Menyedot Teh di Dalam Botol
“Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro” -tagline iklan Teh Botol-
![[diskusinya4.jpg]](http://lh6.ggpht.com/_CkgaHPODGng/Sj8O0zI_eRI/AAAAAAAADio/Kx1mrmAgR7o/s1600/diskusinya4.jpg)

Sebuah buku dengan judul yang sangat panjang : (Membangun Peradaban Bangsa dari Kacamata Cucu Dalang ‘Revolusi Belum Selesai’, Indonesia [Nusantara] Pemimpin Peradaban Baru Dunia) didiskusikan di Tobucil. “Sebetulnya judul ini ada kata-kata kuncinya,” ujar Pak Budi Praptono, sang penulis. “Kuncinya ‘Revolusi Belum Selesai’ dan ‘Indonesia Pemimpin Peradaban Dunia’.” Mengacu pada Bung Karno, Pak Budi melihat bahwa kemerdakaan yang terjadi di Indonesia baru sebatas kemerdekaan fisik. “Jiwa (bangsa Indonesia) belum merdeka, kita kan masih inferior,” ungkapnya lagi.
Itu sebabnya melalui buku yang ia tulis, Pak Budi mengajak bangsa Indonesia untuk berani bermimpi menjadi pemimpin peradaban dunia. “Bangsa Amerika, misalnya, bisa besar karena berani mimpi dulu,” begitu kata Pak Budi. diskusinya Diskusi yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tersebut berlangsung khidmat dan nasionalistik bak rapat-rapat di masa kebangkitan nasional. Pak Budi dan Pak Natsir (aktivis senior Salman ITB) yang menjadi pembicara hari itu memotivasi peserta diskusi untuk merasa bangga pada budaya sendiri. Sebagai cucu dalang, Pak Budi juga menyinggung-nyinggung kebudayaan Jawa dan dunia perwayangan.
Sebagai perwakilan dari AJI, tak ketinggalan Mas Argus Firmansah urun komentar, “Di dalam buku ini saya melihat pembahasan mengenai local wisdom. Orang-orang barat sekarang justru sedang membaca local wisdom kita.” Fenomena itulah yang membuat Mas Argus optimis bahwa Indonesia akan atau bahkan dapat dikatakan sudah memimpin peradaban dunia.
Hmmm … lalu apa hubungannya diskusi ini dengan kutipan iklan di awal artikel ? Begini. Ketika Mas Deri, salah seorang peserta diskusi menanyakan upaya apa yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan mental mandiri bangsa, Pak Budi menjawab, “Ya … keberanian untuk keluar dari penjara inferioritas yang tidak kelihatan ini.” Berbotol-botol Teh Botol yang dipenjara dalam bening dan sempit botol dihidangkan sebagai pelepas dahaga bagi peserta diskusi. “Yang bikin Teh Botol Sosro ini namanya Sosro Jaya. Dalam bahasa Jawa, Sosro Jaya artinya seribu kejayaan,” ujar Pak Natsir. Mereka yang terpenjara itu berani keluar lalu mengalir dalam diri manusia. Menjadi seribu kejayaan. Lebih dari sekedar teh yang menggenang diam-diam.
Sundea,Tobucil, Kamis 18 Juni 2009-
(tobucil.blogspot.com)
Filed under: Artikel Opini, Artikel Sahabat, Dokumentasi Photo, Kegiatan, Seni & Budaya


