<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Merah Putih Bersatu</title>
	<atom:link href="http://budipraptono.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budipraptono.wordpress.com</link>
	<description>Menuju Indonesia Menjadi Mercusuar Dunia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Sep 2009 08:31:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Budi Praptono by tamba p sirait</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/budi-praptono/#comment-146</link>
		<dc:creator>tamba p sirait</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 08:31:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?page_id=4#comment-146</guid>
		<description>semangat....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>semangat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Budi Praptono by atas_nama_ALLAH</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/budi-praptono/#comment-142</link>
		<dc:creator>atas_nama_ALLAH</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 17:50:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?page_id=4#comment-142</guid>
		<description>pak budi..sampaikanlah kepada siapa saja..yang penting uneg2 saya tersampaiakan...alhamdulillah terselesaikan..amin

bagaimana ne pak masalah bangsa ko bertubi-tubi terus..
saya bosan...sekarang masalah ambalat!!gimana ne..pemerintah ko nggak tegas!!capek liatnya..
ko ga ada wibawa sama sekali..TKI,TKW disiksa..kasus manohara saja karena dibantu kedubes Amerika,,macam mana ne...budaya kita diusik terus,,ada penjajahan terselubung ko ya santai saja to pemerintah ne...
saya ga habis pikir,,sungguh biadab satu negara serumpun itu..sama2 hampir seagama mayoritasnya, orang timur juga (harusnya pny etika),,sama2 Asia,,harusnya saling mendukung keberhasilan satu sama lain..
Menurut saya :
1. Pemerintah tu harus tegas pak..kalo memang harus perang ya perang..sekali kali di bikin takut gmn caranya..penduduk kita ini kan lebih banyak dari mereka..jihad dong!!
2. Malaysia memang selalu punya udang di balik rempeyek..
maunya ada aja..selalu gitu...ga tulus..pasti ada yang mau dirampas..macam orang mana malay ne..
Pdahal...menjajah itu dosa besar loh..karena merampas hak orang lain..apalagi pakai memaksa,fitnah,siasat terus,,picik...segeralah bantu saya pak menyampaikan ini
..
musti apa langkahnya...ambalat jangan sampai lepas!!please...kesejahteraan TNI yang menjaga dinaikkan apa gmn?yang penting aman negara ini!!kerjasama yang katanya antara Indo MAlay mending dibubarin (patroli bersama untuk ambalat itu lo pak)..soalnya ya emang kayana cuma basa-basi(kata seorang sumber juga di malang: M. Najib Salim Barack Atamimi)...tetap kita di kuntit..penjajah kan gitu dulu pak..logikanya...bermain api dalam air..haha..kasus David di singapore juga gmn pak???tu anak kan aset bangsa awalnya kalo dijaga betul...makasi..saya sangat marah....tolong bantu saya...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak budi..sampaikanlah kepada siapa saja..yang penting uneg2 saya tersampaiakan&#8230;alhamdulillah terselesaikan..amin</p>
<p>bagaimana ne pak masalah bangsa ko bertubi-tubi terus..<br />
saya bosan&#8230;sekarang masalah ambalat!!gimana ne..pemerintah ko nggak tegas!!capek liatnya..<br />
ko ga ada wibawa sama sekali..TKI,TKW disiksa..kasus manohara saja karena dibantu kedubes Amerika,,macam mana ne&#8230;budaya kita diusik terus,,ada penjajahan terselubung ko ya santai saja to pemerintah ne&#8230;<br />
saya ga habis pikir,,sungguh biadab satu negara serumpun itu..sama2 hampir seagama mayoritasnya, orang timur juga (harusnya pny etika),,sama2 Asia,,harusnya saling mendukung keberhasilan satu sama lain..<br />
Menurut saya :<br />
1. Pemerintah tu harus tegas pak..kalo memang harus perang ya perang..sekali kali di bikin takut gmn caranya..penduduk kita ini kan lebih banyak dari mereka..jihad dong!!<br />
2. Malaysia memang selalu punya udang di balik rempeyek..<br />
maunya ada aja..selalu gitu&#8230;ga tulus..pasti ada yang mau dirampas..macam orang mana malay ne..<br />
Pdahal&#8230;menjajah itu dosa besar loh..karena merampas hak orang lain..apalagi pakai memaksa,fitnah,siasat terus,,picik&#8230;segeralah bantu saya pak menyampaikan ini<br />
..<br />
musti apa langkahnya&#8230;ambalat jangan sampai lepas!!please&#8230;kesejahteraan TNI yang menjaga dinaikkan apa gmn?yang penting aman negara ini!!kerjasama yang katanya antara Indo MAlay mending dibubarin (patroli bersama untuk ambalat itu lo pak)..soalnya ya emang kayana cuma basa-basi(kata seorang sumber juga di malang: M. Najib Salim Barack Atamimi)&#8230;tetap kita di kuntit..penjajah kan gitu dulu pak..logikanya&#8230;bermain api dalam air..haha..kasus David di singapore juga gmn pak???tu anak kan aset bangsa awalnya kalo dijaga betul&#8230;makasi..saya sangat marah&#8230;.tolong bantu saya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO” by MR. J</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-139</link>
		<dc:creator>MR. J</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 09:56:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-139</guid>
		<description>revolusi biasanya dikaitkan dengan perkataan komunisme&#039; gimana pendapat itu?

apakah revolusi harus selesai?

Bagaimana kl kata revolusi diganti dengan perubahan?
 
mungkin kata ini lebih cocok... untuk judul yang idatas</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>revolusi biasanya dikaitkan dengan perkataan komunisme&#8217; gimana pendapat itu?</p>
<p>apakah revolusi harus selesai?</p>
<p>Bagaimana kl kata revolusi diganti dengan perubahan?</p>
<p>mungkin kata ini lebih cocok&#8230; untuk judul yang idatas</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Yang Terungkap DalamDialog Bersama “Kembalikan Indonesiaku..Titik!” by Kharisman Laia</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2009/03/11/yang-terungkap-dalamdialog-bersama-%e2%80%9ckembalikan-indonesiakutitik%e2%80%9d/#comment-137</link>
		<dc:creator>Kharisman Laia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 14:57:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=263#comment-137</guid>
		<description>SPRITUAL....

Satu kata yang sangat sederhana, namun sangat sulit melakukannya dalam menjaga kekonsistenan...


Menurutku benar, spiritual merupakan yang harus dimiliki sesesorang terlebih dahulu sebelum melakukan perkara-perkara yang besar di dalam kehidupannya...Disaat kita memilikinya meskipun kita tidak memiliki apa-apa termasuk materi, kita dapat menciptakan &quot;sesuatu&quot; dan perubahan yang besar yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Dengan spiritual, kita DAPAT mengembalikan Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berBhineka Tunggal Ika serta yang paling utama berKetuhanan Yang Maha Esa. Tentunya hal-hal itu harus  dimulai dari kita sendiri.

Semangat “beda agama tetapi satu iman”, kata Pak Budi Praptono...Itulah yang harus dimiliki oleh bangsa ini. kita boleh saja berbeda agama, namun kita harus tetap menjaga kekonsistenan dalam menjalankannya. Jangan ada saling menjatuhkan, menghina dan menghasut.

Saat ini di Indonesia, agama menjadi salah satu yang acuan  untuk menjadi kambing hitam antara satu kelompok dengan kelompok lain, dan menjadi suatu pertimbangan dalam  mencari pekerjaan. 
--&gt; Saya ambil contoh di Sulawesi, dimana ada suatu kelompok dengan kelompok lain yang masalah awalnya adalah &quot;politik&quot;, namun untuk dapat mengkambing hitamkan masyarakat, mereka menggunakan agama untuk menjadi pemicu perkara yang besar....
--&gt; Selain itu, banyak tempat kerja dan perusahaan-perusahaan yang lebih &quot;memprioritaskan&quot; suatu agama ketimbang skill  dan kebutuhan perusahaan tersebut dalam menggaet/merekrut karyawan..

Kedua kasus itu sangat umum bagi kita, dan itu merupakan wacana yang wajar, jika kita mendengarnya...APAKAH INI YANG HARUS KITA PERTAHANKAN...untuk anak cucu kita kedepannya...???


Inikah cara kita mempertahankan NKRI kita, dengan pemahaman dan keegoisan yang kita miliki yang hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok-kelompok tertentu...??? Sudah cukuplah Timor-timor minggat dari rumah(Indonesia) kita. Dan jangan ada lagi timor-timor  lain yang minggat dari rumah kita. Kita harus pertahankan rumah(Indonesia) kita, meskipun yang kita lihat dan rasakan sangat pahit dan menyusahkan bagi kehidupan kita...NAMUN INILAH RUMAH KITA....

Kita harus bebenah dari diri kita sendiri terlebih dahulu, dari keluarga, sekolah, perkulian (studi), dan kemudian untuk pemerintah dan bangsa. Marilah kita selalu saling mengasihi satu sama lain  dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. hanya itulah yang dapat menguatkan kita dalam keluarga Indonesia.

Semangat...Indonesiaku !!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SPRITUAL&#8230;.</p>
<p>Satu kata yang sangat sederhana, namun sangat sulit melakukannya dalam menjaga kekonsistenan&#8230;</p>
<p>Menurutku benar, spiritual merupakan yang harus dimiliki sesesorang terlebih dahulu sebelum melakukan perkara-perkara yang besar di dalam kehidupannya&#8230;Disaat kita memilikinya meskipun kita tidak memiliki apa-apa termasuk materi, kita dapat menciptakan &#8220;sesuatu&#8221; dan perubahan yang besar yang terjadi di dalam kehidupan kita.</p>
<p>Dengan spiritual, kita DAPAT mengembalikan Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berBhineka Tunggal Ika serta yang paling utama berKetuhanan Yang Maha Esa. Tentunya hal-hal itu harus  dimulai dari kita sendiri.</p>
<p>Semangat “beda agama tetapi satu iman”, kata Pak Budi Praptono&#8230;Itulah yang harus dimiliki oleh bangsa ini. kita boleh saja berbeda agama, namun kita harus tetap menjaga kekonsistenan dalam menjalankannya. Jangan ada saling menjatuhkan, menghina dan menghasut.</p>
<p>Saat ini di Indonesia, agama menjadi salah satu yang acuan  untuk menjadi kambing hitam antara satu kelompok dengan kelompok lain, dan menjadi suatu pertimbangan dalam  mencari pekerjaan.<br />
&#8211;&gt; Saya ambil contoh di Sulawesi, dimana ada suatu kelompok dengan kelompok lain yang masalah awalnya adalah &#8220;politik&#8221;, namun untuk dapat mengkambing hitamkan masyarakat, mereka menggunakan agama untuk menjadi pemicu perkara yang besar&#8230;.<br />
&#8211;&gt; Selain itu, banyak tempat kerja dan perusahaan-perusahaan yang lebih &#8220;memprioritaskan&#8221; suatu agama ketimbang skill  dan kebutuhan perusahaan tersebut dalam menggaet/merekrut karyawan..</p>
<p>Kedua kasus itu sangat umum bagi kita, dan itu merupakan wacana yang wajar, jika kita mendengarnya&#8230;APAKAH INI YANG HARUS KITA PERTAHANKAN&#8230;untuk anak cucu kita kedepannya&#8230;???</p>
<p>Inikah cara kita mempertahankan NKRI kita, dengan pemahaman dan keegoisan yang kita miliki yang hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok-kelompok tertentu&#8230;??? Sudah cukuplah Timor-timor minggat dari rumah(Indonesia) kita. Dan jangan ada lagi timor-timor  lain yang minggat dari rumah kita. Kita harus pertahankan rumah(Indonesia) kita, meskipun yang kita lihat dan rasakan sangat pahit dan menyusahkan bagi kehidupan kita&#8230;NAMUN INILAH RUMAH KITA&#8230;.</p>
<p>Kita harus bebenah dari diri kita sendiri terlebih dahulu, dari keluarga, sekolah, perkulian (studi), dan kemudian untuk pemerintah dan bangsa. Marilah kita selalu saling mengasihi satu sama lain  dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. hanya itulah yang dapat menguatkan kita dalam keluarga Indonesia.</p>
<p>Semangat&#8230;Indonesiaku !!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Indonesia “Nusantara”  Pemimpin Peradaban Baru Dunia! by Kharisman Laia</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2009/04/10/indonesia-%e2%80%9cnusantara%e2%80%9d-pemimpin-peradaban-baru-dunia/#comment-136</link>
		<dc:creator>Kharisman Laia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 14:16:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/2009/04/10/indonesia-%e2%80%9cnusantara%e2%80%9d-pemimpin-peradaban-baru-dunia/#comment-136</guid>
		<description>“Indonesia “Nusantara” Pemimpin Peradaban Baru Dunia!”

Why not...???

     Indonesia bisa menjadi peradaban di dunia, meskipun banyak orang menganggap hal itu tidak akan mungkin terjadi dan &quot;tidak akan terjadi&quot;.
     Kalau Indonesia menjadi peradaban dunia dengan konteks dari segi perekonomian, pertahanan keamanan dan politik...itu sangat sulit bagi Indonesia...Namun untuk konteks kebudayaan dan agama,mungkin Indonesia tidak bisa lagi ter-elakkan menjadi peradaban dunia. Indonesia di mata dunia merupakan negara yang konsisten terhadap Pancasila dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memiliki nilai-nilai dalam keTuhanan di setiap masyarakat Indonesia...
    Meskipun  negara kita sangat sulit untuk menjadi no.1 di dunia dan menjadi perhatian dunia, namun kita sebagai warga negara Indonesia tidak boleh menyerah begitu saja... kita masih bisa memberikan yang &quot;TERBAIK&quot; bagi bangsa kita. Bukankah itu sangat berarti untuk kelangsungan Indonesia, dengan kita bangga sebagai warga negaranya...itu sudah cukup membuktikan bahwa kita cinta pada bangsa ini...
    Kita tidak boleh lupa, &quot;apa yang dapat kita berikan pada bangsa dan negara ini???&quot;, Indonesia di tahun yang akan datang, hanya ada di dalam tangan kita(rakyat)...mau kemana Indonesia akan dibawa itu adalah keputusan kita(rakyat Indonesia). Kita harus tetap memegang amanah para pahlawan yang terdahulu. 
    Jangan MAU...negara kita dijual kepada negara-negara lain...Karena sekarang ini banyak para pemimpin lupa akan bangsa dan tanah airnya...Aset-aset negara dijual untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Oleh karena itu kita harus tanamkan nilai &quot;KEBANGGAAN&quot; pada diri kita, anak-anak kita, orang yang terdekat kita agar Indonesia tetap menjadi harapan dan impian kita bersama menuju peradaban dunia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>“Indonesia “Nusantara” Pemimpin Peradaban Baru Dunia!”</p>
<p>Why not&#8230;???</p>
<p>     Indonesia bisa menjadi peradaban di dunia, meskipun banyak orang menganggap hal itu tidak akan mungkin terjadi dan &#8220;tidak akan terjadi&#8221;.<br />
     Kalau Indonesia menjadi peradaban dunia dengan konteks dari segi perekonomian, pertahanan keamanan dan politik&#8230;itu sangat sulit bagi Indonesia&#8230;Namun untuk konteks kebudayaan dan agama,mungkin Indonesia tidak bisa lagi ter-elakkan menjadi peradaban dunia. Indonesia di mata dunia merupakan negara yang konsisten terhadap Pancasila dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memiliki nilai-nilai dalam keTuhanan di setiap masyarakat Indonesia&#8230;<br />
    Meskipun  negara kita sangat sulit untuk menjadi no.1 di dunia dan menjadi perhatian dunia, namun kita sebagai warga negara Indonesia tidak boleh menyerah begitu saja&#8230; kita masih bisa memberikan yang &#8220;TERBAIK&#8221; bagi bangsa kita. Bukankah itu sangat berarti untuk kelangsungan Indonesia, dengan kita bangga sebagai warga negaranya&#8230;itu sudah cukup membuktikan bahwa kita cinta pada bangsa ini&#8230;<br />
    Kita tidak boleh lupa, &#8220;apa yang dapat kita berikan pada bangsa dan negara ini???&#8221;, Indonesia di tahun yang akan datang, hanya ada di dalam tangan kita(rakyat)&#8230;mau kemana Indonesia akan dibawa itu adalah keputusan kita(rakyat Indonesia). Kita harus tetap memegang amanah para pahlawan yang terdahulu.<br />
    Jangan MAU&#8230;negara kita dijual kepada negara-negara lain&#8230;Karena sekarang ini banyak para pemimpin lupa akan bangsa dan tanah airnya&#8230;Aset-aset negara dijual untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Oleh karena itu kita harus tanamkan nilai &#8220;KEBANGGAAN&#8221; pada diri kita, anak-anak kita, orang yang terdekat kita agar Indonesia tetap menjadi harapan dan impian kita bersama menuju peradaban dunia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO” by Luthfi Arkanuddin (111070175)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-135</link>
		<dc:creator>Luthfi Arkanuddin (111070175)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:59:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-135</guid>
		<description>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).<br />
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.<br />
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.<br />
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?<br />
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO” by Luthfi Arkanuddin (111070192)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-134</link>
		<dc:creator>Luthfi Arkanuddin (111070192)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:54:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-134</guid>
		<description>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.
Cukup sekian apa yang ingin saya sampaikan dalam menanggapi tulisan Bapak dalam artikel tersebut, seperti yang saya paparkan di awal bahwa saya bukanlah individu yang tertarik dengan hal-hal seperti ini jadi saya mohon maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang telah ada pada tulisan diatas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).<br />
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.<br />
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.<br />
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?<br />
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.<br />
Cukup sekian apa yang ingin saya sampaikan dalam menanggapi tulisan Bapak dalam artikel tersebut, seperti yang saya paparkan di awal bahwa saya bukanlah individu yang tertarik dengan hal-hal seperti ini jadi saya mohon maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang telah ada pada tulisan diatas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO” by Yoseph Syafaat S (111070142)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-133</link>
		<dc:creator>Yoseph Syafaat S (111070142)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:47:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-133</guid>
		<description>Sejarah memang mencatat bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan negara asing yang lama pada tanggal 17 Agustus 1945 baik  secara de yure maupun secara de facto. Indonesia mendapat pengakuan dari negara lain atas   kemerdekaan bangsa ini. Selain itu, diakui bahwa pejuang para pahlawan   kita yang memang menjadi modal bangsa ini mencapai  kebebasannya.
Seriring berjalannya waktu, ternyata bukan  kemerdekaan negara ini saja yang perlu diperjuangkan.  kita ternyata masih dijajah oleh penjajah jiwa. Sebaga makhluk  ciptaan Tuhan,  seharusnya  kita bertanggungjawab dan berbuat  karena  kemauan sang Pencipta.
Jiwa yang sudah terjajah oleh faktor lain di luar Tuhan menghalangi  kita untuk  memperoleh  kemerdeaan sesungguhnya. Di dunia  kita diberi  kesempatan untuk  hidup oleh Tuhan dengan tanpa membawa apa-apa. Muncul di dunia fana ini tanpa merasa memiliki apa-apa. Diri, tubuh, pikiran, dan sebagainya sesungguhnya semuanya berasal dari Yang Maha Pencipta.
K ebebasan yang dimaksud adalah bagaimana jiwa ini dipaksakan untuk  tunduk   kepada sang Pencipta. Segala bentuk  penjajah asing di jiwa  kita harus diusir jauh-jauh agar Yang  Kuasa menguasai ruang jiwa  kita secara total.
Pembangunan nasional baiknya didasari oleh jiwa yang sudah dibentukk   dan dimerdekakan dengan penuh  keyakinan  kepada Tuhan YME. Tentu  keyakinan itu sendiri harus menunggu  keputusan (dekrit) dan  kehendak  Tuhan.
Yang menjadi masalah saat ini adalah segala sesuatu adalah Cuma-Cuma (anugerah) dari Tuhan. Segala sesuatu seturut k ehenda Nya boleh ada (diberi) boleh tidak  ada (tida  diberi).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah memang mencatat bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan negara asing yang lama pada tanggal 17 Agustus 1945 baik  secara de yure maupun secara de facto. Indonesia mendapat pengakuan dari negara lain atas   kemerdekaan bangsa ini. Selain itu, diakui bahwa pejuang para pahlawan   kita yang memang menjadi modal bangsa ini mencapai  kebebasannya.<br />
Seriring berjalannya waktu, ternyata bukan  kemerdekaan negara ini saja yang perlu diperjuangkan.  kita ternyata masih dijajah oleh penjajah jiwa. Sebaga makhluk  ciptaan Tuhan,  seharusnya  kita bertanggungjawab dan berbuat  karena  kemauan sang Pencipta.<br />
Jiwa yang sudah terjajah oleh faktor lain di luar Tuhan menghalangi  kita untuk  memperoleh  kemerdeaan sesungguhnya. Di dunia  kita diberi  kesempatan untuk  hidup oleh Tuhan dengan tanpa membawa apa-apa. Muncul di dunia fana ini tanpa merasa memiliki apa-apa. Diri, tubuh, pikiran, dan sebagainya sesungguhnya semuanya berasal dari Yang Maha Pencipta.<br />
K ebebasan yang dimaksud adalah bagaimana jiwa ini dipaksakan untuk  tunduk   kepada sang Pencipta. Segala bentuk  penjajah asing di jiwa  kita harus diusir jauh-jauh agar Yang  Kuasa menguasai ruang jiwa  kita secara total.<br />
Pembangunan nasional baiknya didasari oleh jiwa yang sudah dibentukk   dan dimerdekakan dengan penuh  keyakinan  kepada Tuhan YME. Tentu  keyakinan itu sendiri harus menunggu  keputusan (dekrit) dan  kehendak  Tuhan.<br />
Yang menjadi masalah saat ini adalah segala sesuatu adalah Cuma-Cuma (anugerah) dari Tuhan. Segala sesuatu seturut k ehenda Nya boleh ada (diberi) boleh tidak  ada (tida  diberi).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO” by Ahmad Ardaning (111070143)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-132</link>
		<dc:creator>Ahmad Ardaning (111070143)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:39:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-132</guid>
		<description>Bertepatan dengan adanya Pemilu legislative yang baru saja diselenggarakan oleh Pemerintah  Republik Indonesia, yang merupakan pesta demokrasi terbesar di Negara ini, ada beberapa hal yang cukup menarik apabila dikaitkan dengan tulisan yang bapak buat. Kita tau bahwa kita sebagai penerus para pejuang revolusi Indonesia patut bangga karena untuk sekian kalinya Bangsa kita ini berhasil melakukan acara besar seperti ini. Tapi seperti kita ketahui bersama bahwa banyak sekali timbul masalah baik sebelum, setelah, maupun pada saat pemilu berlangsung. Dari sebelum pemilu, banyak kita lihat para caleg berlomba – lomba menghamburkan uang dan harta mereka untuk mencari simpati masyarakat. Berusaha untuk menjadikan diri mereka terkenal se-terkenal mungkin. Banyak anggapan yang terpilih adalah caleg yang terkenal, bukannya caleg yang memang benar – benar mumpuni. Lalu dimanakah letak revolusi jiwa yang mereka lakukan?? Apa yang mereka cari sebenarnya dari semua ini?? Diri mereka seperti memaksakan kepada tuhan untuk menjadikan apa yang mereka lakukan!
Masalah juga muncul pada saat pemilu berlangsung, dimana banyak sekali hal – hal yang tidak sepantasnya terjadi. Yang paling utama adalah subjek dari pemilu itu sendiri, yaitu seluruh rakyat Bangsa Indonesia. Berapa persen penduduk yang sudah memenuhi kewajibannya?? Kenapa banyak suara – suara terbuang akibat tidak terdaftarnya ataupun akibat masalah logisik?? Bagaimana kami bias merevolusi jiwa – jiwa kami apabila untuk memilih saja tidak bias?? Apakah hal –hal ganjil ini terjadi akibat ketidak mampuan sebagai manusia atau akibat ulah para jiwa yang kotor??
Setelah pemilu berlangsung, masalah yang timbul tidaklah berhenti. Banyak caleg – caleg stress bermunculnya akibat keinginan jiwa mereka untuk memenangkan pemilu tercapai. Bahkan ada beberapa orang yang meninggal dunia karena tidak kuat menerima kenyataan yang ada. Mereka hanya memaksa Tuhan untuk membuat mereka menang, dan tidak siap apabila Tuhan berkehendak lain dengan memberikan mereka kekalahan. Padahal Tuhanlah Sang Maha Pengatur. Apakah mereka pantas walaupun hanya untuk menyandang status sebagai caleg??
Kemudian, apakah sesungguhnya makna dari revolusi jiwa di dalam pemilu ini?? Apakah pemilu memang diperlukan sebagai bagian dari langkah revolusi yang belum selesai ini?? Kenapa kok Bangsa Indonesia seperti nasibnya tergantung pada pemilu ini, bukan bergantung pada kehendak Tuhan yang Maha Kuasa??
Sekian beberapa hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan tulisan bapak dan keadaan yang ada pada saat ini. Tanpa mengurangi hormat saya kepada bapak, saya mohon maaf atas segala kekurangannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bertepatan dengan adanya Pemilu legislative yang baru saja diselenggarakan oleh Pemerintah  Republik Indonesia, yang merupakan pesta demokrasi terbesar di Negara ini, ada beberapa hal yang cukup menarik apabila dikaitkan dengan tulisan yang bapak buat. Kita tau bahwa kita sebagai penerus para pejuang revolusi Indonesia patut bangga karena untuk sekian kalinya Bangsa kita ini berhasil melakukan acara besar seperti ini. Tapi seperti kita ketahui bersama bahwa banyak sekali timbul masalah baik sebelum, setelah, maupun pada saat pemilu berlangsung. Dari sebelum pemilu, banyak kita lihat para caleg berlomba – lomba menghamburkan uang dan harta mereka untuk mencari simpati masyarakat. Berusaha untuk menjadikan diri mereka terkenal se-terkenal mungkin. Banyak anggapan yang terpilih adalah caleg yang terkenal, bukannya caleg yang memang benar – benar mumpuni. Lalu dimanakah letak revolusi jiwa yang mereka lakukan?? Apa yang mereka cari sebenarnya dari semua ini?? Diri mereka seperti memaksakan kepada tuhan untuk menjadikan apa yang mereka lakukan!<br />
Masalah juga muncul pada saat pemilu berlangsung, dimana banyak sekali hal – hal yang tidak sepantasnya terjadi. Yang paling utama adalah subjek dari pemilu itu sendiri, yaitu seluruh rakyat Bangsa Indonesia. Berapa persen penduduk yang sudah memenuhi kewajibannya?? Kenapa banyak suara – suara terbuang akibat tidak terdaftarnya ataupun akibat masalah logisik?? Bagaimana kami bias merevolusi jiwa – jiwa kami apabila untuk memilih saja tidak bias?? Apakah hal –hal ganjil ini terjadi akibat ketidak mampuan sebagai manusia atau akibat ulah para jiwa yang kotor??<br />
Setelah pemilu berlangsung, masalah yang timbul tidaklah berhenti. Banyak caleg – caleg stress bermunculnya akibat keinginan jiwa mereka untuk memenangkan pemilu tercapai. Bahkan ada beberapa orang yang meninggal dunia karena tidak kuat menerima kenyataan yang ada. Mereka hanya memaksa Tuhan untuk membuat mereka menang, dan tidak siap apabila Tuhan berkehendak lain dengan memberikan mereka kekalahan. Padahal Tuhanlah Sang Maha Pengatur. Apakah mereka pantas walaupun hanya untuk menyandang status sebagai caleg??<br />
Kemudian, apakah sesungguhnya makna dari revolusi jiwa di dalam pemilu ini?? Apakah pemilu memang diperlukan sebagai bagian dari langkah revolusi yang belum selesai ini?? Kenapa kok Bangsa Indonesia seperti nasibnya tergantung pada pemilu ini, bukan bergantung pada kehendak Tuhan yang Maha Kuasa??<br />
Sekian beberapa hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan tulisan bapak dan keadaan yang ada pada saat ini. Tanpa mengurangi hormat saya kepada bapak, saya mohon maaf atas segala kekurangannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO” by Dhuhanisfu Syaibana (111070192)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-131</link>
		<dc:creator>Dhuhanisfu Syaibana (111070192)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:36:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-131</guid>
		<description>Menanggapi artikel yang telah bapak tulis dengan judul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’”. Saya sangat setuju dengan beberapa poin pada artikel tersebut dan ada juga poin-poin yang saya takut salah menerjemahkan. Poin-poin tersebut akan saya paparkan dibawah ini.
Pada bagian “Urusan Dunia atau Kesalehan Sosial” bapak hanya memaparkan sebuah kondisi yang sedang terjadi dan kondisi yang Bapak harapkan. Sangat disayangkan mengapa Bapak tidak membahas bagaimana cara mencapai kondisi yang Bapak harapkan karena bagian yang sangat penting dalam mencapai suatu kondisi yang diinginkan adalah proses pencapaian kondisi tersebut, agar pembaca mengerti apa yang penulis inginkan dan mengerti apa yang akan dilakukan setalah membaca tulisan si penulis. Memang sekarang hokum dibuat secara terperinci dan makin teknis atau operasional tapi menurut saya itu dikarenakan perkembangan zaman dan kebutuhan akan perhatian untuk hal-hal yang lebih detail.
“Akan Lahir Pemimpin Hebat”, dalam bagian ini dijelaskan bahwa pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau sebutan lainnya tidaklah hebat. Padahal kata ‘hebat’ disini bisa diinterpretasikan kedalam banyak makna. Saya ambil contoh seperti Hitler, dia adalah sosok yang sangat di hormati oleh yang dipimpinnya dan dia juga hebat. Jadi menurut saya otoriter, diktator,  atau sebutan lainnya sangat memungkinkan menimbulkan hal-hal yang positif.
Dalam poin “Ratu Adil, Satrio Piningit”, saya sangat setuju agar setiap elemen berusaha untuk merubah dirinya kedalam pribadi yang dapat membawa hal-hal positif kedalam kehidupan kesehariannya. Karena memang hal-hal positif tersebut tidak akan muncul begitu saja dari seseorang yang di tunggu-tunggu kehadirannya dalam kehidupan ini. Jadi sebagai individu yang peduli dengan lingkungan keseharian maka semua individu harus merubah dirnya ke arah yang lebih baik atau positif.
Terkahir pada poin “Bhineka Tunggal Ika dengan Dasar Pancasila” dipaparkan bahwa memaksakan kehendak sudah tentu melawan kehendak-Nya. Menurut saya memaksakan kehendak belum tentu melawan kehendak tuhan. Karena disini tidak dijelaskan contoh jelasnya tentang kasus ini jadi saya takut salah menginterpretasikan hal tersebut. Yang saya tangkap disini adalah memaksakan kehendak sesama manusia bisa menimbulkan hal yang positif bilamana pihak yang memaksakan kehendak tersebut lebih tahu dan lebih mengerti apa yang dia paksakan.
Sekian beberapa pendapat yang sempat muncul disaat membaca artikel hasil pemikiran Bapak. Saya sadar apa yang telah saya sampaikan diatas masih memiliki beberapa kekurangan, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menanggapi artikel yang telah bapak tulis dengan judul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’”. Saya sangat setuju dengan beberapa poin pada artikel tersebut dan ada juga poin-poin yang saya takut salah menerjemahkan. Poin-poin tersebut akan saya paparkan dibawah ini.<br />
Pada bagian “Urusan Dunia atau Kesalehan Sosial” bapak hanya memaparkan sebuah kondisi yang sedang terjadi dan kondisi yang Bapak harapkan. Sangat disayangkan mengapa Bapak tidak membahas bagaimana cara mencapai kondisi yang Bapak harapkan karena bagian yang sangat penting dalam mencapai suatu kondisi yang diinginkan adalah proses pencapaian kondisi tersebut, agar pembaca mengerti apa yang penulis inginkan dan mengerti apa yang akan dilakukan setalah membaca tulisan si penulis. Memang sekarang hokum dibuat secara terperinci dan makin teknis atau operasional tapi menurut saya itu dikarenakan perkembangan zaman dan kebutuhan akan perhatian untuk hal-hal yang lebih detail.<br />
“Akan Lahir Pemimpin Hebat”, dalam bagian ini dijelaskan bahwa pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau sebutan lainnya tidaklah hebat. Padahal kata ‘hebat’ disini bisa diinterpretasikan kedalam banyak makna. Saya ambil contoh seperti Hitler, dia adalah sosok yang sangat di hormati oleh yang dipimpinnya dan dia juga hebat. Jadi menurut saya otoriter, diktator,  atau sebutan lainnya sangat memungkinkan menimbulkan hal-hal yang positif.<br />
Dalam poin “Ratu Adil, Satrio Piningit”, saya sangat setuju agar setiap elemen berusaha untuk merubah dirinya kedalam pribadi yang dapat membawa hal-hal positif kedalam kehidupan kesehariannya. Karena memang hal-hal positif tersebut tidak akan muncul begitu saja dari seseorang yang di tunggu-tunggu kehadirannya dalam kehidupan ini. Jadi sebagai individu yang peduli dengan lingkungan keseharian maka semua individu harus merubah dirnya ke arah yang lebih baik atau positif.<br />
Terkahir pada poin “Bhineka Tunggal Ika dengan Dasar Pancasila” dipaparkan bahwa memaksakan kehendak sudah tentu melawan kehendak-Nya. Menurut saya memaksakan kehendak belum tentu melawan kehendak tuhan. Karena disini tidak dijelaskan contoh jelasnya tentang kasus ini jadi saya takut salah menginterpretasikan hal tersebut. Yang saya tangkap disini adalah memaksakan kehendak sesama manusia bisa menimbulkan hal yang positif bilamana pihak yang memaksakan kehendak tersebut lebih tahu dan lebih mengerti apa yang dia paksakan.<br />
Sekian beberapa pendapat yang sempat muncul disaat membaca artikel hasil pemikiran Bapak. Saya sadar apa yang telah saya sampaikan diatas masih memiliki beberapa kekurangan, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
