Ipong Witono : Musuh Terbesar Bangsa Indonesia Adalah “Dirinya Sendiri”
Sudah saatnya kaum muda “merevolusi jiwa” dengan kembali kepada nilai-nilai kejujuran, nialai-nilai Iman kepada Tuhan, nilai –nilai kemandirian, nilai-nilai- sosial yang berkeadilan agar bangsa Indonesia dapat menjadi mercusuar peradaban baru dunia, terlebih setelah terjadi krisis global yang menimpa bangsa-bangsa didunia saat ini. Demikian dikatakan Budi Praptono (Ketua FKSM Merah Putih Bersatu, Pendiri Forum Aktivis Bandung-FAB) dalam orasi Kongres Kaum Muda Jawa Barat dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008 yang digelar Forum Aktivis Bandung (FAB),Selasa (28/10/08) bertempat di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House) Bandung.
“Tanpa kita berdikari dan mempunyai percaya diri yang kuat bangsa kita mustahil dapat berubah dari keterpurukan dan akan selalu menjadi sapi perahan bangsa lain” Kata Budi.
“Hari ini 28 Oktober 2008 saatnya bangsa Indonesia merdeka dan mulai melakukan revolusi dalam arti yang sesungguhnya, yakni revolusi jiwa!” Kata Budi.
Lebih lanjut kata Budi, kaum muda bukan hanya fisiknya saja, tapi memiliki semangat mencari jati diri, semangat kebebasan, kemerdekaan jiwa didalam berekspresi dalam memperjuangan nilai kebenaran, kebersamaan, keadilan, dan nilai-nilai lainnya untuk memujudkan kehidupan yang lebih beradab.
“Apakah orang yang berusia tua bisa masuk kategori kaum muda? Jawabanya Ya. Orang yang berusia tua kalau mempunyai semangat yang dinamis menuju perubahan, itu sesungguhnya berjiwa muda!” Katanya.
Musuh Terbesar Adalah Diri Sendiri
Dalam pandangan Budi, sekarang ini orang kelihatan trend beragama itu kesannya masih mengarah kepada kegenitan beragama, tidak mengarah kepada peningkatan ruh, spiritual, yang masih malu atau takut berbicara sosialisme.
“Sesungguhnya, kalau kita merasa bergama tapi tidak sosialis sebenarnya diragukan keberagamaannya. Padahal Sosialisme itu inti pokok dari ajaran agama, tetapi sosialisme yang tidak pilih kasih terhadap kelompok atau golongan tertentu” Kata Budi.
“Dimana tanggung jawab kaum muda? Adalah harus menjadi pemain utama dan di depan dalam perjuangan ini!” Katanya.
Senada dengan Budi, Ipong Witono (Budayawan,Pengusaha Muda, Ketua Ketua Forum Masyarakat Jabar untuk Perubahan) mengatakan bahwa musuh yang terbesar bagi bangsa Indonesia dan kaum muda adalah dirinya sendiri.
“Para pemimpin harus bertobat, para pemuda harus bangkit!. saudara -saudara musuh yang terbesar bagi bangsa kita, bagi para pemuda hari ini, adalah dirinya sendiri !Bukan apa, bukan siapa-siapa, tetapi bagai mana kita menaklukan kesombongan kita, kemalasan kita, kemunafikan kita! Semua ada dalam diri kita” Kata Ipong.
Oleh karenanya menurut Ipong, para pemuda dan rakyat Indonesia harus sanggup berusaha untuk bergerak sungguh-sungguh dalam memperbaiki diri dan berusaha untuk mandiri agar mampu “memerdekakan jiwa”.
“Mari kita bebaskan mari kita merdekakan diri kita lewat sumpah pemuda. Kita tidak bisa hanya diam, kita harus bergerak, kita harus bersungguh-sungguh” Kata Ipong.
15 Tokoh Kaum Muda, Politisi dan Budayawan
Dalam kongres tersebut, hadir memandu acara Aat Suratin (Budyawan), kongres diawali diawali Monolog “Indonesia Menggugat” Oleh Wawan Sofwan (Aktor, Sutradara Teater) dilanjutkan dengan orasi politik para tokoh kaum muda, politikus, dan Budayawan. Para Tokoh muda yang menyampaikan orasi politik diantaranya Fadjroel Rahman (Aktivis, Pelopor Capres Independen 2009), Dede Yusuf (Wagub Jabar, Tokoh Muda), Yudi Crisnandi ( Politisi/Anggota DPRRI), Radhar Panca Dahana (Sastrawan, Budayawan), Yudi Latif (Pengamat Politik, Pengasuh Pesantren Ilmu Kemanusiaan dan Kenegaraan), Budi Praptono (Ketua FKSM Merah Putih Bersatu, Pendiri FAB), Khalid Muhammad ( Direktur Eksekutif Sarekat Hijau Indonesia, Aktivis Senior WALHI), Usman Hamid (Koordinator Kontras), Boni Triana ( Sejarawan, Wartawan), Ipong Witono (Budayawan, Pengusaha Muda), Hetifah Sj Sumarto ( Intelektual, Direktur Eksekutif Bandung Trust Advisory Group), selain tokoh kaum muda tersebut diatas, Abah Iwan Abdurahman hadir memberi pencerahan jiwa kepada peserta kongres lewat lagu dan narasinya, sementara itu Sana (Mahasiswi ITB) tampil menyampaikan orasi mewakili kalangan mahasiswa, sedangkan dari Kalangan Pelajar orasi diwakili oleh Regia Jafar (Siswa SMAN 11 Bandung).
Selain orasi acara juga diselingi dengan pentas seni dan budaya, menghadirkan tim Lentera Nusantara, Mukti Mukti (Penyanyi Balada Bandung), Musikalisasi Puisi oleh Grup Kapak Ibrahim, Pentas Seni Perkusi oleh Percutwo ( Siswa/siswi SMU N 2 Bandung) dan Ali Santika ( Siswa SD Pelita 2 Bandung) menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi” tanpa diiringi alat musik. Saat Ali menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi” tidak sedikit peserta kongres yang menitikan air mata tanda haru.
(Opinimasyarakat.com)
Filed under: Kegiatan | Tagged: budi praptono, Ipong Witono



bagaimana menurut bapak cara ny kaum muda yang ingin merevolusi jiwa, tapi tantangan darilingkungan cukup besar,,
bagaimana cara ny pak?
Intinya, adalah melakukan segala sesuatu dengan penuh kesadaran dengan segala resikonya! dan seandainya resiko yang terjadi maka kita tidak boleh sampai tidak bisa bangkit, atau sampai tergantung kepada pihak lain! Makanya pahami semangat mandiri, adalah bukan berarti menutup diri, tetapi tetap membuka diri dengan pihak lain dengan penuh kesadaran, saling memberikan manfaat yang proporsional!
Nanti kita sambung lagi, dan semoga menjadi sahabat diantara kita!
Saya sangat setuju sekali dengan statement musuh terbesar adalah diri sendiri. Diri sendiri adalah akar untuk segala hal yang terjadi di Indonesia baik itu yang benar maupun yang buruk…
Kita tahu semua itu dimulai dari yang kecil sebelum maju ke yang lebih besar. Begitu juga dalam membangun bangsa ini, dimulai dari diri sendiri.
Musuh ini akan semakin besar apabila kita terlalu takut untuk menghadapinya dan hal ini yang mengakibatkan kita tidak mau untuk mengawalinya. Memulai suatu tindakan adalah hal yang cukup sulit, namun kita harus menyadari tanpa adanya awalan, kita tidak akan menuju ke proses selanjuntnya.
Apakah kita mau hanya diam tidak melakukan apa-apa?
Mulailah dari hal kecil yang menurut kita, cukup mudah untuk dilakukan. Dengan memulai dari hal kecil,kita akan secara tidak langsung menambah kesadaran akan diri kita dan mau melakukan hal yang lebih besar dan jangan pernah takut dengan yang namanya tantangan, apalagi kita sebagai kaum muda/i penerus bangsa Indonesia.
Pak, bagaimana caranya kami sebagai generasi muda untuk mendobrak paradigma lama para orang-orang yang merasa dituakan [disegani] yang kami anggap mereka tidak kompeten untuk menangani suatu persoalan..padahal kami yakin dengan kemampuan kami yang muda-muda ini [bukan sombong atau takabur pak] persoalan itu akan lebih gampang diselesaikan..
sebagai sedikit contoh kecil saya ingin bercerita sedikit pak..
pas penghitungan suara kemaren contohnya di daerah saya..ada pemilih yang mencontreng gambar partai dan gambar caleg dalam satu surat suara.. ternyata oleh panitia [yang mengaku tua dan berpengalaman dalam pemilu] memasukkan suara ke parpol dan ke caleg..secara logika pun kita bisa ambil keputusan kalo itu akan mengakibatkan suara yang di record tidak sama dengan fisik kertas suaranya..dan saya yang ikut menyaksikan penghitungan suara memberanikan diri untuk memberi pendapat bahwa itu suara dimasukkan saja ke daftar perolehan suara caleg tanpa dimasukkan lagi ke parpol..namun ya begitu, karna saya hanya dianggap anak muda kuliahan yang sok2 ngerti, pendapat saya ditolak mentah2..
dan ujung2nya mau tau seperti apa pak? penghitungan diulang lagi..hahahaha..saya hanya bisa tersenyum melihat ke-egoan bapak2 lingkungan saya yang terhormat..
bagaimana yang muda akan berkontribusi kalo dalam hal kecil [mungkin sebenernya ga kecil juga karna konteksnya kan pemilu hehehe] aja kita diremehkan..
bagaimana tanggapan bapak?