]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi belum selesai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Budi Praptono,Ir.,MM 
Revolusi ‘45 masih berupa revolusi fisik. Istilah ini mungkin agak mengagetkan. Paradigma fisik dalam kebiasaan kita adalah gedung, mobil, dan lain-lain. Tetapi, kalau kita renungkan tantangan bersama pada saat berjuang untuk merdeka yang akhirnya berhasil pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah masih ada bentuknya secara jelas ‘penjajah Belanda.’ Sehingga masih mudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budipraptono.wordpress.com&blog=4495415&post=110&subd=budipraptono&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="font-family:&quot;">Oleh : Budi Praptono,Ir.,MM </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">Revolusi ‘45</span></strong><span style="font-family:&quot;"> masih berupa revolusi fisik. Istilah ini mungkin agak mengagetkan. Paradigma fisik dalam kebiasaan kita adalah gedung, mobil, dan lain-lain. Tetapi, kalau kita renungkan tantangan bersama pada saat berjuang untuk merdeka yang akhirnya berhasil pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah masih ada bentuknya secara jelas ‘penjajah Belanda.’ Sehingga masih mudah dijual kepada masyarakat untuk menjadi tantangan bersama.</span></p>
<p>Ini tidak ada sedikit pun mengurangi rasa hormat saya kepada<span id="more-110"></span> para pejuang bangsa. Bahkan bentuk penghormatan saya sebagai anak bangsa dan sebagai generasi penerus untuk patuh kepada amanah pendahulu yang disampaikan oleh Bung Karno tentang ‘Revolusi Belum Selesai’ mengingatkan kita sebagai generasi penerusnya keberhasilan dalam proses yang panjang masih koma belum titik.</p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">Runtuhnya Orde Baru</span></strong><span style="font-family:&quot;"> lewat reformasi jilid satu pada tahun 1998 belum merupakan </span><span style="font-family:&quot;">jawaban ‘Revolusi Belum Selesai’ karena pasca reformasi bangsa ini tidak segera berubah ke arah yang lebih baik. </span><span style="font-family:&quot;">Para</span><span style="font-family:&quot;"> pemimpin bangsa yang mengemban amanat reformasi masih terlena dengan kebiasaan buruk yang menggerogoti cita-cita bangsa yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme. Akankah lahir reformasi jilid kedua? Kalau reformasi jilid kedua lahir, maka seyogiyanya reformasi tersebut sekaligus menjadi jawaban ‘Revolusi Belum Selesai’ yakni reformasi bukan hanya pada tataran bentuk atau syariat tetapi harus lebih mendasar yakni pada tataran hakiki “seperti semangat pada syair lagu kebangsaan Indonesia Raya, bangunlah jiwanya dahulu, baru bangunlah badannya”, sehingga sekarang ini reformasi telah kehilangan nuansa arah, yang terasa sekedar hanya asal beda, terkesan tergopoh-gopoh, sehingga rakyat merasa kebingungan, mudah-mudahan belum sampai pada tahap frustasi atau apatis. Yang menjadi pertanyaan sampai kapan hal ini dibiarkan, jangan sampai rakyat sudah berubah pada tahap frustasi atau apatis, yang selangkah lagi kalau tidak hati-hati menuju pada tahap anarkis “revolusi fisik”. </span></p>
<p><span style="font-family:&quot;">Kekawatiran inilah, sehingga penulis yang utama hanya dengan modal semangat, mengingatkan dan urun rembug, agar hal tersebut tidak terjadi! </span></p>
<p><span style="font-family:&quot;">Berikut beberapa pemikiran yang mungkin dapat mengantarakan kepada pencarian jawaban dari ‘Revolusi Belum Selesai’ :</span></p>
<p><strong>Revolusi Jiwa yang Merdeka</strong>. Jiwa adalah fitroh, suci, sehingga sesungguhnya hanya mau dengan yang suci. Dan, hanya mau tunduk patuh kepada Yang Maha Suci. Bung Karno mengestafetkan kepada generasi penerusnya untuk melanjutkan revolusi memerdekakan jiwa-jiwa Bangsa <span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> agar tidak terjajah oleh penjajah-penjajah jiwa.</span></p>
<p>Dengan berbagai bentuknya, semua yang bukan Tuhan, termasuk agama. Mengapa agama juga termasuk. Yang jelas agama bukan Tuhan. Hanya sebagai panduan. Sarana atau alat untuk mengenal Tuhan agar manusia sempurna hidup menurut maunya Tuhan.</p>
<p>Dengan Jiwa yang merdeka maka kita akan dapat mengisi kemerdekaan. Berdasarkan maunya Jiwa yang otomatis maunya Tuhan, Kalau meminjam istilah Steven Covey, dalam bukunya <em>7 Habits</em>, manusia yang efektif adalah manusia yang dapat membangun kesadaran dan bertanggung jawab pada mental agar tidak dikuasai orang lain atau lingkungan. Pertanyaannya sudahkan kita merdeka dalam kategori ini.</p>
<p><strong>Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi</strong>. Ibarat peralatan elektronika, maka yang utama, agar berfungsi alat tersebut, adalah harus menyambung kepada jaringan PLN/sumber listrik. Tentunya hal yang utama dilakukan oleh semua manusia yang peranannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Maka sebagai wakil harus ketemu dulu dengan yang diwakili karena Tuhan adalah Maha Suci. Maka tidak mungkin yang tidak suci bisa bertemu dengan Yang Maha Suci.</p>
<p>Apa yang disebut manusia suci. Adalah manusia yang dalam jiwanya. Tidak ada yang lain kecuali Tuhan itu sendiri, orientasi, semangat, usahanya, hanya semata-mata karena Tuhan saja titik.</p>
<p>Dengan demikian, urusan dengan Tuhan, tidak bisa dengan penafsiran atau mengikuti penafsiran orang lain atau kelompok elit. Harus pasti. Makanya harus <em>ketemu</em> atau menyambung dengan Sang Pencipta, dan wajib dilakukan oleh semua orang. Di sinilah, <em>kenapa</em> Nabi Muhammad, dan nabi-nabi atau orang-orang suci, mendorong semangat sahabat. Bukan semangat guru dan murid agar manusia sejajar hubungannya di mata Tuhan.</p>
<p><strong>Kesalehan Sosial</strong>. Setelah bertemu atau istilahnya <em>nyambung</em> dengan sumber listrik ibarat alat elektronika akan berfungsi dengan sendirinya. Dengan demikian dengan berfungsinya alat tersebut, kalau lampu menyala, kalau radio berbunyi, maka dengan menyalanya lampu dan berbunyinya radio, otomatis itulah yang dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan. Sebagai bentuk kesalehan sosial yang sesuai maunya Tuhan. Bukan maunya manusia itu sendiri.</p>
<p>Di mana letak kesalahan manusia pada umumnya. Adalah pada kesalahan cara, semangat dalam mengejawantahkan bentuk kesalehan sosial, menganggap bahwa kesalehan sosial adalah tujuan, kitalah yang mengusahakan.</p>
<p>Padahal kita ini hanya merupakan alat atau robot. Sarana Tuhan bekerja. Ibarat cara kerja robot, apakah robot bekerja, adalah maunya robot. Atau robot dapat bekerja sendiri. Tentunya robot dirancang dulu, diprogram dulu, baru sang robot dapat bekerja menghasilkan sesuatu. Dengan demikian, pantaskah, manusia merasa bisa, atau mengaku yang berkarya.</p>
<p><strong>Pemaksaan Kehendak</strong>. Sebagaimana sebuah organisasi atau pabrik tentunya Sang Pembuat Pabrik, menciptakan semua perangkat, sarana prasarananya, termasuk aturannya agar harmonis sehingga tujuan dapat tercapai sesuai maunya Sang Pembuat. Dengan demikian, pantaskan kita ini hanya bagian kecil dari sistem yang dibuat Sang Pencipta, memaksakan kehendaknya terhadap bagian yang lain.</p>
<p><strong>Bhinneka Tunggal Ika dengan Dasar Pancasila</strong>. Meminjam perumpamaan pabrik lagi, tidak mungkin pabrik dapat berjalan dengan baik. Kalau semuanya sama, seragam, agar berjalan dengan baik maka harus ada yang memerankan peran yang berbeda.</p>
<p>Otomatis pasti beda baik bentuk, proses, dan sebagainya. Ini semua merupakan Hak Mutlak Tuhan. Jadi kalau ada pihak atau orang yang memaksakan kehendaknya sudah barang tentu melawan yang punya Hak Mutlak. Tuhan itu sendiri.</p>
<p><strong>Keyakinan Tidak Bisa Dipaksakan</strong>. Dari manakah datangnya keyakinan. Kalau mau jujur, kita tidak dapat menjawabnya, seandainya bisa, hanyalah pendekatan ilmiah. Mungkin dari lingkungan, keturunan, atau dari baca buku, perjalanan hidup, yang semuanya serba tidak tuntas. Padahal yang sesungguhnya yang membuat adalah Sang Maha Pembuat. Ya Tuhan itu sendiri.</p>
<p>Dengan demikian pantaskah kita mempermasalahkannya dan memaksakannya harus seperti kita. Berarti sama saja kita memaksa Tuhan.</p>
<p>Dalam hal ini, <em>kenapa</em> para Nabi atau orang-orang suci hanya mengajak atau menyampaikan pesan saja. Bukan memaksanya. Karena untuk berubah adalah urusan dia sendiri dengan Tuhannya.</p>
<p>Apalagi urusan dengan Tuhan. Adalah unik. Dan, Tuhan sendiri adalah tidak bisa dimodelkan dengan apa saja. Maka hubungan dengan Tuhan tidak dapat dimodelkan secara <span style="font-family:&quot;">baku</span><span style="font-family:&quot;">. Artinya unik sesuai dengan keyakinan masing dan ini selalu tumbuh dan berproses unik pula.</span></p>
<p><strong>Urusan Dunia atau Kesalehan Sosial</strong>. Ibarat peralatan telekomunikasi agar dapat saling berkomunikasi dengan baik, dengan <em>noise</em> yang rendah, maka perlu standardisasi, aturan main, kesepakatan. Tentunya aturan main yang tidak melanggar asas keadilan, kerelaan atau keikhlasan. Tidak ada semangat mendolimi kepada yang lemah atau minoritas.</p>
<p>Sesungguhnya hukum atau fikih adalah hanya dipakai untuk mengatur orang-orang yang masih belum atau sedang menuju ketemu Tuhan. Atau dengan kata lain kalau orang jiwanya sudah merdeka maka sudah tertata dengan sendirinya.</p>
<p>Jadi seandainya hukum positif tidak melarang orang itu mencuri maka orang tersebut tidak akan mencuri. Tidak akan mencurinya bukan takut sama hukum buatan manusia tetapi karena jiwanya tidak menghendaki untuk mencuri. Karena tahu Tuhan tidak berkenan kita mencuri.</p>
<p>Karena mayoritas manusia adalah belum merdeka jiwanya maka hukum positif menjadi perlu. Coba kita renungkan, zaman dulu, orang yang mayoritasnya jiwanya sudah merdeka maka cukup dengan norma atau hukum adat yang tidak tertulis sudah cukup, sekarang?</p>
<p>Dengan manusia yang mayoritas sudah kehilangan jiwanya atau jiwanya terpasung maka hukum harus semakin mengikuti model programa komputer. Harus terinci dan operasional supaya tidak ada interpretasi.</p>
<p><strong>Kebijakan Pembangunan</strong>. Arah kebijakan pembangunan adalah harus dimulai dari pembangunan diri ‘jiwa’ bangsa <span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;">. Kemudian dikembangkan pembangunan yang lain yang disesuaikan dengan kebutuhan khas bangsa dan Negara </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;">. Dengan semangat saling kerja sama di antara komponen bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> dan bangsa-bangsa di dunia.</span></p>
<p>Dengan demikian jangan sampai mengubah bangsa kita ingin jadi bangsa Arab, Eropa, Amerika, <span style="font-family:&quot;">Jepang</span><span style="font-family:&quot;">, </span><span style="font-family:&quot;">India</span><span style="font-family:&quot;">, </span><span style="font-family:&quot;">China</span><span style="font-family:&quot;">, dll.. Atau jangan sampai kita meniru strategi pembangunan dari bangsa lain tanpa disesuaikan dengan format yang pas dengan kondisi bangsa kita.</span></p>
<p>Atau dengan kata lain globalisasi dengan segala modelnya termasuk persaingan bebas adalah bukan menjadi tujuan. Tetapi, hanya merupakan salah satu sarana atau tantangan zaman yang harus diupayakan untuk mensejahterakan bangsa <span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> khususnya dan bangsa-bangsa lain pada umumnya. Dengan demikian apa saja yang menjadikan bangsa kita khususnya dan bangsa-bangsa lainnya terpuruk harus kita minimalkan.</span></p>
<p>Gagasan ini sudah barang tentu hanya merupakan bagian dari pemikiran bagaimana mengisi semangat yang telah disampaikan oleh Bung Karno bahwa revolusi belum selesai. Bangsa dan Negara <span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> sangat menanti-nanti semua anak bangsa untuk ikut berperan aktif dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu kita. Untuk memenuhi harapan Ibu Pertiwi agar bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> <em>gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja</em>.</span></p>
<p>Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa para pejuang pendahulu kita sampai dengan Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Augustus 1945, adalah sudah dipenuhi dengan semangat kemerdekaan jiwa. Dengan segala plus minusnya kitalah yang harus meneruskan amanah mulia ini yaitu mengisi kemerdekaan dengan semangat jiwa yang yang berdaulat.</p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">Akan Lahir Pemimpin Hebat</span></strong></p>
<p>Manusia yang jiwanya tidak merdeka akan mudah diintervensi atau dijajah oleh pihak lain. Atau dengan kata lain rakyatlah yang menciptakan produk penjajah karena wujud penjajah tidak akan berhasil kalau berhadapan dengan rakyat yang jiwanya merdeka.</p>
<p>Maka, lahirnya pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau dengan sebutan sejenis lainnya, muncul dari rakyat yang jiwanya terjajah, terpasung oleh apa saja yang bukan Tuhan.</p>
<p>Dengan semangat, pembebasan jiwa, maka tidak akan terbentuk kelompok-kelompok semu, apa karena keluarga, asal daerah, sekolahan, perguruan spiritual, agama, dll.. Maka tidak akan terjadi pihak-pihak yang dapat memanipulasi atau memanfaatkan dari terbentuknya kelompok tersebut.</p>
<p>Apakah untuk kepentingan partai, bisnis, kekuasaan, dll., yang semuanya adalah untuk kepentingan duniawi semata, yang cenderung tidak adil. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa para elitlah yang tergoda untuk memanfaatkannya, yang cenderung pada kepentingan pribadinya.</p>
<p>Dengan semangat jiwa-jiwa yang merdeka, maka ikatannya adalah langsung pada nilai-nilai Ketuhanan itu sendiri. Dengan demikian seandainya akan memilih pemimpin maka pertimbangannya adalah nilai-nilai ilahiah itu sendiri sehingga akan lahir pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiah.</p>
<p><strong>Adil dan Makmur</strong></p>
<p><em>Kenapa, koq</em> bukan Makmur dan Adil? Tentunya, ini punya makna di balik Tujuan Negara tercinta ini. Bukankah, Negara kita selama ini masih dikelola dengan semangat Makmur dan Adil, yakni dengan konsep “<em>trickle down effect</em>“, membuat pertumbuhan-pertumbuhan dulu, baru hasil pertumbuhan tersebut dibagi-bagi supaya adil.</p>
<p>Konsep ini, kelihatannya sangat bagus, sistematis, dan menjanjikan. Tetapi, sebenarnya baik secara konsep maupun secara pengalaman terbukti menjadikan hasil yang semakin lama semakin tidak adil.</p>
<p>Adil, konkritnya apa? Jawabannya adalah bisa panjang lebar, tetapi saya punya model yang sederhana, tentunya namanya model tidak dapat mewakili secara utuh. Tetapi kira-kira adalah bahwa kue pembangunan yang dinikamti oleh masyarakat tidak boleh terlalu besar perbedaannya.</p>
<p>Atau dalam bahasa statistik variansinya tidak boleh besar. Tetapi, tidak mungkin dibuat sama dengan nol baik secara filosofi maupun secara praxis. Perbedaanlah yang membuat sistem menjadi hidup maupun secara proses. Pasti terjadi variansi.</p>
<p>Fakta membuktikan, Negara mana pun di dunia yang masyarakatnya dianggap lebih maju dari <span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> variansinya diusahakan kecil. Sebagai contoh gaji tertinggi dan gaji terendah perbandingannya maksimal sekitar 20 : 1, dan pajak kekayaan dan pajak keuntungan, semakin tinggi nilai kekayaan dan keuntungan. Pajaknya semakin besar. Bahkan di Negara-negara Skandinavia malah bisa mencapai 50%.</span></p>
<p><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;">? Sudah sangat jelas yang atas menyesuaikan sendiri “naik dengan pasti”, yang bawah yang sekedar menuntut UMR (Upah Minimum Regional) saja. Harus demo yang bertele-tele. Bahkan sampai ada yang berdarah-darah yang belum tentu berhasil.</span></p>
<p>Dengan didorong menuju variansi yang tidak besar maka hasil perasan tadi dipakai untuk membangun fasilitas umum, jaminan, pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok yang lain.</p>
<p>Baik skala dunia, maupun di Indonesia, ketimpangan semakin melebar, sekarang ini di tingkat dunia, di Indonesia tidak jauh berbeda, bahwa: 10% penduduk, menikmati sekitar 90% hasil pembangunan. 90% penduduk, hanya menikmati sekitar 10% hasil pembangunan.</p>
<p>Apa <em>sih</em> dampak dari ketidakadilan tersebut? Pertama, ternyata dengan variansi yang sangat lebar mendorong orang semakin terkonsentrasi pada materi yang dia terima. Bukan pada usaha meningkatkan prestasinya. Dan ini tidak hanya berlaku yang di bawah. Tetapi terjadi di semua level. Maka yang di bawah wajar menuntut tetapi yang di atas gajinya dibuat terus meningkat bisa sampai 250 juta per bulan.</p>
<p><em>Kenapa</em> ini bisa terjadi. Ya tadi, orang tidak bangga terhadap prestasi. Tetapi bangga dengan penampilan yang berorentasi selalu <em>pingin</em> naik dan naik terus, <em>pingin</em> seperti yang di atasnya. Kalau di Indonesia tidak ada, ya cari <em>benchmark penampilan</em> dari luar negeri. Tidak sadar negeri kita ini bukan Singapura, <span style="font-family:&quot;">Jepang</span><span style="font-family:&quot;">, </span><span style="font-family:&quot;">AS.</span><span style="font-family:&quot;"> Standar kita beda tetapi kalau <em>pingin</em> meniru kerja kerasnya, ya bagus, bahkan wajib.</span></p>
<p>Kedua, Kondisi yang timpang tersebut berdampak selain ketidakharmonisan di antara umat manusia dengan kerakusannya, berdampak pada kerusakan alam yang semakin parah, banjir di mana-mana, angin ribut, es kutub mencair, pemanasan global, pencemaran lingkungan, dll.. Inilah yang merupakan satu dari <span style="font-family:&quot;">lima</span><span style="font-family:&quot;"> ketakutan PBB yakni masalah kondisi lingkungan yang menurun.</span></p>
<p>Coba kita kaji solusi alternatifnya: Pertama, dari kelompok 90% kurang beruntung tadi, kita tingkatkan seperti yang 10% beruntung. Ini kelihatannya adil, tetapi selain susah, juga berpikir agak nakal, baru 10% penduduk yang menikmati saja, lingkungan sudah sangat parah, apalagi yang 90% penduduk, ikut-ikutan menikamati seperti yang yang 10% penduduk klas atas tersebut. Apa tidak kiamat?</p>
<p>Ilustrasinya, seandainya suatu kampung ada yang membangun sebuah kolam renang, sudah membuat kampung tersebut sering kekeringan, bisa dibayangkan, kalau yang lain juga membangun kolam renang?</p>
<p>Kedua, kue pembangunan yang dinikmati berlebih oleh kelompok orang yang 10% tadi diturunkan, yang hasil pengurangan tersebut baik lewat pajak, sistem penggajian, dll., dimanfaatkan untuk meningkatkan kelompok yang tidak beruntung, yang 90% penduduk tadi. Termasuk untuk meningkatkan fasilitas umum, pendidikan, kesehatan, dll..</p>
<p>Ini, kelihatannya bagus, tetapi masih belum menyelesaikan masalah lingkungan yang sudah parah; <em>kenapa</em>? Karena total tingkat konsumsinya adalah sama tahu tidak berkurang.</p>
<p>Ketiga, mirip seperti yang kedua, tetapi konsumsi diturunkan, agar lingkungan menjadi seimbang. Masalahnya apa? Ternyata niat kita, doa kita, tindakan kita, adalah seragam, yakni dalam rangka lebih kaya, lebih konsumtif, dengan beragam bentuknya, yang ujung-ujungnya ingin memperkosa alam. Berarti ada yang salah tentang konsep makmur karena kalau sudah benar maka alam pasti bersahabat dengan kita.</p>
<p>Makmur, itu binatang apa? Banyak konsep yang telah kita ketahui tetapi ternyata yang kita ikuti adalah konsep hedonisme. <em>Kenapa</em> ini bisa terjadi? Ternyata, pendidikan yang kita terima sampai di perguruan tinggi adalah diturunkan dari nilai-nilai semangat hedonisme, semangat duniawi, baik itu strategi pembangunan ekonomi, manajemen perusahaan, pemasaran, konsep kesejahteraan, dll..</p>
<p>Penjelasannya, bisa sangat panjang, tetapi ringkasnya sebagai contoh dalam strategi ekonomi, konsumsi didorong naik, agar perusahaan ada pasarnya. Dengan pasar naik maka perusahaan produksinya naik sehingga kesempatan kerja naik. Dengan demikian ada daya beli. Dengan daya beli naik maka konsumsi naik. Apa lama-lama daya dukung alam, masih mampu memenuhi keinginan manusia tersebut, yang makin lama, makin meningkat, akibatnya alam berontak.</p>
<p>Berarti, konsepnya salah. <em>Kenapa</em> salah. Sesuatu yang sudah benar kalau dilaksanakan alam semesta akan mendukung. Apa, yang dimaksud makmur yang sesungguhnya? Apa, bukannya kenikmatan batin atau kemakmuran jiwa?</p>
<p>Untuk menjawab ini tentunya dengan jiwa yang tenang. Tidak dengan nafsu. Pasti seragam menjawab “setuju”.</p>
<p>Bukannya tukang becak, banyak yang dapat merasakan kebahagiaan, sebaliknya banyak pejabat tinggi, pengusaha sukses, banyak yang tidak nikmat hidupnya? Ini semua untuk meyakinkan kepada kita, bukan materi yang membuat bahagia, tetapi rasa syukur kita, kepatuhan kita sebagai umat manusia dalam menjalankan perintah Tuhan.</p>
<p>Apakah, kita tidak perlu duniawi? Kita tidak akan bisa lepas dengan urusan duniawi, tetapi bukan menjadi tujuan. Tujuan kita adalah membangun kepatuhan jiwa terhadap tugas mulia dari Tuhan, dengan sarana dunia agar kehidupan kita bersama mendapatkan berkah.</p>
<p>Dengan demikian apapun yang kita lakukan, apa itu menata Negara, pembangunan, bermasyarakat, dll. dalam rangka membangun jiwa merdeka yang tunduk patuh kepada Tuhan. Kalau tidak, kesannya menyembah Tuhan, padahal sebenarnya menyembah makhluknya Tuhan, bisa berupa harta, tahta, termasuk tempat ibadah, termasuk agama itu sendiri, “seperti tulisan sebelumnya bahwa agama itu bukan Tuhan, hanya sebagai pedoman untuk sempurna di mata Tuhan”.</p>
<p>Sehingga semangat yang dibangun adalah tidak sekedar mencari nikmat tetapi mencari berkah; karena nikmat belum tentu berkah, tetapi kalau berkah pasti nikmat “secara batin”. Sebagai contoh, orang korupsi bisa-bisa merasa nikmat, namun tidak berkah. Tetapi, menolong orang yang kesusahan adalah berkah dan nikmat secara “batin”.</p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">Individualis Sekaligus Sosialis</span></strong></p>
<p>Kelihatannya aneh, tidak masuk akal, atau kontradiktif. Tetapi, kalau kita renungkan, bukannya hubungan kita, tanggung jawab kita kepada Tuhan, adalah tanggung jawab individu?</p>
<p><em>Kenapa</em> Bung Karno membuat istilah “<em>Berdikari”</em> berdiri di atas kaki sendiri, adalah suatu semangat jiwa yang tidak minta dikasihani, jiwa yang tidak tergantung, jiwa yang berusaha mengatasi permasalahan dengan segala kemampuannya; tetapi bukan berarti menolak bantuan, atau kerja sama, tetapi bantuan atau kerja sama yang tidak memasung kemandirian kita, bantuan atau kerja sama yang saling menguntungkan, dengan semangat saling menghargai.</p>
<p>Atau dengan kata lain, bantuan atau kerja sama, bukan menjadi tujuan, tetapi hanya sekedar sarana, dalam rangka untuk membuat tujuan agar lebih efektif dan efisien; dengan demikian, jangan sampai dengan adanya bantuan atau kerja sama, malah membuat tujuan menjadi melenceng atau terganggu.</p>
<p>Di sinilah adanya suatu semangat “tauhid murni” yakni hanya Tuhan yang Maha Esalah yang hanya layak digantungi, layak dimintai tolong, bukan kepada makhluk-makhluknya Tuhan, dengan beragam bentuknya. Tentunya sesama makhluk Tuhan adalah perlu dibangun semangat kerja sama yang saling menghargai.</p>
<p>Di mana letak sosialnya? Adalah pada semangat yang pada kewajiban kita sebagai makhluk sosial, dengan cara kita menikmati hak-hak kita secukupnya, maka kita akan mempunyai kekuatan untuk dapat membantu mengatasi permasalahan-permasalahan orang lain, yang secara struktural maupun kultural perlu untuk kita tolong.</p>
<p>Dengan demikian, dalam menyelesaikan kewajiban adalah dengan semangat dimulai dari kewajiban yang paling dekat atau yang paling mungkin dilakukan, baru semakin keluar dan seterusnya; dengan kita menjalani seperti ini otomatis dampaknya adalah kesalehan sosial. (baca:<a href="http://suarapembaca.detik.com/index.php/home.read/tahun/2007/bulan/10/tgl/08/time/132956/idnews/839348/idkanal/471" target="_blank"><span style="color:#0033cc;">Kesalehan Sosial</span></a>)</p>
<p><strong>Ratu Adil, Satrio Piningit</strong></p>
<p>Menunggu Satrio Piningit di luar diri kita, itu baik-baik saja, tetapi sebenarnya semangatnya, tugas tersebut adalah panggilan kita semua, dalam konteks dan skala Ratu Adil atau Satrio Piningit yang berbeda.</p>
<p>Coba, kalau kita renungkan, makna dari Satrio Piningit atau Ratu Adil <em>“Satrio pinandito, pandito sinatrio</em>“; adalah satrio yang menegakan keadilan, yang berlandaskan kehendak Tuhan atau kalau ulama, adalah ulama yang berjiwa satrio, berani menyampaikan dan bertindak yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, menurut kehendak Tuhan, bukan atas dasar “pesanan sponsor” kelompok/golongannya saja atau sang penguasa yang dholim.</p>
<p>Apakah ini, bukannya tugas semua manusia di dunia? Kalau saya meminjam istilah di Islam, tugas manusia adalah sebagai khalifah di dunia, wakil Tuhan di dunia, untuk “memayu hayuning bawono”; sebagai pemimpin untuk membuat alam semesta menjadi sejahtera; di sini jelas adalah untuk seluruh alam semesta, tidak hanya untuk kelompok atau golongan saja.</p>
<p>Memang, Indonesia, perlu dipimpin Satrio Pinandito, tetapi Indonesia, <em>kan</em> tidak hanya presiden saja, ya ada pedagang, Pak RT, Pak Guru, tukang ojek, dll. Di sinilah letak permasalahan! Yang membuat bangsa Indonesia tidak maju, atau Indonesia tidak berkembang, yakni kerjaannya hanya menunggu kedatangan dewa datang dari langit “Satrio Piningit”, yang tiba-tiba bisa mengubah dalam waktu sekejap Indonesia menjadi Adil dan Makmur; tanpa kita berusaha untuk andil menjadikan Indonesia menjadi Adil dan Makmur.</p>
<p>Sudahkah kita mulai berusaha? Biarlah yang lain belum berubah kita mulai dari diri kita sendiri dulu. Kita tidak perlu menunggu orang lain. Jangan-jangan yang terjadi hanya saling menunggu saja. Jadi tidak ada yang memulai. Maka tidak salah yang terjadi adalah hanya sekedar menunggu datangnya “Satrio Piningit” saja.</p>
<p>Tetapi, saya pribadi bukannya tidak percaya mujizat Tuhan “apa yang tidak mungkin menurut Tuhan”, tetapi ini Hak Mutlak Tuhan. Artinya bukan menjadi urusan kita. <strong><em>Selamat berjuang untuk </em></strong><strong><em><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&quot;"> menuju Adil dan Makmur.</span></em></strong><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p><em><span style="font-family:&quot;">Penulis : Ketua FKSM MPB(Forum Komunikasi Sosial Masyarakat Merah Putih Bersatu), Anggota Badan Musyawarah (Pendiri) Forum Aktivis </span></em><em><span style="font-family:&quot;">Bandung</span></em><em><span style="font-family:&quot;">(FAB)</span></em></p>
<p><strong>(www.forumaktivisbandung.com)</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budipraptono.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budipraptono.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budipraptono.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budipraptono.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budipraptono.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budipraptono.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budipraptono.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budipraptono.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budipraptono.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budipraptono.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budipraptono.wordpress.com&blog=4495415&post=110&subd=budipraptono&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budipraptono.wordpress.com/2008/09/25/reformasi-jilid-2-adalah-pengejawantahan-dari-jawaban-%e2%80%98revolusi-belum-selesai%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4175bdb4126c98fbe613a28d608577ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budipraptono</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>