Menyikapi Demam Barack Obama

Masyarakat dunia di berbagai belahan dunia menanti pelantikan sang Presiden Amerika Serikat yang sangat mengidolakan  Abraham Lincoln, tokoh politisi AS, sekaligus pendahulunya pada tahun 1861.

Sebagai warga Negara Indonesia, saya sangat mencintai bangsa sendiri. Namun saya juga bisa memahami mengapa begitu banyak orang sangat berharap kepada Obama.

Pertama, Mayoritas publik AS sudah jenuh dengan pendekatan yang selama ini dipakai oleh kebijakan politik negaranya, yang cenderung mengedepankan konfrontasi, daripada pendekatan yang lebih manusiawi. Apalagi masyarakat dunia, terutama yang memang dalam pihak yang sangat diperlakukan tidak manusiawi oleh kebijakan politik negara AS.

Pertanyaannya, apa betul Barack Obama bisa menang, lantaran menentang pendekatan perang “kekerasan” dalam kebijakan politiknya? Saya kira tidak menjamin, apabila ekonomi AS tidak sedang amburadul (krisis). Jadi besar kemungkinan, kalau ekonomi AS masih bagus (stabil), bisa jadi Mc Chain dari kubu Republik yang sealiran dengan Gorge Bush yang menang. Hal ini dapat diartikan di mata publik AS yang utama adalah kepentingan ekonomi rakyatnya, dibanding kepentingan masyarakat dunia yang lain. Hal ini terbukti Gorge Bush bisa terpilih sampai dua kali.

Kedua, yang perlu digaris bawahi adalah rasa senang masyarakat dunia termasuk orang Indonesia terhadap terpilihnya Barack Obama sebagai presiden AS tidaklah salah, setidak-tidaknya dunia sudah tidak “membara” lagi seperti era sebelumnya. Tetapi yang perlu disadari adalah Barack Obama bukan presiden dunia, dia hanya presiden AS.

Selanjutnya adalah, Barack Obama dipilih oleh masyarakat AS, tentunya dia akan menjalankan pemerintahannya sebagaimana yang dimaui masyarakat AS, seandainya memikirkan dunia, karena kehendak masyarakat AS, untuk mengamankan kepentingannya, bukan atas kehendak masyarakat dunia.

Masyarakat dunia, khususnya Indonesia, jangan sampai terlena, seolah-olah semua urusan akan beres, dengan terpilihnya Barack Obama. Selesai tidaknya masalah Indonesia bukan tergantung Obama, tetapi oleh bangsa Indonesia sendiri.

Saya sependapat dengan Prof. Dr. Kusnaka  Adimihardja, MA, bahwa keterbukaan pandangan politik Obama harus diantisipasi Indonesia dengan kesiapan sistem dan proses politik yang lebih terbuka. Indonesia harus menunjukkan kemandiriannya dalam segala bidang. Agaknya, Obama dengan pandangan politik yang inovatif, terbuka, dan menghormati “kesejajaran” hubungan antarbangsa, pasti akan mendorong kemandirian Indonesia itu. Berbeda dengan kebijakan Presiden Bush yang melihat hubungan AS-Indonesia sebagai hubungan “negara pusat-negara pinggiran”. (Pikiran Rakyat, Sabtu 17/1/09).

Memang kemenangan Obama diakui atau tidak pasti menjadi inspirasi dan berdampak pada terhadap proses pembelajaran dan kedewasaan rakyat Indonesia dalam memilih presidennya. Selain itu, secara fenomenal munculnya Obama di panggung politik AS diharapkan menginspirasi bangsa dan elite Indonesia agar lebih berani mengambil sikap politik yang positif dan kondusif ke arah perubahan yang lebih baik bagi Negara yang kita cintai.

Bahkan, dalam situasi bangsa Indonesia yang semakin berat dan tidak menentu seorang presiden, saya setuju harus presiden Indonesia, yang setegar Obama, Ahmadinejad, Hugo Chavez.

AS menjadi negara adidaya bukan tanpa sebab, tetapi melalui proses yang panjang, diturunkan dari sebuah mimpi besar, yang dijalankan dengan sistemik dan sungguh-sungguh, termasuk kegeniusan mereka untuk mengkodisikan negaranya menjadi kiblat peradaban dunia, dan akhirnya berhasil membuat masyarakat dunia baik disadari atau tidak, akhirnya menganggap AS adalah panutan.

Apa betul harus demikian? Yang harus menjawab adalah keyakinan kita masing-masing yang hakiki! Bukankah manusia harus merdeka, mandiri? Hanya mau menggantungkan atau mengiblat kepada yang pantas digantungi? Siapa? Tentunya kepada Yang Maha Digantungi(Dikiblati).

Dari jiwa-jiwa bangsa Indonesia yang merdeka inilah, akan lahir keinginan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia, dengan semangat kebersamaanlah keinginan tersebut dapat terwujud, bukan semangat yang mengedepankan perbedaan yang ada.

Sekali lagi, AS bisa menjadi besar karena mimpi yang sungguh-sungguh, pertanyaannya Apakah Indonesia juga mampu? Terus mimpi kita apa?

Jawabannya adalah Indonesia harus mampu menjadi Pusat Peradaban dunia!

Apakah seperti AS? Harus lebih lebih baik dan lebih manusiawi dari AS. Sebagai mana kita ketahui AS, membangun pusat peradaban yang berorientasi pada kemakmuran duniawi, yang sempat membuat dunia terkagum-kagum, walaupun akhirnya membuat dunia akhir-akhir ini menjadi ketar-ketir dengan pendekatan kemakmuran duniawi tersebut.

Terus Apa? Jadilah Indonesia menjadi Pusat Peradaban Dunia yang berorientasi tidak sekedar duniawi, tetapi yang utama adalah pada orientasi pada nilai-nilai spiritual Ilahiah (Ketuhanan).

Budi Praptono, Staf Pengajar Institut Teknologi Telkom (IT Telkom), Ketua Forum Komunikasi Soaial Merah Putih Bersatu, Anggota Badan Musyawah (Pendiri) Forum Aktivis Bandung (FAB).

(Suara Merdeka/ http://suaramerdeka.com)

4 Responses

  1. Sungguh lucu masyarakat Indonesia, mengapa perlu mengagumi orang yang menjadi presiden Amerika Serikat hanya karena Barack pernah tinggal di Indonesia. Padahal setelah dipikir-pikir Barack juga tidak cinta-cinta betul dengan negara Indonesia ini. Kalau beliau cinta, kenapa mesti menjadi warga negara Amerika.
    Barack juga tidak akan pernah meluangkan waktunya hanya untuk mementingkan Indonesia. Ya jelas beliau kan presidennya Amerika bukan Indonesia.
    Saya setuju dengan isi artikel, ” Indonesia harus mampu menjadi Pusat Peradaban dunia!”. Indonesia harus mampu mengubah dirinya sendiri, Indonesia jangan lagi bergantung pada pertolongan negara lain. Karena jika mengutip dalam AlQur’an, dikatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah dirinya sendiri. Jadi mulailah Indonesia mandiri, berdiri sendiri, percaya diri bahwa Indonesia dapat mengalahkan Amerika Serikat dan menjadi pusat peradaban dunia. Amin

  2. Mungkin yang harus dikagumi dari sosok presiden Amerika ke 44 yg fenomenal ini (terlepas dari kebijakan yang akan ia lakukan dalam memimpin negeri adidaya tersebut) adalah bahwa ia merupakan orang biasa dari kaum yang dianggap remeh di negaranya sendiri (rasis) karena kita tahu bahwa orang kulit hitam di Amerika dulunya adalah budak yang dibawa orang kulit putih dan diprediksi tidak akan pernah bisa maju apalagi memimpin negara yang didirikan oleh orang kulit putih.

    Namun dengan semangat yang tinggi (terinspirasi dari kesuksesan sang ayah) Barack Obama bisa membuktikan kepada kita semua bahwa siapapun orangnya dan dari golongan manapun baik itu berkulit hitam apabila ia memiliki semangat yang kuat dan kegigihan untuk mewudjudkan impiannya maka tidaklah mustahil impian itu bisa di raih.

    Bila kita melihat dari pengalaman hidup yang ia jalani seperti hilangnya sosok ayah kandung saat ia kecil namun dapat terus semangat serta meraih prestasi dan sikapnya yang tidak lupa diri / lupa akan rasnya menunjukkan bahwa dalam kondisi tersulit sekalipun seseorang dapat bangkit dan meraih kesuksesan dan apabila kesuksesan itu telah di raih janganlah lupa akan jati diri sendiri.

    Ini merupakan contoh yang baik bagi para calon-calon pemimpin di negeri ini agar segera melakukan introspeksi diri sejauh mana prestasi dari calon-calon pemimpin mereka sudah diraih dan sudah sejauh mana para calon-pemimpin tersebut lupa akan jati dirinya sendiri.

  3. Mungkin yang harus dikagumi dari sosok presiden Amerika ke 44 yg fenomenal ini (terlepas dari kebijakan yang akan ia lakukan dalam memimpin negeri adidaya tersebut) adalah bahwa ia merupakan orang biasa dari kaum yang dianggap remeh di negaranya sendiri (rasis) karena kita tahu bahwa orang kulit hitam di Amerika dulunya adalah budak yang dibawa orang kulit putih dan diprediksi tidak akan pernah bisa maju apalagi memimpin negara yang didirikan oleh orang kulit putih.

    Namun dengan semangat yang tinggi (terinspirasi dari kesuksesan sang ayah) Barack Obama bisa membuktikan kepada kita semua bahwa siapapun orangnya dan dari golongan manapun baik itu berkulit berkulit hitam apabila ia memiliki semangat yang kuat dan kegigihan untuk mewudjudkan impiannya maka tidaklah mustahil impian itu bisa di raih.Bila kita melihat dari pengalaman hidup yang ia jalani seperti hilangnya sosok ayah kandung saat ia kecil namun dapat terus semangat serta meraih prestasi dan sikapnya yang tidak lupa diri / lupa akan rasnya menunjukkan bahwa dalam kondisi tersulit sekalipun seseorang dapat bangkit dan meraih kesuksesan dan apabila kesuksesan itu telah di raih janganlah lupa akan jati diri sendiri.

    Ini merupakan contoh yang baik bagi para calon-calon pemimpin di negeri ini agar segera melakukan introspeksi diri sejauh mana prestasi dari calon-calon pemimpin mereka sudah diraih dan sudah sejauh mana para calon-pemimpin tersebut lupa akan jati dirinya sendiri.

  4. Menurut saya terpilihnya Barack Obama menjadi presiden Amerika, merupakan fenoma yang terjadi pada pemilihan presiden Amerika. Mengapa? karena beliau merupakan satu-satunya presiden terpilih yang berkulit hitam (maaf, tanpa ada maksud rasis).

    Itu membuat tingkat kepopularitasannya sangat tinggi, karena masyarakat dunia sangat berharap kepada Barack Obama sebagai presiden Amerika terpilih, dapat merubah pandangan dunia terhadap negara adidaya tersebut.

    Mungkin janjinya pada saat beliau kampanye, yaitu untuk menghapus penjara Guantanamo yang dibentuk oleh presiden Amerika terdahulu untuk memenjarakan orang yang dianggap sebagai teroris tanpa ada jalur hukum (putusan hakim), membuat masyarakt dunia mengaguminya sebagai sosok lelaki yang adil.

Leave a Reply