Suaramerdeka.com: Menumbuhkan Percaya Diri Menuju INP2BD

Logo INP2BD

Inferioritas ini dikarenakan bangsa Indonesia telah kehilangan nilai-nilai luhurnya.

Demikian yang terungkap dalam dalam diskusi dan bedah buku bertema “Menumbuhkan Percaya diri Menuju Indonesia (Nusantara) Menjadi Pemimpin Peradaban Baru Dunia (INP2BD)” karya Budi Praptono di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Barat Jabar Jl. Soekarno-Hatta 629 Bandung, Sabtu (4/7/09) Hasil kerjasama Asosiasi Perpustakaan Desa dan Kelurahan (APDK) Jawa Barat,Padajaya Publishing dan BAPUSIPDA Jabar.

Hadir sebagai nara sumber dalam acara tersebut yaitu Budi Praptono, Moivator Penggagas INP2BD, sekaligus penulis buku Indonesia (Nusantara) Pemimpin Peradaban Baru Dunia-Membangun Peradaban Bangsa dari Kacamata Cucu Dalang, Agus Hanafi (Ketua DPP Sahaya Yoga Indonesia dan Ketua LSM Kekar Merah Putih, Dipandu Moderator Asep Rohmandar Sekretaris APDK Provinsi Jabar, acara juga dimeriahkan oleh suguhan Musik “Akustik Kebangsaan” Alvabet Band.

Semangat Revolusi Jiwa

Pada kesempatan tersebut, Budi Praptono, mengingatkan pesan Bung Karno “Revolusi Belum Selesai”. Ia menjelaskan setelah revolusi fisik tahun 1945 sebenarnya bangsa Indonesia masih mempunyai perjuangan yang besar yaitu Revolusi Jiwa. Kita diajak untuk menjadi jiwa-jiwa yang merdeka yaitu jiwa yang mandiri yang tidak bergantung kepada kekuatan asing tetapi lebih bergantung kepada kemampuan sendiri dan tentu kepada Tuhan YME.

Menurutnya, ironis memang kalau menyaksikan bangsa Indonesia yang hanya menjadi bangsa yang inferior, bangsa yang minder yang tidak percaya pada kemampuan sendiri sehingga mudah dipengaruhi orang lain. Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia telah kehilangan nilai-nilai luhurnya. Ajaran tentang kejujuran, hidup apa adanya, toleransi dan lain-lain telah menjadi barang langka bagi bangsa ini. Yang ada, marak terjadi keserakahan, kerakusan ditandai dengan perilaku korupsi dengan segala macam bentuknya, demikian papar Budi Prap.

Masih menurut Budi, kata ikhlas pun agaknya sangat jarang kita temui di negeri ini. Kita masih menghitung untung rugi seperti pada teori orang dagang. Ketika melihat keberhasilan orang lain kita sering tidak ikhlas untuk memberikan apresiasi yang ada adalah kompromi dari pada dibilang orang yang tidak toleransi.

Menyinggung masalah sosialisme, Budi kembali menegaskan bahwa ada pandangan keliru ketika orang bicara sosialisme. Sosialisme sering disamakan dengan komunisme. Padahal kalau kita jujur sosialisme adalah mutiara dari setiap ajaran agama. Artinya omong kosong orang beragama dengan baik bila tidak mempunyai jiwa sosial. Sedangkan ketika membahas kata Adil, Budi menerangkan dari pendekatan ilmu statistik. Menurutnya adil bisa tercapai apabila variansi antara orang kaya dengan orang miskin kecil. Ia menjelaskan maksud dan tujuan diterbitkannya buku Indonesia (Nusantara) Pemimpin Peradaban Baru Dunia adalah dalam rangka membangun bangsa yang mandiri dan mempunyai kebernian berekspresi.

Diakhir paparanya Budi mengajak masyarakat untuk kembali kepada nilai dan ruh jati diri bangsa yang menjungjung tinggi semangat spiritual Ilahiah (Ketuhanan), semangat kemandirian, kejujuran dan keadilan”.

Saatnya Bangkit
Agus Hanafi, narasumber diskusi, mengapresiasi buku karya Budi praptono ini, “Pertama, kita sudah melihat bahwa idealisme berbangsa dan bertanah air yang satu Indonesia, sudah dikalahkan berhala “pembangunan Nasional” yang justru tidak mampu membentuk konstruksi masyarakat yang mempribumi dlam keluarganya sendiri.

Kedua, tatar dan tatanan budaya nusantara mengalami degradasi yang sangat besar dan tidak dapat lagi disejajarkan  sebagai bangsa Nusantara sejati.

Oleh karena itu saya merasa terhormat dapat berbicara diforum ini Forum intetelktual yang memiliki cakupan besar dalam sejarah nusantara di dalam era globalisasi serta jaman krisis ekonomi yang berkepanjangan dengan menampilkan tradisi pemikiran yang begitu kuat tapi sederhana, lugas tapi tidak pragmatis, baik dalam pemikiran nasionalisme maupun pemikiran sosial kemasyarakatan.

Sejalan dengan semangat Budi Praptono yang tertuang dalam bukunya, memang benar bahwa diperlukan adanya transformasi  aktif dalam menuju Masyarakat Baru Nusantara yang sangat kuat, karena, masyarakat adalah mahluk yang sangat sosial sesuai dengan habitatnya yang seharusnya mempunyai kandungan makna kesatuan antara kebhinekaan (diversity) dan kekhasan (uniqueness).

http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=904

Leave a Reply