Indonesia “Nusantara” Pemimpin Peradaban Baru Dunia!

Oleh Budi Praptono

Dari berbagai belahan Nusantara telah lahir peradaban yang turut mewarnai peradaban dimuka bumi ini, sebut saja peradaban yang dibangun saat kebesaran Padjajaran ,Majapahit, Sriwijaya dll. Ya, peradaban tersebut nyaris tak menampakan sisa, kecuali ruh (jiwa) yang sampai saat ini mewarnai karakter bangsa timur yang terkenal dengan nilai-nilai luhurnya.

Sesungguhnya setiap peradaban dimuka bumi ini, selalu dibangun dengan semangat spiritualitas yang bersifat immaterial lalu setelah itu terbentuk barulah diikuti dengan semangat peradaban intelektualitas dan selanjutnya baru yang bersifat material. Sehingga dari setiap peradaban yang mewarnai muka bumi adalah ruh/jiwa/spiritualitasnya saja yang mampu bertahan lama dan melegenda, dibandingkan dengan peradaban yang bersifat Intelektualitas dan material semata, terlebih lagi hanya sekedar material saja, misalkan pembangunan istana, gedung dll.

Saya hendak mengatakan bahwa dalam membangun sebuah peradaban baru dimuka bumi ini, kita sebagai bangsa timur yang beradab hendaknya tidak menutup diri, bahkan suatu keharusan untuk memulai dari membangun semangat spiritualitas. Sejatinya peraban harus lahir dan tumbuh dari jiwa, bukan dari fisik (material) semata; Bukankah semangat dalam lagu kebangsaan “Indonesia Raya” adalah membangun “jiwanya” dulu setelah itu baru “badannya”.

Visi Peradaban Baru Dunia!
Sesungguhnya krisis yang dialami Bangsa Indonesia saat ini, diakibatkan orang-orang Indonesia sudah kehilangan visi, kehilangan mimpi dan harapan. Kita harus mengakui kita kehilangan cita-cita untuk menjadikan Indonesia berubah kearah yang lebih baik, apalagi untuk menjadikan Indoensia menjadi pemimpin peradaban baru dunia. Kita dihalangi oleh kepentingan-kepentingan pragmatis, kepentingan individu, elite, golongan tertentu, tanpa pernah kita memikirkan jalan dan langkah yang terbaik bagi kepentingan yang lebih besar bagi bangsa ini, dalam segala aspek kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya “EPOLEKSOSBUD” yang lebih bernilai luhur.Pertanyaannya siapa yang harus memulai untuk mewujudkannya?Siapa lagi kalau bukan kita!, masyarakat Bumi Nusantara yang harus menjadi bagian dari agen-agen perubahan bangsa ini, apalagi setelah kita melihat kondisi peradaban yang dibangun negara-negara maju saat ini yang berakhir dengan “krisis”.

Indonesia yang maju dan memimpin peradaban mustahil terlaksana, tanpa Iman (keyakinan) kepada Tuhan Yang Maha Esa dan visi akan perubahan yang sangat kuat. Kita wajib dan penting untuk memahami jati diri, lingkungan, bangsa, dan wajib memahami apa-apa yang ada dimuka bumi ini, untuk cerdas dan mempunyai mimpi (visi) dalam hidup dalam menjalankan amanah dari Tuhan YME, serta sadar akan peran terbaik masing-masing dan menjadi unggulan.

Peradaban Amerika Yang Keropos

AS menjadi negara adidaya dan pemimpin peradaban intelektual/matarial bukan tanpa sebab, tetapi melalui proses yang panjang, diturunkan dari sebuah mimpi besar, yang dijalankan dengan sistemik dan sungguh-sungguh, termasuk kegeniusan mereka untuk mengkodisikan negaranya menjadi kiblat peradaban dunia, dan akhirnya berhasil membuat masyarakat dunia baik disadari atau tidak, akhirnya menganggap AS adalah panutan.

Coba kita tengok peradaban yang dibangun oleh AS dan Negara-negara maju yang mengedepankan intelektual/material, akhirnya mengalami kerapuhan juga. Dunia saat ini sedang berubah, raut muka wajah –wajah Negara maju seperti AS dan sekutunya yang lebih mewakili kaum “kapitalis” sedang bermuram durja, “terkoyak”, bahkan lukanya terlihat dan terasa kemana-mana. Dipenghujung Tahun 2008, terjadi Krisis Finansial Global. Amerika Serikat mengalami kerugian triliunan US dolar, dan negara-negara yang didikte oleh International Moneter Found(IMF) dan Bank Dunia –(World Bank), kebagian jatah krisis yang mengenaskan dan diperkirakan para ahli ekonomi tidak akan selesai dalam dua tahun. Ya dunia saat ini sedang berubah, dan yang terjadi saat ini terlihat dan terasa begitu gersang. Di Tanah Air Krisis Finansial Global berdampak pada “tsunami” Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan masalah-masalah lainya.

Kalau kita cermati, terpilihnya Barack Obama dari Kaum minoritas AS, membuktikan bahwa mayoritas publik AS sendiri sudah jenuh dengan peradaban dan pendekatan yang selama ini dipakai oleh kebijakan politik negaranya, yang cenderung mengedepankan nilai-nilai spekulatif dan konfrontasi, dari pada pendekatan yang lebih manusiawi. Terlebih banyaknya masyarakat dunia, terutama yang memang dalam pihak yang sangat diperlakukan tidak manusiawi oleh kebijakan politik negara AS.

Setelah kekuatan bipolar(Amerika dan Rusia) nyaris berlalu, dan sekarang hadir kekuatan multi polar , dengan adanya China dan Jepang sebagai kekuatan independent, realitas krisis finansial global tidak dapat terelakan. Dan sepertinya peradaban baru dunia dengan hanya mengedepankan nilai material dan intelektual akhirnya keropos juga.Namun setidaknya AS bisa menjadi besar dengan peradabannya karena mimpi yang sungguh-sungguh? Lalu mimpi kita apa?

Membangun Visi (Mimpi) Peradaban Baru Dunia! Secara Sistemik!

Indonesia harus mampu menjadi Pusat Peradaban dunia!, Apakah seperti AS? Harus lebih lebih baik dan lebih manusiawi dari AS. Sebagai mana kita ketahui AS, membangun pusat peradaban yang berorientasi pada kemakmuran duniawi, yang sempat membuat dunia terkagum-kagum, walaupun akhirnya membuat dunia akhir-akhir ini menjadi ketar-ketir dengan pendekatan kemakmuran duniawi tersebut.Terus Apa? Jadilah Indonesia menjadi Pusat Peradaban Dunia yang berorientasi tidak sekedar duniawi, tetapi yang utama adalah pada orientasi pada nilai-nilai spiritual Ilahiah (Ketuhanan).

Semua tentu dapat dijawab hanya oleh keyakinan kita masing-masing yang hakiki! Oleh manusia yang “merdeka” dan “mandiri”? Hanya mau menggantungkan atau mengiblat kepada yang pantas digantungi? Siapa? Tentunya kepada Yang Maha Digantungi (Dikiblati).Dari jiwa-jiwa bangsa Indonesia yang merdeka inilah, akan lahir keinginan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia, dengan semangat kebersamaanlah keinginan tersebut dapat terwujud, bukan semangat yang mengedepankan perbedaan yang ada.

Sebagai bangsa timur yang beradab, yang selayaknya memimpin peradaban dunia?!. Bukankah kita lebih senang hidup Mandiri merdeka, tidak dijajah, tidak bergantung kepada segelintir bangsa yang mempunyai kekuasaan modal (kapital)?Bukankah kita adalah bangsa yang berdaulat dan berbhinneka. Bebas menentukan pikiran dan peradaban budaya kita sendiri tanpa harus menjadi bangsa lain dan akhirnya menjadi sasaran Intervensi bangsa-bangsa lain tersebut?

Mandiri, bukan berarti harus mengisolasi diri. Tetapi kapan kerja sama atau tidak, dengan siapa kita harus bekerja sama, adalah semata-mata karena atas dasar pertimbangan kebutuhan dan dengan semangat saling menghormati, saling memberikan manfaat, bukan atas dasar karena ketidaksadaran atau karena keterpaksaan.

Kita harus berani bermimpi Indonesia akan menjadi pusat peradaban tata dunia baru, yang mengusung nilai-nilai luhur, yang mengedepankan nilai-nilai spiritual, yang bukan mengedepankan senjata. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh bangsa beradab di seluruh jagat raya ini.Spiritual yang seperti apa?

Semangat spiritualitas yang ditekankan dalam Pancasila, saat ini sedang mengalami keretakan bahkan nyaris hancur. Oleh karenanya dalam hal solidaritas antar umat beragama, kita diharapkan menjalankannya dengan ikhlas dan jujur, demi utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut “kacamata” penulis implementasi terbaik adalah dengan semangat “beda agama tetapi satu iman, yakni Tuhan Yang Maha Esa”, namun tidak dipungkiri kadang-kadang dalam satu agama saja banyak yang beda iman.

Di muka bumi ini, jalan spiritual diwadahi oleh agama. Kewajiban dalam beragama adalah mengantarkan kita ”umat”, kedalam spiritual yang sempurna (Kepada Tuhan), bukan sebaliknya malah menjadikan agama, yang menjadi Tuhannya.Buah dari spiritual yang sempurna adalah ketakwaan (kebaikan) dan amal saleh (sosial). Hakekat tugas agama adalah membebaskan umat dari belenggu dunia, agar selanjutnya bergantung, pasrah dan selalu meminta petunjuk dan kekuatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk menjalankan amanahNYA dalam mengurus dunia ini. Orang yang beragama dan memiliki spiritual kepada Tuhan, harus memiliki output yang semakin lama semakin “Hade tekad,hade ucap,hade lampah (baik hati/tekad, baik ucapan dan baik-konsisten- dalam perbuatan/langkah).

Revolusi Jiwa yang Merdeka

Jiwa adalah fitroh, suci, sehingga sesungguhnya hanya mau dengan yang suci. Dan, hanya mau tunduk patuh kepada Yang Maha Suci. Bung Karno mengamanahkan bahwa “revolusi belum selesai”, yang mengestafetkan kepada generasi penerusnya untuk melanjutkan revolusi, yakni memerdekakan jiwa-jiwa Bangsa Indonesia agar tidak terjajah oleh penjajah-penjajah jiwa. Hal ini dapat kita maklumi, bahwa kemerdekaan 17 Agustus 1945, baru sebatas kemerdakaan fisik dalam arti yang hakiki, yang baru sebatas pintu gerbang untuk merdeka yang sesungguhnya, yakni sebagai bangsa yang merdeka jiwanya, tidak tergantung oleh yang lain, dengan berbagai bentuknya, semua yang bukan Tuhan, termasuk agama itu sendiri.

Dengan Jiwa yang merdeka maka kita akan dapat mengisi kemerdekaan. Berdasarkan maunya Jiwa, yang otomatis maunya Tuhan, Kalau meminjam istilah Steven Covey, dalam bukunya 7 Habits, manusia yang efektif adalah manusia yang dapat membangun kesadaran dan bertanggung jawab pada mental agar tidak dikuasai orang lain atau lingkungan. Pertanyaannya sudahkan kita merdeka dalam kategori ini?

Keyakinan Tidak Bisa Dipaksakan

Dari manakah datangnya keyakinan. Kalau mau jujur, kita tidak dapat menjawabnya, seandainya bisa, hanyalah pendekatan ilmiah. Mungkin dari lingkungan, keturunan, atau dari baca buku, perjalanan hidup, yang semuanya serba tidak tuntas. Padahal yang sesungguhnya yang membuat adalah Sang Maha Pembuat. Ya Tuhan itu sendiri.

Dengan demikian pantaskah kita mempermasalahkannya dan memaksakannya harus seperti kita. Berarti sama saja kita memaksa Tuhan.Dalam hal ini, kenapa para Nabi atau orang-orang suci hanya mengajak atau menyampaikan pesan saja. Bukan memaksanya. Karena untuk berubah adalah urusan dia sendiri dengan Tuhannya; Sehingga beliau-beliau disebut “para pembebas”!.Hubungan kita masing-masing dengan Tuhan adalah unik. Dan, Tuhan sendiri adalah tidak bisa dimodelkan dengan apa saja. Maka hubungan dengan Tuhan tidak dapat dimodelkan secara baku. Artinya unik sesuai dengan keyakinan masing-masing dan ini selalu tumbuh dan berproses menuju kesempurnaan yang unik pula.

Jiwa Merdeka Dan Hukum Positif

Hubungan antar sesama adalah ibarat peralatan telekomunikasi agar dapat saling berkomunikasi dengan baik, dengan noise yang rendah, maka perlu standardisasi, aturan main yang disepakati. Tentunya aturan main yang tidak melanggar asas keadilan, kerelaan atau keikhlasan; tidak ada semangat mendolimi kepada yang lemah atau minoritas.

Sesungguhnya hukum atau fikih adalah hanya dipakai untuk mengatur orang-orang yang masih belum atau sedang menuju ketemu Tuhan, yang ditujukan pula agar hubungan anatar sesame menjadi lebih baik. Atau dengan kata lain kalau orang jiwanya sudah merdeka maka sudah tertata dengan sendirinya oleh Yang Maha Pengatur.

Jadi seandainya hukum positif tidak melarang orang itu mencuri maka orang tersebut tidak akan mencuri. Tidak akan mencurinya bukan takut sama hukum buatan manusia tetapi karena jiwanya tidak menghendaki untuk mencuri. Karena tahu Tuhan tidak berkenan kita mencuri.Karena mayoritas manusia adalah belum merdeka jiwanya maka hukum positif menjadi perlu dan agar menjadi hubungan antar sesame menjadi lebih baik. Coba kita renungkan, zaman dulu, orang yang mayoritasnya jiwanya sudah merdeka maka cukup dengan norma atau hukum adat yang bahkan tidak tertulis sudah cukup, sekarang?

Dengan manusia yang mayoritas sudah kehilangan jiwanya atau jiwanya terpasung maka hukum harus semakin mengikuti model program computer; Harus terinci dan operasional, supaya tidak ada interpretasi.

Akan Lahir Pemimpin Hebat

Manusia yang jiwanya tidak merdeka akan mudah diintervensi atau dijajah oleh pihak lain. Atau dengan kata lain rakyatlah yang menciptakan produk penjajah karena wujud penjajah tidak akan berhasil kalau berhadapan dengan rakyat yang jiwanya merdeka.

Maka, lahirnya pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau dengan sebutan sejenis lainnya, muncul dari rakyat yang jiwanya terjajah, terpasung oleh apa saja yang bukan Tuhan.Dengan semangat, pembebasan jiwa, maka tidak akan terbentuk kelompok-kelompok semu, apa karena keluarga, asal daerah, sekolahan, perguruan spiritual, agama, dll. Maka tidak akan terjadi pihak-pihak yang dapat memanipulasi atau memanfaatkan dari terbentuknya kelompok tersebut. Apa salahnya SARA, tidak ada yang salah, yang salah adalah dari SARA untuk SARA, yang benar adalah dari SARA untuk semua SARA atau dengan kata lain dari diri atau kita untuk semuanya, bukan sebaliknya dari semua untuk kita dan bahkan untuk diri kita saja!.Apakah untuk kepentingan partai, bisnis, kekuasaan, dll., yang semuanya adalah untuk kepentingan duniawi semata, yang cenderung tidak adil. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa para elitlah yang tergoda untuk memanfaatkannya, yang cenderung pada kepentingan pribadinya atau kelompok eksklusif.

Dengan semangat jiwa-jiwa yang merdeka, maka ikatannya adalah langsung pada nilai-nilai Ketuhanan itu sendiri. Dengan demikian seandainya akan memilih pemimpin maka pertimbangannya adalah nilai-nilai ilahiah itu sendiri sehingga akan lahir pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiah.

Format Kebijakan Pembangunan

Seperti diungkap diatas, arah kebijakan pembangunan adalah harus dimulai dari pembangunan diri ‘jiwa’ bangsa Indonesia. Kemudian dikembangkan pembangunan yang lain yang disesuaikan dengan kebutuhan khas bangsa dan Negara Indonesia. Dengan semangat saling kerja sama yang adil di antara komponen bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia.

Dengan demikian jangan sampai mengubah bangsa kita ingin jadi bangsa Arab, Eropa, Amerika, Jepang, India, China, dll.. Atau jangan sampai kita meniru strategi pembangunan dari bangsa lain tanpa disesuaikan dengan format yang pas dengan kondisi bangsa kita.

Atau dengan kata lain globalisasi dengan segala modelnya termasuk persaingan bebas adalah bukan menjadi tujuan. Tetapi, hanya merupakan salah satu sarana atau tantangan zaman yang harus diupayakan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia khususnya dan bangsa-bangsa lain pada umumnya. Dengan demikian apa saja “termasuk persaingan bebas” yang menjadikan bangsa kita khususnya dan bangsa-bangsa lainnya terpuruk harus kita minimalkan untuk dikendalikan.

Jangan Pobia Terhadap “Sosialisme”

Sosialisme di awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20, digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian dengan system ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak dari pada hanya segelintir elite.

Banyak pemikiran yang berkembang dari semngat sosialisme tersebut yang akhirnya menjadi sebuah ideologi (misalkan : Marxisme, Sosialisme libertarian, Anarko-Sindikalisme, Marhaenisme, Sindikalisme, Sosialisme Utopia, Sosialisme International, dll) dan Sosialisme sebagai dasar sebuah tatanan Negara dengan berbagai variansinya (Misalkan : Rusia, Eropa Timur, Kuba, Korea Utara, RRC, dll); bahkan Negara-negara yang menyatakan diri sebagai paham kapitalis, juga mengadobsi semangat sosialisme, yakni konsepnya yang popular dengan istilah “welfare state” (Eropa barat, AS, Jepang, dll). Apakah Indonesia sendiri bukan Negara sosialis?

Kalau kita renungkan, jauh sebelum abad 19, yakni hakekat dari semangat ajaran/teologi agama diturunkan, apakah bukan semangat sosialisme?

Seperti Sistem Zakat “Islam” dan Program Cinta Kasih “Kristen”, termasuk program-program sejenisnya dari agama lain , yang diciptakan dalam rangka untuk mengurangi sejauh mungkin kesenjangan di masyarakat. Bahkan tidak sekedar mengurangi kesenjangan dari sisi materi, tetapi yang lebih mendasar dari sekedar materi yakni memuliakan kebutuhan yang bersifat batiniah “ruh” atau “jiwa” manusia, agar kehidupannya lebih humanis, toleran, beradab, berkeadilan sosial, dll.

Dalam pandangan saya, sekarang ini orang kelihatan trend beragama itu kesannya masih mengarah kepada kegenitan beragama, tidak mengarah kepada peningkatan ruh, spiritual, yang masih malu atau takut berbicara sosialisme. Sesungguhnya, kalau kita merasa bergama tapi tidak sosialis sebenarnya diragukan keberagamaannya.

Sudah jelaslah bahwa sosialisme adalah sangat proporsional dipasangkan berlawanan terhadap kesenjangan atau ketidak-adilan, bukan terhadap kapitalisme, dan bahkan lebih dari itu, dan memang kapitalisme berdampak terjadinya kesenjangan, tetapi kesenjangan tidak hanya ditimbulkan kapitalisme semata, dan sosialisme adalah inti mutiara dari semua ajaran agama.

Keluar Dari Jerat Kemiskinan

Bangsa Indonesia harus keluar dari kemiskinan, baik kemiskinan struktural maupun kultural. Kemiskinan strukural adalah kemiskinan berupa hilangnya konsep dan implementasi pemerintah, elite bangsa dan rakyat banyak, untuk memperkecil kesenjangan sosial ekonomi(membuat variansi lebih kecil). Sedangkan kemiskinan kultural adalah hilangnya pemahaman bahwa harta (promosi & aktualisasi diri) dan Jabatan adalah amanah.

Saat ini kebanyakan orang, mempunyai pradigma kalau harta,rezeki, jabatan adalah berkah, padahal bukan, itu baru amanah yang harus dibuat berkah. Semua baru koma! Manusia boleh berkreasi sehebat-hebatnya dalam urusan rezeki, harta dan jabatan, tapi harus dikonsumsi secukupnya, selebihnya adalah untuk yang lainnya. Jadi semangat “tidak terlalu penting milik siapa, tetapi yang jauh lebih penting adalah bermanfaat buat siapa, yakni orang banyak”.

Dengan demikian, berdasarkan pendekatan teologi, pemikiran maupun empiris kehidupan, kita tidak bisa lepas dari semangat sosialisme itu sendiri, kalau kita menginginkan keberlangsungan dan keberkahan dalam kehidupan bersama.

Kemakmuran, dan Kemakmuran Jiwa

Makmur, itu binatang apa? Banyak konsep yang telah kita ketahui tetapi ternyata yang kita ikuti adalah konsep hedonisme. Kenapa ini bisa terjadi? Ternyata, pendidikan yang kita terima sampai di perguruan tinggi, bahkan sering semangat beragama adalah diturunkan dari nilai-nilai semangat hedonisme, semangat duniawi, begitu juga strategi pembangunan ekonomi, manajemen perusahaan, pemasaran, konsep kesejahteraan, dll..

Penjelasannya, bisa sangat panjang, tetapi ringkasnya sebagai contoh dalam strategi ekonomi, konsumsi didorong naik, agar perusahaan ada pasarnya. Dengan pasar naik maka perusahaan produksinya naik sehingga kesempatan kerja naik. Dengan demikian ada daya beli. Dengan daya beli naik maka konsumsi naik. Apa lama-lama daya dukung alam, masih mampu memenuhi keinginan manusia tersebut, yang makin lama, makin meningkat, akibatnya alam berontak.

Berarti, konsepnya salah. Kenapa salah. Sesuatu yang sudah benar kalau dilaksanakan alam semesta akan mendukung. Apa, yang dimaksud makmur yang sesungguhnya? Apa, bukannya kenikmatan batin atau kemakmuran jiwa?

Untuk menjawab ini tentunya dengan jiwa yang tenang. Tidak dengan nafsu. Pasti seragam menjawab “setuju”.

Bukannya tukang becak, banyak yang dapat merasakan kebahagiaan, sebaliknya banyak pejabat tinggi, pengusaha sukses, banyak yang tidak nikmat hidupnya? Ini semua untuk meyakinkan kepada kita, bukan materi yang membuat bahagia, tetapi rasa syukur kita, kepatuhan kita sebagai umat manusia dalam menjalankan perintah Tuhan. Apakah, kita tidak perlu duniawi? Kita tidak akan bisa lepas dengan urusan duniawi, tetapi bukan menjadi tujuan. Tujuan kita adalah membangun kepatuhan jiwa terhadap tugas mulia dari Tuhan, dengan sarana dunia agar kehidupan kita bersama mendapatkan berkah.

Sehingga semangat yang dibangun adalah tidak sekedar mencari nikmat tetapi mencari berkah; karena nikmat belum tentu berkah, tetapi kalau berkah pasti nikmat “secara batin”. Sebagai contoh, orang korupsi bisa-bisa merasa nikmat, namun tidak berkah. Tetapi, menolong orang yang kesusahan adalah berkah dan nikmat secara “batin”.

Harta, penampilan yang berkilau dan kekuasaan yang melimpah adalah ujian yang memungkinkan kita untuk lulus atau tidak lulus melewatinya, semua baru koma! Lalu keberhasilan itu apa? Keberhasilan itu adalah kepatuhan menjalankan perintah Tuhan dengan sungguh-sungguh dalam segala hal, dan mengkonsumsi hasil secukupnya, sisanya untuk apa? kembali lagi kepembahasan semula disinilah ruang- ruang untuk kita menjadi orang sosialis!

Integritas Partai Politik Pada Platform dan Ideologi

Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak akan lepas dari urusan politik. Sarana yang faktual adalah kehadiran partai politik (parpol). Parpol yang dibangun tentu harus sesuai dengan kebutuhan rakyat. Apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh rakyat? Ini pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab, karena belum tentu rakyat secara cerdas dapat merumuskan kebutuhannya, atau seandainya tahu, belum tentu dapat mengekspresikan kebutuhannya secara pas, atau tidak tahu menentukan pilihannya yang pas pada pilihan yang ada.

Apa bukan sandang pangan dan papan, pendidikan, status sosial (termasuk pekerjaan), rasa aman, pengakuan dan kesempatan berekspresi; bahkan termasuk kebutuhan yang hakiki yakni kepasrahan kepada Tuhan berdasarkan keyakinan masing-masing. Nah, begitu rakyat menyadari kebutuhannya seperti itu, lantas siapa yang harus dipilih untuk diberi amanah agar dapat menjamin terpenuhi kebutuhan tersebut? Disinilah perlunya Parpol yang memiliki warna dan ideologi, konsistensi, jujur dalam bersikap, dalam mewadahi aspirasi politik seluruh lapisan masyarakat.

Partai politik dalam menjalankan roda aktivitas politik hendaknya : Pertama, Sesuai dengan platform partai dan ideologi. Kedua, menjungjung tinggi nilai kepentingan bersama seluruh rakyat Indonesia, dimanapun ia berada, apapun suku dan agamanya, dengan semangat yang bersifat “senasib dan sepenanggungan”, bukankah semua sudah terwadahi oleh azas negera kita yaitu Pancasila dan UUD 1945. Ketiga, dilihat dari sisi substansi Parpol hendaknya memiliki tujuan yang sangat krusial yang diwujudkan dalam programnya untuk mengatasi masalah-masalah yang ada, misalkan keadilan soial (fairnest), mempersempit ketimpangan baik ekonomi maupun sosial, dan mendorong terciptanya penegakkan hukum tanpa “pandang bulu”, yang berujung pada kemakmuran rakyat.

Nyamankan Dunia Dengan Sektor Riil

Sebuah catatan dalam Kongres Kaum Muda Jawa Barat 28 Oktober 2008 lalu yang mana Penulis juga berkesempatan menjadi Orator, Radhar Panca Dahana (Budayawan,Sastrawan yang juga Dosen Universitas Indonesia) mengatakan kapitalisme dan materialisme saat ini adalah sebuah sistim yng mengijinkan sekelompok kecil manusia didunia ini tidak lebih dari 0,0001% dari masyarakat didunia ini untuk meiliki kekayaan 515 Triliun Dolar, itu sama dengan 60 kali lipat PDB Amerika Serikat yang tertinggi di dunia, sama dengan 10 kali lipat dari PDB dunia, sama dengan 1000 kali lipat PDB Indonesia. Dan kekuatan kapital itu yang telah menentukan jalannya hidup kita, jalannya di dunia, tidak hnya menentukan apa isi lemari kita, apa isi dompet kita, apa isi pikiran kita,juga menentukan siapa yg menjadi menteri keuangan kita bahkan barangkali menentukan siapa yang akan menjadi presiden kita!

Bagaimana dengan kita? Sudah saatnya kita juga berani meninggalkan dominasi kapitalisme tersebut. Mari kita kembali ke sektor riil, kita tinggalkan dominasi model ekonomi spekulatif yang bersifat “diatas kertas”, virtual dan “imaterial” yang oleh Tom Wolfe (1987) ditakdirkan akan hancur! Bukankah dalam sistem ekonomi riil,dimana ada pihak memproduksi dan berdagang dengan jujur dengan tujuan untuk berkontribusi bagi kekayaan masyarakat (rakyat) secara keseluruhan. Dan secara sederhana sektor riil melakukan perputaran kekayaan yang dihasilkan dan diperdagangkan secara nyata, barang-barang dan layananan adalah nyata, dan dijual di pasar-pasar nyata dengan menggunakan mata uang nyata.

Dalam hal ini, semua pihak terutama pemerintah tentu sangat bertanggungjawab dan wajib, untuk lebih memfokuskan kepada pergerakan ekonomi masyarakat lewat sektor riil, agar dunia tidak terus menerus menjadi gersang!

Adil dan Makmur

Kenapa, koq bukan Makmur dan Adil? Tentunya, ini punya makna di balik Tujuan Negara tercinta ini. Bukankah, Negara kita selama ini masih dikelola dengan semangat Makmur dan Adil, yakni dengan konsep “trickle down effect“, membuat pertumbuhan-pertumbuhan dulu, baru hasil pertumbuhan tersebut dibagi-bagi supaya adil.

Konsep ini, kelihatannya sangat bagus, sistematis, dan menjanjikan. Tetapi, sebenarnya baik secara konsep maupun secara pengalaman terbukti menjadikan hasil yang semakin lama semakin tidak adil. Hal ini dikarenakan masyarakat yang mendapatkan lebih, selalu kurang dan kurang, sehingga tidak ada dalam pikirannya untuk berbagi, sehingga yang terjadi adalah ketimpangan yang semakin hari semakin besar.

Adil, konkritnya apa? Jawabannya adalah bisa panjang lebar, tetapi saya punya model yang sederhana, tentunya namanya model tidak dapat mewakili secara utuh. Tetapi kira-kira adalah bahwa kue pembangunan yang dinikamti oleh masyarakat tidak boleh terlalu besar perbedaannya. Atau dalam bahasa statistik variansinya tidak boleh besar. Tetapi, tidak mungkin dibuat sama dengan nol baik secara filosofi maupun secara praxis. Perbedaanlah yang membuat sistem menjadi hidup maupun secara proses, pasti terjadi variansi.

Fakta membuktikan, Negara mana pun di dunia yang masyarakatnya dianggap lebih maju dari Indonesia variansinya diusahakan kecil. Sebagai contoh gaji tertinggi dan gaji terendah perbandingannya maksimal sekitar 20 : 1, dan pajak kekayaan dan pajak keuntungan, semakin tinggi nilai kekayaan dan keuntungan. Pajaknya semakin besar. Bahkan di Negara-negara Skandinavia malah bisa mencapai 50%.

Indonesia? Sudah sangat jelas yang atas menyesuaikan sendiri “naik dengan pasti”, yang bawah yang sekedar menuntut UMR (Upah Minimum Regional) saja, harus demo yang bertele-tele. Bahkan sampai ada yang berdarah-darah yang belum tentu berhasil.

Dengan didorong menuju variansi yang tidak besar maka hasil “perasan” tadi dipakai untuk membangun fasilitas umum, jaminan, pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok yang lain, yang tujuannya untuk mengurangi kesenjangan yang ada.Baik skala dunia, maupun di Indonesia, ketimpangan semakin melebar, sekarang ini di tingkat dunia, di Indonesia tidak jauh berbeda, bahwa: 10% penduduk, menikmati sekitar 90% hasil pembangunan. 90% penduduk, hanya menikmati sekitar 10% hasil pembangunan.

Apa sih dampak dari ketimpangan yang sangat besar? Pertama, ternyata dengan variansi yang sangat lebar mendorong orang semakin terkonsentrasi pada materi yang dia terima; Bukan pada usaha meningkatkan prestasinya. Dan ini tidak hanya berlaku yang di bawah. Tetapi terjadi di semua level. Maka yang di bawah wajar menuntut tetapi yang di atas gajinya dibuat terus meningkat bisa sampai 250 juta per bulan, yang selalu kurang dan kurang.

Kenapa ini bisa terjadi. Ya tadi, orang tidak bangga terhadap prestasi. Tetapi bangga dengan penampilan yang berorentasi selalu pingin naik dan naik terus, pingin seperti yang di atasnya. Kalau di Indonesia tidak ada, ya cari benchmark penampilan dari luar negeri. Tidak sadar negeri kita ini bukan Singapura, Jepang, AS. Standar kita beda tetapi kalau pingin meniru kerja kerasnya, ya bagus, bahkan wajib.

Kedua, Kondisi yang timpang tersebut berdampak selain ketidakharmonisan di antara umat manusia dengan kerakusannya, berdampak pada kerusakan alam yang semakin parah, banjir di mana-mana, angin ribut, es kutub mencair, pemanasan global, pencemaran lingkungan, dll.. Inilah yang merupakan satu dari lima ketakutan PBB yakni masalah kondisi lingkungan yang menurun.

“Peran Kaum Muda”

Semangat perubahan bangsa menuju arah lebih baik, tentu memerlukan agen-agen perubahan dalam hal ini adalah kaum muda. Kaum muda bukan hanya fisiknya saja, tapi memiliki semangat mencari jati diri, semangat kebebasan, kemerdekaan jiwa didalam berekspresi dalam memperjuangan nilai kebenaran, kebersamaan, keadilan, dan nilai-nilai lainnya untuk memujudkan kehidupan yang lebih beradab.

Apakah orang yang berusia tua bisa masuk kategori kaum muda? Jawabanya Ya. Orang yang berusia tua kalau mempunyai semangat yang dinamis menuju perubahan kehidupan bersama yang lebih baik, itu sesungguhnya berjiwa muda!; “sehingga bukan fisiknya tapi jiwanya yang harus muda”; Sekali lagi kita haris berani bermimpi Indonesia menjadi pemimpin peradaban baru dunia! Salam Perubahan!

Mari kita tumbuhkan JIWA MUDA untuk mewujudkan Indonesia menjadi pemimpin peradaban baru dunia! Semoga Tuhan merindhoinya, Amien!

-Suara Merdeka Cyber News,23 Maret 2009-

10 Responses

  1. Ada pertanyaan yang menggelitik benak saya saat membaca artikel ini : Siapakah yang dapat menjadi Orang Besar di bangsa kita?

    Tentu yang dimaksud disini bukan orang yang berbadan besar tetapi Manusia yang memiliki Jiwa Pemimpin menuju Peradaban Dunia yang lebih baik dari wakrtu ke waktu.

    Bicara Indonesia pasti tidak lain membicarakan komponen manusia yang membentuk negara ini……………

    Kembali ke pertanyaan awal : Siapakah Orang Besar itu ?
    Mungkin kita akan sibuk melihat kesana kemari untuk menunjuk orang lain. Tapi pernahkah terpikir Orang Besar itu adalah Diri Anda sendiri ? Bolehkan bila diri kita yang kita bentuk jadi pribadi Orang Besar………………..Bayangkan dampaknya bagi bangsa ini karena kumpulan Orang Besar ini akan berkumpul untuk membangun Indonesia lebih dahulu menjadi lebih baik. Setiap orang menjadi Orang Besar sesuai dengan perannya atau profesi apapun yang dimilikinya.

    Polisi Lalu Lintas belajar menjadi Orang Besar dengan mengatur lalu lintas tanpa ada pungli. PNS belajar memimpin dirinya untuk melayani masyarakat tanpa mengharapkan imbalan yang bukan menjadi haknya. Dosen memimpin dirinya untuk memberi ilmu semaksimal mungkin dan memberi nilai sesuai dengan kemampuan mahasiswa, bukan dengan berapa banyak mahasiswa membeli diktat sebagai penentu standar nilai. Mahasiswa memimpin dirinya membaca, berdiskusi untuk mengerti ilmu yang dipelajarinya dan memiliki budaya malu dalam mencontek karena mencontek itu tidak benar. Dokter memimpin dirinya untuk memberi resep obat sesuai dengan penyakit yang diderita pasien, tidak dengan memberikan obat berdasarkan isi kantong pasien…………….dan masih banyak contoh lainnya yang mungkin teman-teman dapat tambahkan dalam opini ini.

    Memimpin diri sendiri lebih dahulu merupakan langkah awal Orang Besar sesuai dengan peran dan profesi yang masing-masing Manusia Indonesia sandang.

    Maka pertanyaannya maukah Anda menjadi Salah Satu dari Orang Besar Indonesia?

  2. INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang

    digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku

    untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku

    Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya

    membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar

    terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini

    sudah terlampau sesat dan bejat.
    Permasalahan, kondisi seperti ini akan dibiarkan sampai kapan??
    Sistem pemerintahan jelas tidak berdaya mengatasi sistem peradilan seperti ini.
    Lalu siapa yang mau perduli?

    David
    HP. (0274)9345675

  3. Sebenarnya kekacauan yang terjadi di dunia tak lepas dari peristiwa 9 september 2001 atau yang lebih tepatnya hancurnya 2 menara WTC di new york karena terrorisme. Setelah kejadian ini dunia sudah berubah, dan hal ini dibuktikan dengan krisis ekonomi yang terjadi didunia saat ini. Dengan terjadinya perang melawan terrorisme memaksa pemerintah AS untuk berperang melawan irak dan taliban afganistan. Sehingga menimbulkan deficit dalam finansial AS. Tapi dalam setiap hal buruk yang terjadi pasti akan ada hal yang baik yang akan terjadi. Seperti harga minyak yang turun. Yang ingin saya tekankan disini adalah kemajuan ekonomi indonesia sangatlah fantastis pada tahun ini, tak heran indonesia bisa masuk dalam negara-negara G20. Negara-negara seperti Indonesia, Cina, dan India yang mana mempunyai penduduk yang sangat besar dan pertumbuhan ekonomi yang masih positif akan bisa membawa dunia ini lepas dari resesi ekonomi dan akan munculnya blok kekuatan baru setelah AS.

  4. sebelumnya maaf OOT..

    @Yakob
    salah besar! runtuhnya WTC pada 9 september bukan diakukan “teroris”! silakan anda cari sendiri artikel yang membahas berbagai fakta mengenai kebohongan tersebut!
    semua bukti mengatakan WTC sengaja diruntuhkan! juga serangan ke Pentagon!
    salah satunya silakan baca halaman ini:
    http://www.kaskus.us/showthread.php?p=45196760

    itu tipu muslihat AS untuk mendapatkan legalitas melakukan invasi ke negara lain. Runtuhnya WTC memang merugikan AS secara finansial, namun kompensasinya mereka mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar yaitu secara politik dan ideologi di dunia.

  5. Saya setuju dengan keseluruhan isi tulisan di atas.
    Satu hal yang perlu ditanamkan dalam diri masing-masing masyarakat Indonesia saat ini adalah bagaimana mengembalikan dan menanamkan kembali identitas diri kita sebagai bangsa Indonesia.
    Lalu, kemudian perlu dipupuk kembali nilai-nilai luhur bangsa dalam diri masing-masing masyarakat Indonesia, terutama dalam diri pemimpin dan calon pemimpin bangsa.
    Dengan demikian, kita dapat membenahi permasalahan-permasalahan dalam negara kita, sekaligus merupakan proses awal dari “pengkaderan” negara kita sebagai pusat peradaban dunia.

  6. Selamat pagi, Pak Budi.
    Sungguh sebuah tulisan yang ‘utuh’ dan menggugah.

    Dalam hemat saya pribadi, peradaban dan kebudayaan tidak semata-mata diperjuangkan, atau mungkin juga diperbaharui, demi menjadi ‘pemimpin peradaban’ bagi bangsa-bangsa lain. Peradaban secara tidak sadar dihidupi oleh sebuah bangsa ketika semua elemen didalamnya dengan elegan mampu menghadapi tantangan jaman. Kalaupun efeknya menjadi bangsa berperadaban maju, yang harus dipikirkan pula bagaimana menjadi negara yang unggul tanpa mengungguli.

    Tentang integritas partai politik, yang menarik tentu saja Pancasila yang sudah susah payah dikonsesikan beberapa puluh tahun lalu, saat ini oleh Parpol kembali dikhianati dengan ideologi-ideologi lain yang menghendaki penyeragaman yang mengancam kebhineekaan.Juga kasus-kasus hitam yang menimpa sebagian orang didalamnya. Belum lagi tentang jor-joran dana kampanye yang nyatanya tidak mensejahterakan masyarakat secara riil. Kesejahteraan masyarakat mereka nilai secara makro, dan ditindaklanjuti secara makro. Negara penuh kebijakan-kebijakan top down, bukan bottom up yang kiranya cenderung lebih tepat, membumi pada rakyat.

    Bila negara kehilangan martabat dihadapan rakyatnya, lalu kemudian apa artinya kita merdeka?! Dan akhirnya peradaban yang maju hanya menjadi mimpi yang dijual calon penguasa (yang itu-itu lagi) lebih-lebih saat pemilu nanti

  7. Pada dasarnya saya setuju dengan dengan cita-cita bahwa Indonesia menjadi pemimpin peradaban dunia baru. menurut saya ini cita-cita yang luhur dan sangat mungkin diwujudkan. Indonesia memiliki potensi berupa spirit gotong royong dan tak kenal menyerah yang dapat dimanfaatkan. Tapi sayang, akhir-akhir ini banyak masyarakat Indonesia yang sudah hilang spirit tersebut sehingga visi dan misi membangun Indonesia ke arah yang lebih baik tidak tercapai. Memang ada beberapa orang yang berani mendobrak dengan visi membangun Indonesia tetapi bukan demi kepentingan luhur, melainkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Saya sangat setuju dengan pendapat bahwa visi merubah Indonesia harus dibarengi dengan iman dan kepercayaan kepada Tuhan YME. Dengan iman kepada Tuhan YME segala krisis dapat diatasi,dengan tindakan yang benar juga tentunya. Saya berharap banyak yang membaca tulisan beliau ini dan menyamakan visi dan menjadi agen perubahan Indonesia. Terima kasih..

  8. Indonesia akan menjadi pemimpin peradaban dunia yang baru apabila rakyatnya khususnya para pemimpin bangsa ini benar-benar mampu bekerja sesuai dengan semangat membangun dan disertai dg spiritualitas yang tinggi, ikhlas, jujur , NASIONALIS dan mampu mengutamakan kepentingan rakyat tanpa memikirkan kepentingan pribadi maupun golongannya…

  9. Memang benar, dalam membangun segala macam hal atau apapun itu harus didasari dengan nilai-nilai spiritual yang luhur, tetapi untuk melakukannya tidak semudah membalikan telapak tangan. Disaat seperti ini kita haruslah memikirkan bagaimana cara-cara untuk memulainya. Langkah-langkah tepat untuk memulai dan berani berubah untuk maju. Orang Indonesia sudah terlanjur “alergi” terhadap orang-orang idealis dan orang-orang yang selalu berpikir kritis untuk maju. “Mereka” semua di paksa atau terpaksa menganut sistem yang sudah ada sehingga mereka mengesampingkan nilai – nilai luhur yang sudah tertanam pada diri mereka. “Kalo mau merangkak naik disini, harus ngikutin sistem dan prosedur kami!”.
    Menurut saya, Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani dalam mengambil keputusan tanpa di pengaruhi pihak lain (Negara adidaya), pintar dan bertanggung jawab dalam menghadapi keputusan yang di ambil. Oleh sebab itu jiwa para pemimpin lah yang harus di perbaiki, secara tidak langsung jiwa kaum muda sebagai calon pemimpin seperti kita-kita ini lah yang sejak dini harus di tanamkan nilai-nilai luhur. Dengan begitu cita-cita bangsa Indonesia sebagai pemimpin peradaban dunia dapat terwujud. Saya sangat setuju dengan Bapak Budi, dalam kondisi seperti saat ini iman dan ketaqwaan menjadi modal utama dalam memimpin peradaban, dengan orientasi spiritual bukan material kita dapat memandang jernih langkah-langkah apa yang harus di lakukan tetapi sudah pasti langkah yang bersih tanpa ada niat-niat yang jauh dari nilai – nilai luhur.

  10. “Indonesia “Nusantara” Pemimpin Peradaban Baru Dunia!”

    Why not…???

    Indonesia bisa menjadi peradaban di dunia, meskipun banyak orang menganggap hal itu tidak akan mungkin terjadi dan “tidak akan terjadi”.
    Kalau Indonesia menjadi peradaban dunia dengan konteks dari segi perekonomian, pertahanan keamanan dan politik…itu sangat sulit bagi Indonesia…Namun untuk konteks kebudayaan dan agama,mungkin Indonesia tidak bisa lagi ter-elakkan menjadi peradaban dunia. Indonesia di mata dunia merupakan negara yang konsisten terhadap Pancasila dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memiliki nilai-nilai dalam keTuhanan di setiap masyarakat Indonesia…
    Meskipun negara kita sangat sulit untuk menjadi no.1 di dunia dan menjadi perhatian dunia, namun kita sebagai warga negara Indonesia tidak boleh menyerah begitu saja… kita masih bisa memberikan yang “TERBAIK” bagi bangsa kita. Bukankah itu sangat berarti untuk kelangsungan Indonesia, dengan kita bangga sebagai warga negaranya…itu sudah cukup membuktikan bahwa kita cinta pada bangsa ini…
    Kita tidak boleh lupa, “apa yang dapat kita berikan pada bangsa dan negara ini???”, Indonesia di tahun yang akan datang, hanya ada di dalam tangan kita(rakyat)…mau kemana Indonesia akan dibawa itu adalah keputusan kita(rakyat Indonesia). Kita harus tetap memegang amanah para pahlawan yang terdahulu.
    Jangan MAU…negara kita dijual kepada negara-negara lain…Karena sekarang ini banyak para pemimpin lupa akan bangsa dan tanah airnya…Aset-aset negara dijual untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Oleh karena itu kita harus tanamkan nilai “KEBANGGAAN” pada diri kita, anak-anak kita, orang yang terdekat kita agar Indonesia tetap menjadi harapan dan impian kita bersama menuju peradaban dunia.

Leave a Reply