Semangat spiritualitas yang ditekankan dalam Pancasila saat ini sedang mengalami keretakan bahkan nyaris hancur. Oleh karenanya dalam hal solidaritas antar umat beragama, kita diharapkan menjalankannya dengan ikhlas dan jujur, demi utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebaiknya dalam implementasinya adalah dengan semangat “beda agama tetapi satu iman” namun kadang-kadang dalam satu agama saja banyak yang beda iman.
Demikian dikatakan Budi Praptono ( Ketua Forum Komunikasi Sosial Merah Putih Bersatu) dalam Dialog Bersama dengan tema Kembalikan Indonesiaku …Titik! Yang digelar “Garda Bangsa Merah Putih” dan Komite Ekonomi Kerakyatan Damai Sejahtera DPW Jawa Barat di Kediaman Dra. Mariawati Hadisuwito di Jalan Kembar Baru 44 Kota Bandung, Sabtu (7/3/09).
Menurut Budi, di muka bumi ini spiritual diwadahi oleh agama. Kewajiban agama adalah mengantarkan umatnya kedalam spiritual yang sempurna (Kepada Tuhan), bukan sebaliknya malah menjadikan agama, yang menjadi Tuhannya.
“Buah dari spiritual yang sempurna adalah ketakwaan(kebaikan) dan amal saleh (sosial). Hakekat tugas agama adalah membebaskan umat dari belenggu dunia, agar selanjutnya bergantung, pasrah dan selalu meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa” Kata Budi, yang juga Dosen Institut Teknologi Telkom.
Menurut Budi yang Lulusan Teknik Industri dan Magister Manajemen ITB, orang yang beragama dan memiliki spiritual kepada Tuhan memiliki output yaitu “Hade tekad,hade ucap,hade lampah (baik hati/tekad, baik ucapan dan baik-konsisten- dalam perbuatan/langkah-red)”
Sependapat dengan Budi, Agus Hanafi Kusuma Soeseno, Ketua Garda Bangsa Merah Putih, mengatakan semangat spiritualitas yang ditekankan dalam Pancasila menjadi hancur berantakan, krisis ekonomi lokal menjadikan bangsa ini bangsa yang sangat miskin.
“Krisis Pancasila memberikan dampak disintegrasi yang sangat besar yang melahirkan kembali Jong Java, Jong Batak, Jong Poso, Jong Ambon, Jong Madura dan lain sebagainya” Kata Agus.
“ Integritas yang dahulunya sangat kokoh, menjadi lumpuh dengan kesempitan beragama diantara penganutnya. Identitas masyarakat yang dahulu menghasilkan konsepJong Indonesia menjadi hilang dan sangat malu untuk mengakui kredibilitas diri yang sesungguhnya” Tambah Agus.
Agus menghimbau semua elemen masyarakat Nusantara untuk mengembalikan bangsa Indonesia menajdi bangsa besar sesuai dengan ruh bangsa yang sebenarnya.
“Kembalikan Merah Putih-ku!” Tegas Agus.
Hadir juga dalam kesempatan tersebut Dra. Mariawati Hadisuwito,(Sekretaris 2 DPW PDS Jawa Barat), Janto Widjaja ( Trainer Kepemimpinan, Motivator Berpikir Positif), Ari Mulyana (Ketua Forsi Pekerja dan Buruh), Cynthia Margitta ( Aktivis Perempuan,Politisi Muda), Nurdin S Drajat ( Sekretaris Eksekutif FKS Merah Putih Bersatu), AA Mulyana, Nasrul Bastian, Hendrik (Politisi Muda) dan Agus Doni Aktivis LSM.
(Media Center/Sumber : Berpolitik.com)
Filed under: Kegiatan



beda Agama tapi satu Iman itu yang bagaimana pak ?, ayak2 wae, yang seharusnya bapak utamakan bagaimana anak2 jalanan & pemulung dapat menilmati pengajian, turun dong ke jalan pak !!, berikan pengajian atau ceramah utk pemulung sambil beri sebungkus nasi, thanks
menurut saya pak, negara indonesia ini adalah negara yang paling sukses diantara negara-negara asia tenggara lainnya. terbukti dengan perekonomian kita yang terus tumbuh. Hal ini menjadi bukti bahwa stabilitas negara kita sudah cukup bagus. saya merasa bangga menjadi warga negara indonesia karena pertumbuhan ekonomi kita masih positif dan kita tidak mengalami resesi (tidak untuk sekarang ini). tapi ini hanya pendapat saya aja seh. hehehe…. btw nice blog.
Saya tertarik dengan komentar Pak Anand Krisna di Suaramerdeka.com, terkait artikel diatas, semoga mencerahkan kita semua.
Komentar beliau sebagai berikut :
Agama hanyalah wahana untuk emngatar kia pada spiritualitas…. salah satu diantara sekian banyak wahana… einstein menggunakan wahana fisika murni, demikian pula dengan hawking… dan banyak ilmuwan tulen lainnya…. spiritualitas adalah pencapaian….
Saat mencapai spritulaitas, kendaraan mesti diparkir di depan pintu… Masih ingat pertemuan Baginda Rasul dengan Gusti Allah? Jibril mesti menunggu di luar…
Spiritualitas seperti inilah yang dimaksud dalam butir pertama pancasila… bukan Tuhan, tetapi ketuhanan… para founding fathers kita sunguh luar biasa. para politisi sekarang tidak memahami mereka. sayang… Tapi, para pemuda mesti bangkit, sekarang dan saat ini juga…… Baca Selengkapnya
Salam Kasih dan sembah sujudku bagi para muda-mudi yang telah bangkit dan saat ini sedang berjuang untuk mengembalikan spiritualitas dalam tata-kenegaraan, sekali lagi, spiritualitas dan bukan agama…
Menurut saya kadang semangat “solidaritas” perlu dipertanyakan kembali karena pada kenyataannya solidaritas dalam berbagai kesempatan seringkali tidak menganut paham kebenaran yang bersifat mutlak sebagai dasar untuk menjalankan sesuatu karena sesuatu yang benar pasti baik tetapi yang baik belum tentu benar. Agama sebagai wadah manusia merefleksikan identitas yang pada awalnya merupakan hadiah namun pada akhirnya manusia itu sendiri seringkali lupa menanyakan identitas iman. Religion tidak sama dengan faith karena faith berbuah kedamaian dan kesadaran terhadap realitas.Setiap orang punya kadar iman yang hanya dia dan Tuhannya yang tau ukurannya tetapi umat manusia lainnya yang berinteraksi dalam setiap detik hidupnya yang menjadi objek dari kadar iman tersebut. Masing-masing punya tanggungjawab dimanapun manusia Indonesia ditempatkan dalam tempat ia diijinkan berkarya dalam masa hidupnya sesuai dengan berkat dan rahmat sang Pencipta.Mari kita berkarya dalam setiap hidup kita dengan kesadaran iman yang menuntun kita berjalan, bukan untuk mengatakan bahwa ukuran yang saya pakai lebih baik daripada yang lainnya tetapi memberikan tiap detik terbaik yang telah dihadiahkan oleh Sang Pencipta untuk kita kembalikan kepada sesama manusia Indonesia. Bukan kita yang memilih jadi orang Indonesia tetapi Sang Pencipta yang memberi karena Tuhan paling tahu yang terbaik dimana sebaiknya kita berada di muka bumi ini……………….
“kembalikan indonesia ku..titik” awal nya saya kurang mengerti dengan tema yang bapak paparkan namun saya setuju dengan pendapat bapak bahwa indonesia pada saat ini kondisi nya sangat memprihatinkan di bandingkan saat indonesia di masa awal kemerdekaan.
di karenakan pada saat ini bangsa indonesia kurang mengerti makna dari butir-butir pancasila misal nya pada sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa” di sini di sebut kan bahwa sebagai bangsa yang beragama kita harus beriman kepada TUHAN YME namun saat sekarang ini kepercayaan itu semakin memudar dengan muncul nya ajaran-ajaran agama baru yang menyesat kan dan berbeda dengan agama yang ada.contoh yang paling konkret sebagian para pejabat di indonesia yang menyalah gunakan jabatan ny untuk mementingkan kepentingan pribadi seperti korupsi dan hal-hal yang merugikan bangsa dan negara ini.kondisi ini sangat berbeda dengan para pejabat negara pada zaman kemerdekaan yang mengunakan jabatan nya dengan baik dan sesuai dengan dengan norma-norma pancasila.
menurut saya hal di atas dapat di cegah dengan kesadaran dan kembali ke diri kita masing-masing arti penting nya kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
SPRITUAL….
Satu kata yang sangat sederhana, namun sangat sulit melakukannya dalam menjaga kekonsistenan…
Menurutku benar, spiritual merupakan yang harus dimiliki sesesorang terlebih dahulu sebelum melakukan perkara-perkara yang besar di dalam kehidupannya…Disaat kita memilikinya meskipun kita tidak memiliki apa-apa termasuk materi, kita dapat menciptakan “sesuatu” dan perubahan yang besar yang terjadi di dalam kehidupan kita.
Dengan spiritual, kita DAPAT mengembalikan Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berBhineka Tunggal Ika serta yang paling utama berKetuhanan Yang Maha Esa. Tentunya hal-hal itu harus dimulai dari kita sendiri.
Semangat “beda agama tetapi satu iman”, kata Pak Budi Praptono…Itulah yang harus dimiliki oleh bangsa ini. kita boleh saja berbeda agama, namun kita harus tetap menjaga kekonsistenan dalam menjalankannya. Jangan ada saling menjatuhkan, menghina dan menghasut.
Saat ini di Indonesia, agama menjadi salah satu yang acuan untuk menjadi kambing hitam antara satu kelompok dengan kelompok lain, dan menjadi suatu pertimbangan dalam mencari pekerjaan.
–> Saya ambil contoh di Sulawesi, dimana ada suatu kelompok dengan kelompok lain yang masalah awalnya adalah “politik”, namun untuk dapat mengkambing hitamkan masyarakat, mereka menggunakan agama untuk menjadi pemicu perkara yang besar….
–> Selain itu, banyak tempat kerja dan perusahaan-perusahaan yang lebih “memprioritaskan” suatu agama ketimbang skill dan kebutuhan perusahaan tersebut dalam menggaet/merekrut karyawan..
Kedua kasus itu sangat umum bagi kita, dan itu merupakan wacana yang wajar, jika kita mendengarnya…APAKAH INI YANG HARUS KITA PERTAHANKAN…untuk anak cucu kita kedepannya…???
Inikah cara kita mempertahankan NKRI kita, dengan pemahaman dan keegoisan yang kita miliki yang hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok-kelompok tertentu…??? Sudah cukuplah Timor-timor minggat dari rumah(Indonesia) kita. Dan jangan ada lagi timor-timor lain yang minggat dari rumah kita. Kita harus pertahankan rumah(Indonesia) kita, meskipun yang kita lihat dan rasakan sangat pahit dan menyusahkan bagi kehidupan kita…NAMUN INILAH RUMAH KITA….
Kita harus bebenah dari diri kita sendiri terlebih dahulu, dari keluarga, sekolah, perkulian (studi), dan kemudian untuk pemerintah dan bangsa. Marilah kita selalu saling mengasihi satu sama lain dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. hanya itulah yang dapat menguatkan kita dalam keluarga Indonesia.
Semangat…Indonesiaku !!!