RAKYAT KECIL : ANTARA “ BUTUH SURGA DAN BERATNYA NERAKA NYATA “

Oleh : Budi Praptono

Sebelumnya, mari kita renungkan judul diatas,yang seolah -olah aneh ini, dengan pikiran mendalam dan bijak. Hal ini menarik untuk dibahas diakibatkan karena masih banyaknya kaum miskin di negeri ini, yang semakin parah dengan adanya krisis moneter tahun 1998 hingga berlanjut sampai dengan sekarang.

Coba kita perhatikan apa yang menjadi permasalahan orang kecil, rata-rata punya permasalahan yang hampir sejenis , yakni sandang, pangan, papan, kesehatan, biaya pendidikan anak, yang semuanya adalah masalah yang sifatnya kebutuhan dasar layaknya sebagai manusia hidup. Kalau, kebutuhan dasar tersebut bermasalah, artinya tidak ada kemampuan untuk memenuhinya, apakah bukan masalah yang besar bagi mereka? Sesuatu yang lumrah saat muncul umpatan “serasa mau kiamat”, yang lain bilang “hidup seperti di neraka”, dan lain-lain, jelas ini merupakan gambaran masalah yang sangat berat bagi mereka.

Sehingga bisa jadi, dan sangat wajar apabila rakyat kecil sangat menunggu-nungu datangnya penolong, entah apa namanya, datangnya dari mana, bajunya apa, mereka tidak peduli, yang penting bisa mengeluarkan mereka dari beban yang berat yang sudah berlangsung lama, karena “hidup seperti di neraka” . Atau dapat dikatakan bahwa saking kepepetnya, maka mereka sudah sangat pragmatis untuk ditolong. Siapa yang harus menolong, adalah mereka yang berlebih adalah wajib, ini adalah sesungguhnya semangat semua Agama, esensinya adalah mendorong umat untuk menolong kepada pihak yang lemah atau berlomba-lombalah dalam amal kebaikan. Hal tersebut berarti juara dari semua implementasi ajaran Agama, adalah pemenang amal kebaikan, dan ini harus dilakukan kepada siapa saja, tidak boleh pilih kasih, tidak mengenal SARA dan tidak boleh pamrih dalam memberikan sesuatu, selain pamrih dalam mencari Ridhlo dan Berkah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bahwasanya setelah ditolong dikeluarkan dari masalahnya yang berat, “neraka”, dan akhirnya mengidolakan dan mengikuti si penolong, selama terjadi saling tidak ada paksaan, ya sah-sah saja! Yang harus diwaspadai ketika sudah masuk wilayah pemaksaan kehendak atau pemaksaan terhadap suatu keyakinan tertentu, itu yang tidak baik Kalau hanya trik merayu, meyakin-yakinkan sesuatu yang diyakininya, rasanya semua orang dari pihak manapun sering melakukannya.

Kalau begitu harus bagaimana? Ibarat sebuah lomba balapan amal kebaikan, maka yang penting berusaha terbaik yang bisa dilakukan untuk menolong kaum lemah, tanpa terpengaruh pihak lain. Sehingga tidak perlu timbul rasa curiga mencurigai kepada pihak lain, justru yang perlu dibangun adalah semangat selalu interospeksi diri untuk selalu lebih baik dan lebih baik lagi dalam berlomba-lomba amal kebaikan. Kaum lemah, barangkali sudah tidak tahan menunggu pihak yang bisa menolong keluar dari “neraka nyata”, dan bisa jadi mereka sudah bosan hanya sekedar diiming-imingi “surga abstrak”, yang nyata ya, mereka mampu mendapatkan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan anak, dll yang selama ini membuat hidupnya terasa sumpek, bahkan menurut umpatan mereka “seperti di neraka”. Selain itu, jangan-jangan orang lemah sudah jenuh, gregetan, kepada elit-elit yang tidak pernah datang-datang untuk membantu, tetapi malah sibuk ribut dengan pihak lain, yang datang hanya nakut-nakuti tentang neraka dan ngiming-imingi tentang surga? Sekali lagi, kaum lemah butuh “Surga nyata”, karena hidupnya ada di “Neraka Nyata!” Disinilah perlunya sebuah tatanan kehidupan yang peduli dan berkeadilan agar tercipta kemakmuran! (Berpolitik.com)

4 Responses

  1. menurut saya apa yang dikatakan oleh bapak budi praptono
    adalah kenyataan yang ada saat ini. kita dapat melihat ekonomi menjadi alasan banyak orang frustasi, bunuh diri bahkan menjual anak sendiri. saat ini memang diperlukan pemimpin bangsa yang memperhatikan dan memberikan surga kepada rakyat. bukan hanya surga yang tertulis dalam laporan negara yang bisa dikarang-karang tetapi surga asli yang dibuktikan dengan adanya kesejahteraan rakyat

  2. Asslmualaikum Wr.Wb.

    Menurut saya sangat berlebihan jika kesengsaraan hidup di dunia di sebut-sebut sebagai nerak dan kesenangan hidup disebut-sebut sebagai surga dunia..Mengapa?karena saya sangat yakin bahwa belum ada orang yang masih hidup di dunia ini pernah merasakan yang namanya hidup di neraka maupun di surga..semua itu masih menjadi rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa…Memang benar nasib manusia itu berbeda-beda,ada yang dikaruniai harta yang berlimpah dan ada yang dikaruniai harta yang sangat sedikit,bahkan sangat kurang…Naman itulah kekuasaan Tuhan atas kita,Diatas langit masih ada langit,begitu juga dengan yang di bawah,masih ada yang lebih di bawah…Belum tentu yang punya harta berlimpah bahagia jiwanya, dan belum tentu yang kesulitan harta sengsara jiwanya atau tidak bahagia..
    Tuhan memberi rizky bukan hanya harta,tetapi juga hidayah terhadap hati dan jiwa…
    buat yang miskin harta,tidak jadi miskin jiwa dan hati., buat yang banyak harta,sudah seharusnya memperkaya hati dengan memberikan sebagian harta kepada yang membutuhkan…
    seharusnya seperti itu menurut ajaran agama saya…

    Jangan Berhenti,terus beropini Pak Budi…
    Wasslamualaikum Wr. Wb.

  3. saya sependapat dengan pak budi praptono. beban hidup yang semakin berat serta harga2 sandang pangan dan bbm yang semakin mahal membuat derita “neraka” bagi kita (rakyat kecil). menurut saya, pemerintah sangat berperan dalam kontek ini. masih segar di ingatan kita bagaimana ribuan rakyat miskin rela ngantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan sedekah(zakat) sebesar 25.000 sampai-sampai mengorbankan jiwa dan raga mereka. tak dapat dipungkiri pula bahwa himpitan hidup semakin menyengsarakan rakyat. juga masih ingat di ingatan kita ribuan rakyat miskin di jombang, rela ngantri berjam-jam berobat dengan seorang dukun cilik yg katanya dapat mengobati segala macam penyakit..
    hal ini tentu menjadi tanda tanya besar di benak kita sebagai pemuda harapan bangsa. kenapa mereka begitu mengagung-agungkan hal semacam itu.
    tentu jawaban nya tak lain karna faktor EKONOMI. dan ujung-ujungnya juga karna pemerintah yang tidak begitu berpihak sama rakyat kecil. oleh sebab itu, kita harus dan wajib, bersama-sama membangun moral rakyat menjadi kuat, kokoh, kreatif dan inovatif sehingga tidak akan bergantung pada sesuatu.
    tapi kita juga harus menyadarkan bahwa, kesenangan itu tidak dapat dicapai hanya dengan berdoa saja, karna sesungguh nya apa yang bakal kita capai itu merupakan sesuatu apa yang kita rintis..
    semoga saja bangsa kita bisa menjadi bangsa yang majuuuu…
    amiiin ya robbal allamin

  4. menurut saya cara berfikir masyakarat di dunia pada umumnya terlalu tertuju pada materi duniawi. Jika ada seseorang yang menderita karena masalah materi, maka orang tersebut akan merasa bahwa dia orang yang sangat menderita di dunia, padahal kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk mengejar materi karena materi hanya digunakan untuk kita bertahan hidup dan beribadah kepada Tuhan. oleh karena itu, orang yang sudah berkecukupan hendaklah saling membantu dengan orang yang masih kekurangan dan orang yang kekurangan janganlah terus menerus mengeluh dengan kesusahannya.

Leave a Reply