Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ‘Revolusi Belum Selesai”

Oleh : Budi Praptono,Ir.,MM

Revolusi ‘45 masih berupa revolusi fisik. Istilah ini mungkin agak mengagetkan. Paradigma fisik dalam kebiasaan kita adalah gedung, mobil, dan lain-lain. Tetapi, kalau kita renungkan tantangan bersama pada saat berjuang untuk merdeka yang akhirnya berhasil pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah masih ada bentuknya secara jelas ‘penjajah Belanda.’ Sehingga masih mudah dijual kepada masyarakat untuk menjadi tantangan bersama.

Ini tidak ada sedikit pun mengurangi rasa hormat saya kepada para pejuang bangsa. Bahkan bentuk penghormatan saya sebagai anak bangsa dan sebagai generasi penerus untuk patuh kepada amanah pendahulu yang disampaikan oleh Bung Karno tentang ‘Revolusi Belum Selesai’ mengingatkan kita sebagai generasi penerusnya keberhasilan dalam proses yang panjang masih koma belum titik.

Runtuhnya Orde Baru lewat reformasi jilid satu pada tahun 1998 belum merupakan jawaban ‘Revolusi Belum Selesai’ karena pasca reformasi bangsa ini tidak segera berubah ke arah yang lebih baik. Para pemimpin bangsa yang mengemban amanat reformasi masih terlena dengan kebiasaan buruk yang menggerogoti cita-cita bangsa yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme. Akankah lahir reformasi jilid kedua? Kalau reformasi jilid kedua lahir, maka seyogiyanya reformasi tersebut sekaligus menjadi jawaban ‘Revolusi Belum Selesai’ yakni reformasi bukan hanya pada tataran bentuk atau syariat tetapi harus lebih mendasar yakni pada tataran hakiki “seperti semangat pada syair lagu kebangsaan Indonesia Raya, bangunlah jiwanya dahulu, baru bangunlah badannya”, sehingga sekarang ini reformasi telah kehilangan nuansa arah, yang terasa sekedar hanya asal beda, terkesan tergopoh-gopoh, sehingga rakyat merasa kebingungan, mudah-mudahan belum sampai pada tahap frustasi atau apatis. Yang menjadi pertanyaan sampai kapan hal ini dibiarkan, jangan sampai rakyat sudah berubah pada tahap frustasi atau apatis, yang selangkah lagi kalau tidak hati-hati menuju pada tahap anarkis “revolusi fisik”.

Kekawatiran inilah, sehingga penulis yang utama hanya dengan modal semangat, mengingatkan dan urun rembug, agar hal tersebut tidak terjadi!

Berikut beberapa pemikiran yang mungkin dapat mengantarakan kepada pencarian jawaban dari ‘Revolusi Belum Selesai’ :

Revolusi Jiwa yang Merdeka. Jiwa adalah fitroh, suci, sehingga sesungguhnya hanya mau dengan yang suci. Dan, hanya mau tunduk patuh kepada Yang Maha Suci. Bung Karno mengestafetkan kepada generasi penerusnya untuk melanjutkan revolusi memerdekakan jiwa-jiwa Bangsa Indonesia agar tidak terjajah oleh penjajah-penjajah jiwa.

Dengan berbagai bentuknya, semua yang bukan Tuhan, termasuk agama. Mengapa agama juga termasuk. Yang jelas agama bukan Tuhan. Hanya sebagai panduan. Sarana atau alat untuk mengenal Tuhan agar manusia sempurna hidup menurut maunya Tuhan.

Dengan Jiwa yang merdeka maka kita akan dapat mengisi kemerdekaan. Berdasarkan maunya Jiwa yang otomatis maunya Tuhan, Kalau meminjam istilah Steven Covey, dalam bukunya 7 Habits, manusia yang efektif adalah manusia yang dapat membangun kesadaran dan bertanggung jawab pada mental agar tidak dikuasai orang lain atau lingkungan. Pertanyaannya sudahkan kita merdeka dalam kategori ini.

Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi. Ibarat peralatan elektronika, maka yang utama, agar berfungsi alat tersebut, adalah harus menyambung kepada jaringan PLN/sumber listrik. Tentunya hal yang utama dilakukan oleh semua manusia yang peranannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Maka sebagai wakil harus ketemu dulu dengan yang diwakili karena Tuhan adalah Maha Suci. Maka tidak mungkin yang tidak suci bisa bertemu dengan Yang Maha Suci.

Apa yang disebut manusia suci. Adalah manusia yang dalam jiwanya. Tidak ada yang lain kecuali Tuhan itu sendiri, orientasi, semangat, usahanya, hanya semata-mata karena Tuhan saja titik.

Dengan demikian, urusan dengan Tuhan, tidak bisa dengan penafsiran atau mengikuti penafsiran orang lain atau kelompok elit. Harus pasti. Makanya harus ketemu atau menyambung dengan Sang Pencipta, dan wajib dilakukan oleh semua orang. Di sinilah, kenapa Nabi Muhammad, dan nabi-nabi atau orang-orang suci, mendorong semangat sahabat. Bukan semangat guru dan murid agar manusia sejajar hubungannya di mata Tuhan.

Kesalehan Sosial. Setelah bertemu atau istilahnya nyambung dengan sumber listrik ibarat alat elektronika akan berfungsi dengan sendirinya. Dengan demikian dengan berfungsinya alat tersebut, kalau lampu menyala, kalau radio berbunyi, maka dengan menyalanya lampu dan berbunyinya radio, otomatis itulah yang dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan. Sebagai bentuk kesalehan sosial yang sesuai maunya Tuhan. Bukan maunya manusia itu sendiri.

Di mana letak kesalahan manusia pada umumnya. Adalah pada kesalahan cara, semangat dalam mengejawantahkan bentuk kesalehan sosial, menganggap bahwa kesalehan sosial adalah tujuan, kitalah yang mengusahakan.

Padahal kita ini hanya merupakan alat atau robot. Sarana Tuhan bekerja. Ibarat cara kerja robot, apakah robot bekerja, adalah maunya robot. Atau robot dapat bekerja sendiri. Tentunya robot dirancang dulu, diprogram dulu, baru sang robot dapat bekerja menghasilkan sesuatu. Dengan demikian, pantaskah, manusia merasa bisa, atau mengaku yang berkarya.

Pemaksaan Kehendak. Sebagaimana sebuah organisasi atau pabrik tentunya Sang Pembuat Pabrik, menciptakan semua perangkat, sarana prasarananya, termasuk aturannya agar harmonis sehingga tujuan dapat tercapai sesuai maunya Sang Pembuat. Dengan demikian, pantaskan kita ini hanya bagian kecil dari sistem yang dibuat Sang Pencipta, memaksakan kehendaknya terhadap bagian yang lain.

Bhinneka Tunggal Ika dengan Dasar Pancasila. Meminjam perumpamaan pabrik lagi, tidak mungkin pabrik dapat berjalan dengan baik. Kalau semuanya sama, seragam, agar berjalan dengan baik maka harus ada yang memerankan peran yang berbeda.

Otomatis pasti beda baik bentuk, proses, dan sebagainya. Ini semua merupakan Hak Mutlak Tuhan. Jadi kalau ada pihak atau orang yang memaksakan kehendaknya sudah barang tentu melawan yang punya Hak Mutlak. Tuhan itu sendiri.

Keyakinan Tidak Bisa Dipaksakan. Dari manakah datangnya keyakinan. Kalau mau jujur, kita tidak dapat menjawabnya, seandainya bisa, hanyalah pendekatan ilmiah. Mungkin dari lingkungan, keturunan, atau dari baca buku, perjalanan hidup, yang semuanya serba tidak tuntas. Padahal yang sesungguhnya yang membuat adalah Sang Maha Pembuat. Ya Tuhan itu sendiri.

Dengan demikian pantaskah kita mempermasalahkannya dan memaksakannya harus seperti kita. Berarti sama saja kita memaksa Tuhan.

Dalam hal ini, kenapa para Nabi atau orang-orang suci hanya mengajak atau menyampaikan pesan saja. Bukan memaksanya. Karena untuk berubah adalah urusan dia sendiri dengan Tuhannya.

Apalagi urusan dengan Tuhan. Adalah unik. Dan, Tuhan sendiri adalah tidak bisa dimodelkan dengan apa saja. Maka hubungan dengan Tuhan tidak dapat dimodelkan secara baku. Artinya unik sesuai dengan keyakinan masing dan ini selalu tumbuh dan berproses unik pula.

Urusan Dunia atau Kesalehan Sosial. Ibarat peralatan telekomunikasi agar dapat saling berkomunikasi dengan baik, dengan noise yang rendah, maka perlu standardisasi, aturan main, kesepakatan. Tentunya aturan main yang tidak melanggar asas keadilan, kerelaan atau keikhlasan. Tidak ada semangat mendolimi kepada yang lemah atau minoritas.

Sesungguhnya hukum atau fikih adalah hanya dipakai untuk mengatur orang-orang yang masih belum atau sedang menuju ketemu Tuhan. Atau dengan kata lain kalau orang jiwanya sudah merdeka maka sudah tertata dengan sendirinya.

Jadi seandainya hukum positif tidak melarang orang itu mencuri maka orang tersebut tidak akan mencuri. Tidak akan mencurinya bukan takut sama hukum buatan manusia tetapi karena jiwanya tidak menghendaki untuk mencuri. Karena tahu Tuhan tidak berkenan kita mencuri.

Karena mayoritas manusia adalah belum merdeka jiwanya maka hukum positif menjadi perlu. Coba kita renungkan, zaman dulu, orang yang mayoritasnya jiwanya sudah merdeka maka cukup dengan norma atau hukum adat yang tidak tertulis sudah cukup, sekarang?

Dengan manusia yang mayoritas sudah kehilangan jiwanya atau jiwanya terpasung maka hukum harus semakin mengikuti model programa komputer. Harus terinci dan operasional supaya tidak ada interpretasi.

Kebijakan Pembangunan. Arah kebijakan pembangunan adalah harus dimulai dari pembangunan diri ‘jiwa’ bangsa Indonesia. Kemudian dikembangkan pembangunan yang lain yang disesuaikan dengan kebutuhan khas bangsa dan Negara Indonesia. Dengan semangat saling kerja sama di antara komponen bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia.

Dengan demikian jangan sampai mengubah bangsa kita ingin jadi bangsa Arab, Eropa, Amerika, Jepang, India, China, dll.. Atau jangan sampai kita meniru strategi pembangunan dari bangsa lain tanpa disesuaikan dengan format yang pas dengan kondisi bangsa kita.

Atau dengan kata lain globalisasi dengan segala modelnya termasuk persaingan bebas adalah bukan menjadi tujuan. Tetapi, hanya merupakan salah satu sarana atau tantangan zaman yang harus diupayakan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia khususnya dan bangsa-bangsa lain pada umumnya. Dengan demikian apa saja yang menjadikan bangsa kita khususnya dan bangsa-bangsa lainnya terpuruk harus kita minimalkan.

Gagasan ini sudah barang tentu hanya merupakan bagian dari pemikiran bagaimana mengisi semangat yang telah disampaikan oleh Bung Karno bahwa revolusi belum selesai. Bangsa dan Negara Indonesia sangat menanti-nanti semua anak bangsa untuk ikut berperan aktif dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu kita. Untuk memenuhi harapan Ibu Pertiwi agar bangsa Indonesia gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa para pejuang pendahulu kita sampai dengan Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Augustus 1945, adalah sudah dipenuhi dengan semangat kemerdekaan jiwa. Dengan segala plus minusnya kitalah yang harus meneruskan amanah mulia ini yaitu mengisi kemerdekaan dengan semangat jiwa yang yang berdaulat.

Akan Lahir Pemimpin Hebat

Manusia yang jiwanya tidak merdeka akan mudah diintervensi atau dijajah oleh pihak lain. Atau dengan kata lain rakyatlah yang menciptakan produk penjajah karena wujud penjajah tidak akan berhasil kalau berhadapan dengan rakyat yang jiwanya merdeka.

Maka, lahirnya pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau dengan sebutan sejenis lainnya, muncul dari rakyat yang jiwanya terjajah, terpasung oleh apa saja yang bukan Tuhan.

Dengan semangat, pembebasan jiwa, maka tidak akan terbentuk kelompok-kelompok semu, apa karena keluarga, asal daerah, sekolahan, perguruan spiritual, agama, dll.. Maka tidak akan terjadi pihak-pihak yang dapat memanipulasi atau memanfaatkan dari terbentuknya kelompok tersebut.

Apakah untuk kepentingan partai, bisnis, kekuasaan, dll., yang semuanya adalah untuk kepentingan duniawi semata, yang cenderung tidak adil. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa para elitlah yang tergoda untuk memanfaatkannya, yang cenderung pada kepentingan pribadinya.

Dengan semangat jiwa-jiwa yang merdeka, maka ikatannya adalah langsung pada nilai-nilai Ketuhanan itu sendiri. Dengan demikian seandainya akan memilih pemimpin maka pertimbangannya adalah nilai-nilai ilahiah itu sendiri sehingga akan lahir pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiah.

Adil dan Makmur

Kenapa, koq bukan Makmur dan Adil? Tentunya, ini punya makna di balik Tujuan Negara tercinta ini. Bukankah, Negara kita selama ini masih dikelola dengan semangat Makmur dan Adil, yakni dengan konsep “trickle down effect“, membuat pertumbuhan-pertumbuhan dulu, baru hasil pertumbuhan tersebut dibagi-bagi supaya adil.

Konsep ini, kelihatannya sangat bagus, sistematis, dan menjanjikan. Tetapi, sebenarnya baik secara konsep maupun secara pengalaman terbukti menjadikan hasil yang semakin lama semakin tidak adil.

Adil, konkritnya apa? Jawabannya adalah bisa panjang lebar, tetapi saya punya model yang sederhana, tentunya namanya model tidak dapat mewakili secara utuh. Tetapi kira-kira adalah bahwa kue pembangunan yang dinikamti oleh masyarakat tidak boleh terlalu besar perbedaannya.

Atau dalam bahasa statistik variansinya tidak boleh besar. Tetapi, tidak mungkin dibuat sama dengan nol baik secara filosofi maupun secara praxis. Perbedaanlah yang membuat sistem menjadi hidup maupun secara proses. Pasti terjadi variansi.

Fakta membuktikan, Negara mana pun di dunia yang masyarakatnya dianggap lebih maju dari Indonesia variansinya diusahakan kecil. Sebagai contoh gaji tertinggi dan gaji terendah perbandingannya maksimal sekitar 20 : 1, dan pajak kekayaan dan pajak keuntungan, semakin tinggi nilai kekayaan dan keuntungan. Pajaknya semakin besar. Bahkan di Negara-negara Skandinavia malah bisa mencapai 50%.

Indonesia? Sudah sangat jelas yang atas menyesuaikan sendiri “naik dengan pasti”, yang bawah yang sekedar menuntut UMR (Upah Minimum Regional) saja. Harus demo yang bertele-tele. Bahkan sampai ada yang berdarah-darah yang belum tentu berhasil.

Dengan didorong menuju variansi yang tidak besar maka hasil perasan tadi dipakai untuk membangun fasilitas umum, jaminan, pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok yang lain.

Baik skala dunia, maupun di Indonesia, ketimpangan semakin melebar, sekarang ini di tingkat dunia, di Indonesia tidak jauh berbeda, bahwa: 10% penduduk, menikmati sekitar 90% hasil pembangunan. 90% penduduk, hanya menikmati sekitar 10% hasil pembangunan.

Apa sih dampak dari ketidakadilan tersebut? Pertama, ternyata dengan variansi yang sangat lebar mendorong orang semakin terkonsentrasi pada materi yang dia terima. Bukan pada usaha meningkatkan prestasinya. Dan ini tidak hanya berlaku yang di bawah. Tetapi terjadi di semua level. Maka yang di bawah wajar menuntut tetapi yang di atas gajinya dibuat terus meningkat bisa sampai 250 juta per bulan.

Kenapa ini bisa terjadi. Ya tadi, orang tidak bangga terhadap prestasi. Tetapi bangga dengan penampilan yang berorentasi selalu pingin naik dan naik terus, pingin seperti yang di atasnya. Kalau di Indonesia tidak ada, ya cari benchmark penampilan dari luar negeri. Tidak sadar negeri kita ini bukan Singapura, Jepang, AS. Standar kita beda tetapi kalau pingin meniru kerja kerasnya, ya bagus, bahkan wajib.

Kedua, Kondisi yang timpang tersebut berdampak selain ketidakharmonisan di antara umat manusia dengan kerakusannya, berdampak pada kerusakan alam yang semakin parah, banjir di mana-mana, angin ribut, es kutub mencair, pemanasan global, pencemaran lingkungan, dll.. Inilah yang merupakan satu dari lima ketakutan PBB yakni masalah kondisi lingkungan yang menurun.

Coba kita kaji solusi alternatifnya: Pertama, dari kelompok 90% kurang beruntung tadi, kita tingkatkan seperti yang 10% beruntung. Ini kelihatannya adil, tetapi selain susah, juga berpikir agak nakal, baru 10% penduduk yang menikmati saja, lingkungan sudah sangat parah, apalagi yang 90% penduduk, ikut-ikutan menikamati seperti yang yang 10% penduduk klas atas tersebut. Apa tidak kiamat?

Ilustrasinya, seandainya suatu kampung ada yang membangun sebuah kolam renang, sudah membuat kampung tersebut sering kekeringan, bisa dibayangkan, kalau yang lain juga membangun kolam renang?

Kedua, kue pembangunan yang dinikmati berlebih oleh kelompok orang yang 10% tadi diturunkan, yang hasil pengurangan tersebut baik lewat pajak, sistem penggajian, dll., dimanfaatkan untuk meningkatkan kelompok yang tidak beruntung, yang 90% penduduk tadi. Termasuk untuk meningkatkan fasilitas umum, pendidikan, kesehatan, dll..

Ini, kelihatannya bagus, tetapi masih belum menyelesaikan masalah lingkungan yang sudah parah; kenapa? Karena total tingkat konsumsinya adalah sama tahu tidak berkurang.

Ketiga, mirip seperti yang kedua, tetapi konsumsi diturunkan, agar lingkungan menjadi seimbang. Masalahnya apa? Ternyata niat kita, doa kita, tindakan kita, adalah seragam, yakni dalam rangka lebih kaya, lebih konsumtif, dengan beragam bentuknya, yang ujung-ujungnya ingin memperkosa alam. Berarti ada yang salah tentang konsep makmur karena kalau sudah benar maka alam pasti bersahabat dengan kita.

Makmur, itu binatang apa? Banyak konsep yang telah kita ketahui tetapi ternyata yang kita ikuti adalah konsep hedonisme. Kenapa ini bisa terjadi? Ternyata, pendidikan yang kita terima sampai di perguruan tinggi adalah diturunkan dari nilai-nilai semangat hedonisme, semangat duniawi, baik itu strategi pembangunan ekonomi, manajemen perusahaan, pemasaran, konsep kesejahteraan, dll..

Penjelasannya, bisa sangat panjang, tetapi ringkasnya sebagai contoh dalam strategi ekonomi, konsumsi didorong naik, agar perusahaan ada pasarnya. Dengan pasar naik maka perusahaan produksinya naik sehingga kesempatan kerja naik. Dengan demikian ada daya beli. Dengan daya beli naik maka konsumsi naik. Apa lama-lama daya dukung alam, masih mampu memenuhi keinginan manusia tersebut, yang makin lama, makin meningkat, akibatnya alam berontak.

Berarti, konsepnya salah. Kenapa salah. Sesuatu yang sudah benar kalau dilaksanakan alam semesta akan mendukung. Apa, yang dimaksud makmur yang sesungguhnya? Apa, bukannya kenikmatan batin atau kemakmuran jiwa?

Untuk menjawab ini tentunya dengan jiwa yang tenang. Tidak dengan nafsu. Pasti seragam menjawab “setuju”.

Bukannya tukang becak, banyak yang dapat merasakan kebahagiaan, sebaliknya banyak pejabat tinggi, pengusaha sukses, banyak yang tidak nikmat hidupnya? Ini semua untuk meyakinkan kepada kita, bukan materi yang membuat bahagia, tetapi rasa syukur kita, kepatuhan kita sebagai umat manusia dalam menjalankan perintah Tuhan.

Apakah, kita tidak perlu duniawi? Kita tidak akan bisa lepas dengan urusan duniawi, tetapi bukan menjadi tujuan. Tujuan kita adalah membangun kepatuhan jiwa terhadap tugas mulia dari Tuhan, dengan sarana dunia agar kehidupan kita bersama mendapatkan berkah.

Dengan demikian apapun yang kita lakukan, apa itu menata Negara, pembangunan, bermasyarakat, dll. dalam rangka membangun jiwa merdeka yang tunduk patuh kepada Tuhan. Kalau tidak, kesannya menyembah Tuhan, padahal sebenarnya menyembah makhluknya Tuhan, bisa berupa harta, tahta, termasuk tempat ibadah, termasuk agama itu sendiri, “seperti tulisan sebelumnya bahwa agama itu bukan Tuhan, hanya sebagai pedoman untuk sempurna di mata Tuhan”.

Sehingga semangat yang dibangun adalah tidak sekedar mencari nikmat tetapi mencari berkah; karena nikmat belum tentu berkah, tetapi kalau berkah pasti nikmat “secara batin”. Sebagai contoh, orang korupsi bisa-bisa merasa nikmat, namun tidak berkah. Tetapi, menolong orang yang kesusahan adalah berkah dan nikmat secara “batin”.

Individualis Sekaligus Sosialis

Kelihatannya aneh, tidak masuk akal, atau kontradiktif. Tetapi, kalau kita renungkan, bukannya hubungan kita, tanggung jawab kita kepada Tuhan, adalah tanggung jawab individu?

Kenapa Bung Karno membuat istilah “Berdikari” berdiri di atas kaki sendiri, adalah suatu semangat jiwa yang tidak minta dikasihani, jiwa yang tidak tergantung, jiwa yang berusaha mengatasi permasalahan dengan segala kemampuannya; tetapi bukan berarti menolak bantuan, atau kerja sama, tetapi bantuan atau kerja sama yang tidak memasung kemandirian kita, bantuan atau kerja sama yang saling menguntungkan, dengan semangat saling menghargai.

Atau dengan kata lain, bantuan atau kerja sama, bukan menjadi tujuan, tetapi hanya sekedar sarana, dalam rangka untuk membuat tujuan agar lebih efektif dan efisien; dengan demikian, jangan sampai dengan adanya bantuan atau kerja sama, malah membuat tujuan menjadi melenceng atau terganggu.

Di sinilah adanya suatu semangat “tauhid murni” yakni hanya Tuhan yang Maha Esalah yang hanya layak digantungi, layak dimintai tolong, bukan kepada makhluk-makhluknya Tuhan, dengan beragam bentuknya. Tentunya sesama makhluk Tuhan adalah perlu dibangun semangat kerja sama yang saling menghargai.

Di mana letak sosialnya? Adalah pada semangat yang pada kewajiban kita sebagai makhluk sosial, dengan cara kita menikmati hak-hak kita secukupnya, maka kita akan mempunyai kekuatan untuk dapat membantu mengatasi permasalahan-permasalahan orang lain, yang secara struktural maupun kultural perlu untuk kita tolong.

Dengan demikian, dalam menyelesaikan kewajiban adalah dengan semangat dimulai dari kewajiban yang paling dekat atau yang paling mungkin dilakukan, baru semakin keluar dan seterusnya; dengan kita menjalani seperti ini otomatis dampaknya adalah kesalehan sosial. (baca:Kesalehan Sosial)

Ratu Adil, Satrio Piningit

Menunggu Satrio Piningit di luar diri kita, itu baik-baik saja, tetapi sebenarnya semangatnya, tugas tersebut adalah panggilan kita semua, dalam konteks dan skala Ratu Adil atau Satrio Piningit yang berbeda.

Coba, kalau kita renungkan, makna dari Satrio Piningit atau Ratu Adil “Satrio pinandito, pandito sinatrio“; adalah satrio yang menegakan keadilan, yang berlandaskan kehendak Tuhan atau kalau ulama, adalah ulama yang berjiwa satrio, berani menyampaikan dan bertindak yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, menurut kehendak Tuhan, bukan atas dasar “pesanan sponsor” kelompok/golongannya saja atau sang penguasa yang dholim.

Apakah ini, bukannya tugas semua manusia di dunia? Kalau saya meminjam istilah di Islam, tugas manusia adalah sebagai khalifah di dunia, wakil Tuhan di dunia, untuk “memayu hayuning bawono”; sebagai pemimpin untuk membuat alam semesta menjadi sejahtera; di sini jelas adalah untuk seluruh alam semesta, tidak hanya untuk kelompok atau golongan saja.

Memang, Indonesia, perlu dipimpin Satrio Pinandito, tetapi Indonesia, kan tidak hanya presiden saja, ya ada pedagang, Pak RT, Pak Guru, tukang ojek, dll. Di sinilah letak permasalahan! Yang membuat bangsa Indonesia tidak maju, atau Indonesia tidak berkembang, yakni kerjaannya hanya menunggu kedatangan dewa datang dari langit “Satrio Piningit”, yang tiba-tiba bisa mengubah dalam waktu sekejap Indonesia menjadi Adil dan Makmur; tanpa kita berusaha untuk andil menjadikan Indonesia menjadi Adil dan Makmur.

Sudahkah kita mulai berusaha? Biarlah yang lain belum berubah kita mulai dari diri kita sendiri dulu. Kita tidak perlu menunggu orang lain. Jangan-jangan yang terjadi hanya saling menunggu saja. Jadi tidak ada yang memulai. Maka tidak salah yang terjadi adalah hanya sekedar menunggu datangnya “Satrio Piningit” saja.

Tetapi, saya pribadi bukannya tidak percaya mujizat Tuhan “apa yang tidak mungkin menurut Tuhan”, tetapi ini Hak Mutlak Tuhan. Artinya bukan menjadi urusan kita. Selamat berjuang untuk Indonesia menuju Adil dan Makmur.

Penulis : Ketua FKSM MPB(Forum Komunikasi Sosial Masyarakat Merah Putih Bersatu), Anggota Badan Musyawarah (Pendiri) Forum Aktivis Bandung(FAB)

(www.forumaktivisbandung.com)

20 Responses

  1. menurut saya, untuk sekarang pemerintah sudah mulai ingin membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. walaupun dilakukan secara bertahap. misalkan saja untuk masalah korupsi, kolusi, dan Nepotisme yang sudah di tangani secara serius. Sudah banyak para koruptor yang masuk penjara. mungkin ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia sendiri sudah ada kemauan untuk benar-benar menjadi negara yang “adil dan makmur”.

    Selain itu untuk sekarang masalah yang tidak kalah penting nya adalah bagaimana cara membina para anak muda zaman sekarang yang terjerumus kedalam dunia hitam, misalnya saja banyak sekali anak muda yang kecanduan pada Narkotika, pergaulan bebas, dan dunia malam. Bagaimana Negara kita mau menyelesaikan evolusi ini kalo rakyat nya saja acuh tak acuh. Bagaimana negara ini punya pemimpin yang dapat memimpin bangsa nya bila generasi muda nya berantakan. Selain itu tingkat kelulusan yang rendah pun membuktikan bahwa generasi muda kita sudah mulai malas belajar.Masalah seperti ini harus ditangani secara serius.

    Intinya apabila kita ingin bangsa kita maju,sukses, dan benar-benar merdeka maka harus didukung oleh rakyat nya dan dipimpin secara arif dan bijaksana.kesadaran bahwa bangsa ini harus bangkin pun harus ditanamkan pada setiap orang.

    ayo kita bangun bangsa yang bener-benar merdeka tanpa harus bergantung pada negara lain….

    Dengan Semangat dan kerja keras sarta rasa syukur yang harus ditanamkan pada diri kita masing-masing kita bangun bangsa ini…!!

  2. Jadilah diri sendiri. Menurut saya, itulah apa yang seharusnya bangsa kita ini peru lakukan. Keterpurukan yang selama ini melanda Indonesia disebabkan karena kita sudah kehilangan figure pemimpin yang mempunyai pendirian yang kuat. Kita terlalu mudah untuk dipengaruhi oleh pengaruh dari luar. Karena itu sekarang kita seperti bangsa yang telah kehilangan jatidiri karena terkesan bangsa ini “ikut – ikutan”. Padahal sebenarnya jiwa bangsa Indonesia terkandung jelas dalam Pancasila. Pancasilalah yang menjadi cita – cita bangsa ini. Mari kita kembali maknai nilai – nilai Pancasila yang luhur dan kembali kepada jatidiri bangsa Indonesia. Mungkin memang benar bahwa Negara kita yang sedang dilanda berbagai permasalahan ini sedang dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi suatu kekuatan baru di dunia. Karena itu lewat reformasi jilid 2 yang merupakan pengejawantahan dari Jawaban “Revolusi Belum Selesai”, mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk menjadi manusia yang merdeka seutuhnya.

  3. Menurut saya memang benar bahwa revolusi sekarang yang dilaksanakan adlah revolusi fisik saja yang berupa bebas dari penjajahan belanda, ini dapat dilihat dari keadaan bangsa indonesia dalam segi ekonomi yang cukup bagus tapi dalam segi kemanusiaan masih sangat lemah,bagaimana pembangunan yang dilakukan di Indonesia hanya memihak perorangan.Saya sangat tertarik dengan bahasan “adil makmur kenapa bukan makmur dan adil”, jarang orang yang memahami makna dari adil dan makmur, sayapun baru tahu kenapa harus adil dan makmur,tapi memang menarik.Pernah saya diskusi dengan teman saya bagaimana meratakan pembangunan Indonesia supaya 100% pembangunan dinikmati oleh 100% rakyat indonesia.Nah dari diskusi tersebut ada celetukan kenapa ibu kota indonesia dipindah setiap beberapa tahun,soalnya tiap ibukota negara pasti akan lebih maju dari kota lain,tapi itu tidak mungkin dilakukan karena banyak faktor yang diperlukan untuk menjadikan suatu kota menjadi ibukota negara.Ada cara lain untuk meratakan pembangunan misalnya pemekaran wilayah yang potensial.Memang kemakmuran penting sekali,tapi jika sendirian makmur dan lingkungan di sekelilingnya apa menyenangkan??Adil adalah yang utama dari pembangunan indonesia setelah itu kita capai kemakmuran bersama.

  4. Saya cukup tertarik dengan tema yang diangkat pada tulisan ini. Dengan alur cerita yang menarik, penulis menceritakan, menghimbau, mengingatkan, dan dengan tersirat mengajak kita dengan membakar semangat para pembaca pada khususnya dan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya untuk meneruskan revolusi yang belum selesai serta berjuang untuk menuju Indonesia Adil dan Makmur tanpa menunggu datangnya keajaiban. Salah satunya dengan memilih pemimpin yang sesuai dengan nilai ilahiah, dan dengan mewujudkan rasa syukur dan kepatuhan kita sebagai umat manusia dalam menjalankan perintah Tuhan.
    Menurut saya, perkembangan di segala bidang akan berpengaruh terhadap daya juang. Namun adanya perkembangan ini juga akan mempertebal tanggung jawab kita terhadap mental kita, sehingga jiwa kita tidak akan lagi dijajah oleh siapapun yang bukan Tuhan. Dengan itu, kita dapat membangkitkan semangat kita untuk meneruskan revolusi jiwa yang belum berakhir.

    Selamat berjuang untuk Indonesia menuju Adil dan Makmur. .!!!

  5. Ijinkan saya memberikan paparan diawal tentang kegelisaan dan keresahan ,,,,,
    Siapapun bangsa yang tidak belajar dari sejarah, mereka pasti akan mengulanginya. Pemuda menjadikan dirinya sbg elemen bangsa.Saatnya pemuda menempatkan diri sbg agen sekaligus pemimpin perubahan.Pemuda yg hidup dalam suasana pergolakan akan cenderung memiliki kreativitas tinggi utk melakukan perubahan atas berbagai kerumitan yg dihadapi.Cerita para pemuda adalah serial kepahlawanan.Pelajaran penting dari para pahlawan adalah semangat berkorban untuk generasi penerusnya.mereka yang hadir untuk memberi daripada meminta…
    beginilah pahlawan kita berkata:
    1. sukarno (jasmerah=jangan sekali-kali melupakan sejarah;Pemimpin itu adalah budak rakyatnya bukan budak negara lain ),,
    2. muhammad natsir (jadilah pemimpin yang jujur dan berani mengakkui kekurangan, mau menerima kritik),,
    3.Hasyim Asy’ari (jadilah pemimpin yang realitis dan jangan mengumbar janji kosong)
    4.KH. Ahmad dahlan (jadilah pemimpin yang sedikit bicara banyak kerja)
    5.Bung Tomo yang memberikan semnagat arek2 Suroboyo dengan melantangkan “merdeka AllahuAkbar”
    6.Bung Hatta yang dengan kalem namun tegas dan jauh pandangannya kedepan
    7.Sudirman yang secara fisik lemah namun memiliki kekuatan jiwa yang besar luar biasa
    8.Suharto yang diawal masa mudanya memiliki pengaruh yang besar dalam menghadapi rintangan diera tahun 1966
    …………
    seorang tokoh Religius Muslim Negarawan berkata:”Tidak ada lagi waktu bagi kita untuk beristirahat.Tugas perjuangan kita terlalu banyak.Jika engkau ingin beristirahat wahai pemuda,nnt ketika kau langkahkan kakimu ke Syurga” ………
    lalu saya mengatakan bahwa terlibat dalam sebuah arus perubahan dan menjadikan kita gelombang untuk mengikis karang kedzoliman adalah sebuah kekuatan tekat komitmen yang terbalut kuat ketaqwaan pada Tuhannya merupakan pilihan, menjadi manusia acuh yang egois memikirkan nasib diri dan keluarganya lalu sukses juga pilihan, menjadi pribadi sholeh untuk mengajarkan ilmu tanpa mau terlibat dalam tataran teknis adalah pilihan, sikap dan reaksi lain yang diberikan oleh tiap2 diri kita yang merupakan kualitas diri terhadap memang seperti itulah ilmu,pemahaman,kapasitas dirinya yang tidak bisa dipaksakan juga pilihan. Padahal dibelahan Indonesia lainnya terlalu banyak suara nyanyian anak kecil menggema disetiap lampu merah dimana saja, yang seharusnya mereka dipersiapkan menjadi generasi selanjutnya lalu mengisi hari2 Indonesia pada fase abad 22; berapa banyak kemiskinan dan kelaparan serta kebodohan terhadap ilmu menghiasi hari2 rakyat yang terpaksa menerima nasibnya.lalu terpaksa menjadi seorang penjahat,pelacur,TKW,pencuri,pembunuh,pemerkosa,pengguna dan pengedar narkoba juga pilihan termasuk menjadi pemimpin yang dzolim atau pemimpin yang adil juga pilihan.mereka akan sulit melakukan perubahan, mereka sudah terlalu sibuk untuk memikirkan akan makan apa saya dan keluarga saya hari ini.Ada salah satu golongan yang ternyata efektif untuk mengusung dan melakukan perubahan,,, siapa mereka,, mereka adalah mahasiswa,, mahasiswa yang sempat dikhawatirkan presiden RI ke-2 ketika tahun 1996 melarang mahasiswa Indonesia untuk melakukan aktivitas diluar kegiatan akademi,,katanya kembalikan mahasiswa pada fungsi pendidikannya,,namun ada reaksi negatif yang dilakukan mahasiswa pada fase tersebut,,mereka mengusung dan melakukan gerakan perubahan,,mereka menskenariokan dan mengkonkretkan perubahan,,lalu keresahan2 masyarakat yang berserakan lalu kekecewaan yang terpecah belah itu berhimpun menjadi satu kekuatan integral untuk bergabung sepakat merubah kondisi ini dengan mengganti presiden saat itu,,apakah berhasil,,ya cukup berhasil,,namun efeknya tidak sedahsyat yang diharapkan,,hingga 10 tahun kemudian belum terasa keadilan dan kesejahteraan,,semakin menambah parah kondisi bangsa,,pemerintah sekarang mulai melakukan tindakan yang sama pada masa orde baru,,ternyata kejelekan kinerja pemerintah bukan berada pada puncak pemimpinnya,,sistem yang masih buruk dan orang2 yang berada ddidalamnya masih bermental penjahat,,terlalu sedikit pahlawan yang berada diparlemen,,jikalau ada mereka dikucilkan,diasingkan,dijauhkan,, berdarah2 perjuangan mereka,,pahlawan itu harus ditambah jumlahnya,,dengan apa,,dengan dukungan masyarakat untuk memilih dan mengantarkannya pada gerbang perjuangan,,mengapa,,karena sistem demokrasi kita seperti ini,, untuk masalah pemilu mungkin pada diskusi yang selanjutnya saja,,,,
    -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=
    Menanggapi tulisan Saudara ::::::
    ~Revolusi’45
    Beberapa negara telah sukses melakukan revolusinya sehingga mengantarkan mereka pada cahaya

    kesejahteraan.Indonesia masih termasuk negara berkembang yang menuliskan takdirnya dengan

    meraih kemerdekaan 17 Agustus 1945.Narasi kemerdekaan penuh dengan darah dan jiwa.

    Kemerdekaan itu bukanlah semata perjuangan fisik,,tidak mungkin anak manusia akan tahan

    dengan kondisi kala itu menghadapi musuh yang lebih kuat fisiknya,lengkap senjatanya,canggih

    teknologinya dan banyak dananya.Pahlawan kita berjuang dengan iman dan ruh jihad ,bagaimana

    kemudian pekikan suara yang dengan tegar memberanikan mereka untuk menjemput takdir dengan

    lafadz merdeka dan takbir.Bukan perjuangan yang biasa,itulah manusia2 suci yang tahu akan

    kebahagiaan akhirat dan paham akan jati diri bangsanya, maka kematian bukanlah maslah besar

    tapi maslah besarnya adalah harga diri bangsa yang terinjak dan mereka memikirkan nasib kita

    hari ini sebagai generasi yang tidak boleh masih dijajah dan ditindas.kekuatan iman itulah

    yang menggerakkan fisik dan menggelorakan semangat serta membuat musuh gentar.
    Permasalahannya kemudian adalah manusia suci tersebut ada yang terkena penyakit hati, merasa

    paling berjasa, paling hebat,paling berkuasa dan lupa akan imannya. Cita2 besar dengan

    agenda dan program yang terstruktur rapih tersebut luluh karena kemunafikan segelintir

    manusia. Maka kiblat peradaban itu menghilang dari pelupuk mata sehingga pembangunan

    nasional sampai hari ini tidak kunjung beres,, kita tidak perlu memulai dari nol,,kita cukup

    meneruskan langkah dan perjuangan serta jalan yang telah dibuat oleh pendahulu

    kita…………..

    ~ runtuhnya orde baru
    pada tulisan diatas sedikit disinggung dan dijelaskan sedikit narasi reformasi 1998.karena

    keresahan itulah muncul sebuah perubahan.yang saat itu dan sampai hari ini disegani dan

    ditakuti adalah golongan mahaiswa, dialah yang memposisikan dirinya ditengah , sebagai insan

    yang berintlektual, tidak bertendensi, memiliki idealisme yang masih terjaga, yang

    menskenariokan dan melakukan perubahan,,akhirnya tumbanglah sudazh rezim itu..Yah tetap saja

    measih mentelurkan oknum2 berkarakter orba yang masih bercokol didalam sistem

    pemerintahan,,
    maka hari ini yang bisa dilakukan adalah seharusnya partai memiliki sistem kaderisasi yang

    jelas dan bagus agar kemudian yang akan didelegasikan masuk pada sistem pemerintahan adalah

    orang2 pilihan, jika mereka buruk maka katakan saja partai tersebut yang mengusungnya buruk

    karena gagal mempersiapkan tokoh dan pemimpin yang mewarisi tahta kepemimpinan

    Indonesia.Selain itu mari bersama kita buka mata hati, buka mata, buka telinga.Tegas saja

    terhadap politisi busuk yang mengumbar janji, demarketisasi mereka melalui panggung media

    dan jalanan kepada masyarakat. Dukung partai yang saat ini tulus dalam berjuang bukan untuk

    rakyat dan partainya pada hari ini saja, lihat partai yang memang memiliki pandangan jauh

    kedepan dalam membangkitkan peradaban baru di Indonesia menuju masyarakat yang adil,

    sejahtera dan bermartabat.Saya rasa kita yang intelek ini harus fair dalam bersikap, yang

    baik kita dukung dan marketisasi, yang buruk tolak dan demarketisasi.jangan lagi

    menggantungkan harapan pada tokoh yang memang tidak serius dalam menjalankan amanahnya…..

    ~ Revolusi jiwa yang merdeka
    Nah karena Indonesia masih terkanal dengan negara yang religi, itu yang harus kita

    jalankan.ketika ruhiyah kita merasakan keMAHA BESARAn ALLAH, maka itulah disana kita

    merasakan diri kita yang terlalu kecil. Ubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan efektif atau

    ubah sikap keputusasaan dengan usaha produktif dengan harapan yang besar untuk bangkit dan

    sukses.Jangan salahkan masyarakat kecil yang tidak sejahtera itu sebagai sampah, justru

    kitalah yang memiliki peran untuk membantu,,bisa jadi ide dan harapan mereka lebih besar

    hanya saja mereka terlalu disibukkan dengan kebutuhan sehari-harinya.Masyarakat yang

    memiliki ruhiyah yang tinggi akan bertindak pada koridor dan jalan yang benar.harusnya orang

    yang duduk diparlemen adalah perwakilan dari masyarakat yang kondisinya tidaklah jauh lebih

    baik dari masyarakatnya.

    ~Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi
    saya sepakat dengan statement diatas

    ~Kesalehan Sosial
    Sebelum mendapat kesholehan sosial tentu kita tidk asing dengan slogan bersih dan peduli…
    jk saja pribadi2 kita merepresentasikan kesholehan pribadi, maka yang ada kontribusi kita

    akan melahirkan kepedulian yang empati untuk tulus membantu dan meneruskan

    perjuangan.kesholehan kolektif.Lalu bersikap profesional dalam segala aktivitas kita

    ……….

    dalam seri comment saya sampai pada kesimpulan adalah bahwasanya pahlawan itu bukanlah

    manusia suci yang turun dari langit, tetapi merekalah yang berasal dari golongan kita, yang

    melakukan aktivitas 2 suci dan bermanfaat, terus berjuang sampai kedzoliman tidak ada

    lagi,namun jika mereka pergi sebelum tugas mereka selesai itu wajar karena mereka manusia

    biasa yang berjiwa pahlawan yang harus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.

  6. Menanggapi tulisan Saudara ::::::
    ~Revolusi’45
    Beberapa negara telah sukses melakukan revolusinya sehingga mengantarkan mereka pada cahaya kesejahteraan.Indonesia masih termasuk negara berkembang yang menuliskan takdirnya dengan meraih kemerdekaan 17 Agustus 1945.Narasi kemerdekaan penuh dengan darah dan jiwa. Kemerdekaan itu bukanlah semata perjuangan fisik,,tidak mungkin anak manusia akan tahan dengan kondisi kala itu menghadapi musuh yang lebih kuat fisiknya,lengkap senjatanya,canggih teknologinya dan banyak dananya.Pahlawan kita berjuang dengan iman dan ruh jihad ,bagaimana kemudian pekikan suara yang dengan tegar memberanikan mereka untuk menjemput takdir dengan lafadz merdeka dan takbir.Bukan perjuangan yang biasa,itulah manusia2 suci yang tahu akan kebahagiaan akhirat dan paham akan jati diri bangsanya, maka kematian bukanlah maslah besar tapi maslah besarnya adalah harga diri bangsa yang terinjak dan mereka memikirkan nasib kita hari ini sebagai generasi yang tidak boleh masih dijajah dan ditindas.kekuatan iman itulah yang menggerakkan fisik dan menggelorakan semangat serta membuat musuh gentar.
    Permasalahannya kemudian adalah manusia suci tersebut ada yang terkena penyakit hati, merasa paling berjasa, paling hebat,paling berkuasa dan lupa akan imannya. Cita2 besar dengan agenda dan program yang terstruktur rapih tersebut luluh karena kemunafikan segelintir manusia. Maka kiblat peradaban itu menghilang dari pelupuk mata sehingga pembangunan nasional sampai hari ini tidak kunjung beres,, kita tidak perlu memulai dari nol,,kita cukup meneruskan langkah dan perjuangan serta jalan yang telah dibuat oleh pendahulu kita…………..

    ~ runtuhnya orde baru
    pada tulisan diatas sedikit disinggung dan dijelaskan sedikit narasi reformasi 1998.karena keresahan itulah muncul sebuah perubahan.yang saat itu dan sampai hari ini disegani dan ditakuti adalah golongan mahaiswa, dialah yang memposisikan dirinya ditengah , sebagai insan yang berintlektual, tidak bertendensi, memiliki idealisme yang masih terjaga, yang menskenariokan dan melakukan perubahan,,akhirnya tumbanglah sudazh rezim itu..Yah tetap saja measih mentelurkan oknum2 berkarakter orba yang masih bercokol didalam sistem pemerintahan,,
    maka hari ini yang bisa dilakukan adalah seharusnya partai memiliki sistem kaderisasi yang jelas dan bagus agar kemudian yang akan didelegasikan masuk pada sistem pemerintahan adalah orang2 pilihan, jika mereka buruk maka katakan saja partai tersebut yang mengusungnya buruk karena gagal mempersiapkan tokoh dan pemimpin yang mewarisi tahta kepemimpinan Indonesia.Selain itu mari bersama kita buka mata hati, buka mata, buka telinga.Tegas saja terhadap politisi busuk yang mengumbar janji, demarketisasi mereka melalui panggung media dan jalanan kepada masyarakat. Dukung partai yang saat ini tulus dalam berjuang bukan untuk rakyat dan partainya pada hari ini saja, lihat partai yang memang memiliki pandangan jauh kedepan dalam membangkitkan peradaban baru di Indonesia menuju masyarakat yang adil, sejahtera dan bermartabat.Saya rasa kita yang intelek ini harus fair dalam bersikap, yang baik kita dukung dan marketisasi, yang buruk tolak dan demarketisasi.jangan lagi menggantungkan harapan pada tokoh yang memang tidak serius dalam menjalankan amanahnya…..

    ~ Revolusi jiwa yang merdeka
    Nah karena Indonesia masih terkanal dengan negara yang religi, itu yang harus kita jalankan.ketika ruhiyah kita merasakan keMAHA BESARAn ALLAH, maka itulah disana kita merasakan diri kita yang terlalu kecil. Ubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan efektif atau ubah sikap keputusasaan dengan usaha produktif dengan harapan yang besar untuk bangkit dan sukses.Jangan salahkan masyarakat kecil yang tidak sejahtera itu sebagai sampah, justru kitalah yang memiliki peran untuk membantu,,bisa jadi ide dan harapan mereka lebih besar hanya saja mereka terlalu disibukkan dengan kebutuhan sehari-harinya.Masyarakat yang memiliki ruhiyah yang tinggi akan bertindak pada koridor dan jalan yang benar.harusnya orang yang duduk diparlemen adalah perwakilan dari masyarakat yang kondisinya tidaklah jauh lebih baik dari masyarakatnya.

    ~Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi
    saya sepakat dengan statement diatas

    ~Kesalehan Sosial
    Sebelum mendapat kesholehan sosial tentu kita tidk asing dengan slogan bersih dan peduli…
    jk saja pribadi2 kita merepresentasikan kesholehan pribadi, maka yang ada kontribusi kita akan melahirkan kepedulian yang empati untuk tulus membantu dan meneruskan perjuangan.kesholehan kolektif.Lalu bersikap profesional dalam segala aktivitas kita ……….

    dalam seri comment saya sampai pada kesimpulan adalah bahwasanya pahlawan itu bukanlah manusia suci yang turun dari langit, tetapi merekalah yang berasal dari golongan kita, yang melakukan aktivitas 2 suci dan bermanfaat, terus berjuang sampai kedzoliman tidak ada lagi,namun jika mereka pergi sebelum tugas mereka selesai itu wajar karena mereka manusia biasa yang berjiwa pahlawan yang harus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.
    ===========================================
    comment sebelumnya tidak diapprove ya….

    sang gelombang

  7. Menurut saya,revolusi sekarang yang dilakukan oleh bangsa Indonesia merupakan revolusi yang berlandaskan kepentingan pribadi semata, Bukan untuk kepentingan rakyat. Oleh karena itu susah untuk menciptakan revolusi dalam arti sebenarnya.
    Banyak anggota dewan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat untuk kepentingan pribadi. Oleh larena itu, terciptalah budaya korupsi dan nepotisme di Negara Indonesia ini. Mereka tidak memikirkan rakyat kecil namun hanya melihat kepentingan beberapa golongan.
    Keterpurukan yang selama ini melanda Indonesia disebabkan karena kita sudah kehilangan figure pemimpin yang mempunyai pendirian yang kuat. Kita terlalu mudah terpengaruh dari kata2 manis sang pemimpin yang ingin membuat bangsa ini lebih baik namun dalam kenyataannya tidak demikian.
    Menurut saya, Maksud dari revolusi belum selesai yaitu revolusi jiwa yang harus dilakukan bangsa Indonesia agar menanamkan nilai – nilai Pancasila yang luhur dalam dirinya sehingga dalam bertindak dan berkata mencerminkan pribadi yang luhur.

  8. langkah pertama adalah pilihlah presiden yang mampu memimpin bangsa ini menjadi lebih baik.

    Kita sebagai masyarakat Indonesia wajib melanjutkan perjuangan para pahlawan terdahulu kita. kita semua bisa menjadi pahlawan. kita butuh revolusi seperti apa yang dilakukan jepang setelah di bom atom oleh USA.

    bisakah kita seperti itu?
    pertama, bertakwalah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    jika dari dalam diri kita yang terdalam mampu menjaga perilaku kita, bukan mustahil kita bisa membangun bangsa ini dengan maju.

  9. Rantai Makanan……….Pola yang diajarkan dalam ilmu biologi yang sangat jelas bicara KESEIMBANGAN sebagai solusi yang lain yang mungkin dapat kita contoh. Adil dan Makmur merupakan salah satu sebab dan akibat yang saling terkait. Manusia menghasilkan feaces yang mungkin tidak sengaja ditumbuhi rumput yang dimakan sapi, sapi sebagai sumber protein pada akhirnya menjadi bahan makanan bagi manusia sebagai contoh alur sederhana dari sebuah rantai makanan.

    Bayangkan bila manusia yang memakan sapi memiliki populasi yang besar sehingga akhirnya jumlah sapi yang memakan rumput menjadi punah. Apakah manusia akan memakan rumput ? Misalkan yang tersisa hanya 1 sapi, adakah kemungkinan terjadi perang antar manusia terjadi untuk memperebutkan daging karena ketidakmampuan (atau sifat malas?) mencari solusi untuk mengembangbiakan sapi. Bahkan bayangan ekstrim munculnya kanibalisme manusia karena diperbudak nafsu untuk merasakan daging, apakah akan terjadi?

    Inilah yang mungkin dapat menimpa manusia-manusia Indonesia di masa yang akan datang……karena konsep Memberi tidak dimiliki. Bila setiap orang memberi maka akan ada yang menerima karena terjadi pertukaran yang dirangkum dalam konsep Adil dan Makmur menurut versi saya….Manusia jika mampu mengontrol populasi dan mengatur jiwa serakahnya secara proposional (ada saat membiarkan sapi berkembang biak untuk pasokan selanjutnya) menyesuaikan dengan kemampuan sapi untuk memasok standar protein yang dibutuhkan karena sapi hanya bisa memberi yang terbaik dari dirinya seperti rumput yang memberi dirinya untuk menjadi sumber kehidupan bagi sapi sekalipun manusia hanya memberi sisa ampas dari dirinya bagi rumput.

    Pemberian yang berguna bagi sesama manusia walaupun hal kecil bisa jadi awal dari Adil dan Makmur bagi unit terkecil dan berjenjang bagi keluarga, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Propinsi dan Indonesia yang merangkumnya dalam Republik.

    Berikan diri bagi bangsa ini…………………………………………Karena kita akan diberi kembali, entah sadar atau tidak tapi MULAILAH SEKARANG tanpa harus menunggu nanti yang batas waktunya di pegang Sang Juru Kunci Waktu. Sebelum Sang Pencipta memberi batas waktu dan kita tidak punya kesempatan lagi.Dan MENYESAL hanya menjadi sebuah lagu sumbang semata…………..

  10. Secara garis besar saya setuju dengan ciri-ciri pemimpin yang dipaparkan diatas. Dari ulasan yang dipaparkan diatas kita sadar bahwa menjadi pemimpin itu tidaklah semudah yang dibayangkan.
    Mungkin permasalahan yang menurut saya sangat penting yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana mengenali pemimpin seperti yang dipaparkan diatas. Tentunya banyak sekali rakyat di negeri ini tidak paham akan kriteria pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan seperti yang dipaparkan diatas.
    Bila kita melihat pada realita pemilu di negeri ini dengan segala kerumitan mekanisme yang ada di dalamnya terlihat bahwa masih kurang sesuainya sistem pemilu yang berlaku di negeri ini untuk dapat melakukan “revolusi” terhadap para pemimpin negeri ini. Hal Ini terbukti ketika saya mengikuti pemilu kemarin yang mana saya bingung dalam memilih caleg-caleg yang sesuai dan pantas untuk dipilih. Saya sudah mencari data-data caleg di web kpu.go.id minimal data-data mengenai riwayat pendidikan, organisasi serta visi misi yang dapat digunakan sebagai referensi dalam memilih (mengingat bahwa caleg ditiap wilayah pemilihan yang berbeda-beda dan sangat banyak) yang ternyata tidak ada sehingga sangat sulit untuk menentukan pilihan pada pemilu kemarin.
    Yang menjadi PR kita semua adalah membenahi lagi sistem pemilu yang ada agar lebih baik lagi serta melakukan pencerdasan terhadap masyarakat agar tidak mudah dipengaruhi dan ditipu oleh pihak-pihak yang hanya mengambil keuntungan dari ketidaktahuan dan rendahnya pendidikan mayoritas rakyat kecil negeri ini.

  11. setelah membaca blog ini, saya hanya bisa berharap, revolusi ini dapat tercapai.

    memang benar untuk membangun bangsa ini kita harus memulainya dari diri kita masing masing, apa yang sudah kita berikan untuk bangsa ini.

    saya setuju dengan ungkapan membangun negara dengan dasar persahabatan, meskipun untuk menbangun suatu persahabatan tidaklah mudah, tetapi seorang sahabat tidak akan “menghianati” sahabatnya. meskipun hal ini masih sangat jauh dalam kindisi bangsa kita saat ini. hal ini terlihat dari apa yang dilakukkan para wakil rakyat saat ini, mereka yang seharusnya menjadi sahabat rakyat yang telah memberi kepercayaan, malah menghianati atau bahkan “mencuri” dari sahabatnya sendiri, mungkin mereka tidak menganggap rakyat ebagai sahabatnya, atau bahkan mereka tidak menganggap sekalipun.

    giliran ketika mereka menjadi calon, merka sangat mengharapkan suara rakyat, tetapi setelah terpilih mereka lupa kepada rakyat yang telah memilihnya.

    hal ini tidak hanya dilakukan para pentolan pentolan bangsa ini, tetapi para putra putri terbaik bangsa ini juga lebih memilih bersahabat dengan bangsa lain, artinya mereka lebih memilih untuk bekerja/mengabdikan diri kepada bangsa lain daripada mengabdi untuk bangsa sendiri hanya dengan alasan finansial atau duit belaka.

    selain dengan membangun rasa persahabatan, kuta juga harus membangun bangsa ini dengan KASIH. kasih dari seorang sahabat akan memberikan dampak yang sangat besar. bila hal ini sudah kita tumbuhkan dalam hati kita masing masing, maka tujuan bangsa untuk mencapai bangsa yang adil dan makmur akan dengan mudah kita capai.

    nah sekarang darimana kita bisa menumbuhkan rasa kasih dan persahabatan itu???

    kita harus memuainya dengan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Revolusi bangsa ini akan kita capai bila kita dengan bersama sama sesuai semboyan bangsa kita ” Bhineka Tunggal Ika” membangun bangsa ini dengan IMAN

    mari kita teriakkan, dan kita bangun bangsa ini dengan IMAN.

    mari kita mulai dari diri sendiri, mari kita tanya diri kita masing masing: apa yang sudah kita berikan bagi bangsa ini????

  12. Saya sangat setuju menanggapi artikel dari bapak budi praptono tentang revolusi jiwa bangsa Indonesia merupakan jawaban revolusi belum selesai bung karno.Menurut saya revolusi jiwa pada saat ini merupakan revolusi yang masih dibayang bayangi oleh para penjajah,para pemimpin hanya mementingkan kepentingan individualisme,mereka tidak memikirkan kepentingan rakyat& kemana Negara ini akan dibawa” lebih baik & lebih maju dari pada sebelumnya” .selain itu para pemimpin masih banyak yang melakukan korupsi,kolusi,dan nepotisme(KKN) walaupun pemerintah belum memberantas sampai ke akar-akarnya.lalu apa bedanya reformasi yang terjadi pada tahun 1998,dengan sekarang ini kalau kenyataannya Indonesia belum berubah kearah yang lebih baik.
    Indonesia harus melakukan reformasi sampai menuju kearah yang lebih baik&maju,selain itu Indonesia juga membutuhkan seorang sosok pemimpin yang berjiwa merdeka,arif,bijaksana.tidak mementingkan kepentingan individu,mempunyai keyakinan dan mengerti akan kemauan rakyat.syarat diatas tersebut belumlah cukup tanpa didukung dari rakyat dan pemimpin itu sendiri serta adanya kesadaran dari tiap2 golongan untuk membawa Indonesia ini menjadi maju sukses merdeka serta adil & makmur dengan semangat kerja keras serta selalu bersyukur kepada sang pencipta.

  13. Sesuai fitrah penciptaan manusia, setiap kita dibekali kemampuan yang luar biasa oleh Allah SWT untuk terus mencari, mengenali, menggali, dan mengembangkan potensi lahir dan batin. Potensi untuk mencari jati diri. Potensi untuk membangun sebuah peradaban yang mulia. Namun, terkadang potensi itu terkubur oleh satu paradigma yang sungguh dogmatis dan pragmatis. Kita terlalu gampang terobang ambing oleh pemikiran – pemikiran sekuler yang sejatinya terus menggerogoti jiwa dan ruh kita.

    Lebih dari 350 tahun, Indonesia berada di bawah himpitan bangsa penjajah yang saat itu – selama ratusan tahun – mampu membuat main set kita sebagai bangsa yang memang layak dijajah. Namun, mungkin sudah menjadi suratan takdir, diantara jutaan pendahulu kita ada segelintir orang yang mampu merevolusi pola pikir mereka. bersatulah bangsa Indonesia untuk mengusir para penjajah, hengkang dari bumi pertiwi. Diawali dengan pemberontakan di berbagai daerah yang masih terpisah. Hingga akhirnya, melalui sumpah pemuda, para pendahulu mulai mengkonstruksi arti kemerdekaan. HIngga sampailah pada detik-detik yang menentukan, dengan disaksikan ribuan rakyat Indonesia, Bung Karno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, tepat pukul 10.00 WIB.

    Namun benar, kalau dikaji lebih lanjut, kita terlalu larut dalam eforia kemerdekaan yang sebenarnya semu. Indonesia belum merdeka! Bung Karno dan seluruh pejuang bangsa menghendaki kita menjadi bangsa yang benar- benar merdeka seutuhnya. Merdeka secara fisik -diakui yuridis dan de facto oleh bangsa lain- dan merdeka secara mental/ jiwa.

    Lengsernya rezim orde baru yang dinahkodai HM. Soeharto setidaknya memberikan harapan baru menuju reformasi sejati. Termasuk reformasi jiwa. Tapi semua itu tidak bisa terjadi begitu saja. Perlu proses pendewasaan secara kontinu oleh semua elemen bangsa.

    Bangsa Indonesia kini membutuhkan sosok pemimpin yang pro terhadap perubahan. Pemimpin yang adil. Pemimpin yang memandang segala sesuatu secara proporsional. Pemimpin yang mampu mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang adil dan makmur.

    Sudah saatnya kita merevolusi jiwa….

  14. Assalamu’alaikum Wr Wb

    Memang benar revolusi sekarang yang dilaksanakan adalah revolusi fisik saja. Seperti pembangunan gedung bertingkat, jalan raya, dan sebagainya. Dan semua fasilitas tersebut hanya di berikan kepada orang yang mampu saja, sedangkan masih banyak rakyat miskin yang untuk makan saja susah, bagaimana mereka bisa menikmati kekayaan negara ini yang melimpah. Jadi kalau kasarnya “yang kaya makin kaya dan menikmati surga dunia dan yang miskin pun makin miskin ibarat berada di neraka dunia” .

    Mental penduduk di Indonesia belum terbentuk untuk tahan banting, artinya siap menghadapi bermacam problem dalam hidup. Contohnya saja yang sekarang lagi marak terjadi banyak caleg yang kalah dalam pemilu 9 april 2009 kemarin menjadi stress. Ada yang sampai menggali badan jalan karena kalah dalam pemilu, dari situ saja kita tahu bagaimana revolusi Indonesia akan di lanjutkan jika calon wakil rakyat yang akan kita pilih mempunyai mental yang tidak kuat.

    Dan selain itu, omongan tidak di seimbangkan dengan tingkah laku. Banyak kritik-kritik sana sini tapi apa yang dilakukan buat bangsa ini. Ini bisa kita wujudkan dengan mempunyai presiden yang berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa dan mungkin menurut saya juga berasaskan Memimpin Untuk Rakyat Indonesia bukan untuk kepentingan pribadi. Agar semua yang akan menjadi presiden berpikir bahwa dia berjuang untuk rakyat bukan untuk kepentingan partai yang mendukung dia.

    Dengan tulisan bisa menjadi suatu dorongan yang kuat buat para pemuda pemudi indonesia untuk berjuang demi negara ini. Maka dari itu teruslah menulis untuk bangsa ini dan teruslah isi tulisan bapak dengan kata kata yang bisa menyadarkan para rakyat Indonesia untuk mewujudkan negara Indonesia yang berasaskan Pancasila.

    Wassalamu’alaikum Wr Wb

  15. maaf saya komentar lagi di blog ini…

    satu hal yang ingin saya perjelas adalah, kita harus membangun bangsa ini dengan semangat persahabatan didalam kasih dan iman….

    Pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini adalah sosok yang memiliki iman yang kuat dan bertindak sesuai kehendak Tuhan.

    saya yakin suatu saat nanti abngsa ini akan benar benar mengalami revolusi, dimana pada saat itu pula bangsa ini menjadi pusat perhatian Dunia.

    dibeberapa situs saya membaca banyak negara yang berdoa buat Indonesia, nah bagaimana dengan kita bangsa Indonesia sendiri, “sudahkah kita mengimani bangsa ini menjadi pusat peradaban dunia” ?

  16. Revolusi akan terjadi jika kita :
    1. Menyadari bahwa kita adalah ciptaan Tuhan dan kita sama di hadapanNya. Oleh karena itu kita harus terlebih dahulu memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Kita harus ingat kita adalah milik Tuhan. Statement ini perlu digarisbawahi, agar kita semakin menyadari tidak hal yang perlu disombongkan. Bilamana selama ini kita merasa kita paling hebat, kita yang paling benar, kita yang paling berkuasa maka disitulah diri kita akan semakin jatuh. Kita tidak lagi merasa bahwa kita milik Tuhan. Hubungan kita dengan Pencipta adalah hubungan terpenting dalam kehidupan ini, karena kita hidup di dunia berpusat pada Tuhan.
    2. Melihat diri kita punya peranan dalam memajukan bangsa ini. Jangan pernah ada kata menyerah dalam diri kita karena hal itu bisa menjadi pemicu kekalahan kita terhadap diri sendiri. Tantangan ada bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi. Namun banyak orang menghindari yang namanya tantangan karena adanya resiko yang berat menghantui mereka bila mengambil tantangan tersebut. Apakah kita mau menjadi orang yang statis? Orang yang tidak mengenal dirinya sama sekali, karena tidak adanya perkembangan atas diri kita. Percayalah sesulit apapun tantangan yang kita hadapi dalam kehidupan ini, Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan/kapsitas umatNya. Belajarlah untuk mengenali diri kita lebih dalam. Mencari tahu kelebihan dan kekurangan kita dan berusaha mereduksi kelemahan kita dengan mengembangkan kelebihan kita.
    3. Melihat sesama kita manusia. Kita adalah manusia yang tidak dapat hidup sendiri. Kita pasti butuh bantuan manusia yang lain karena itu kita disebut mahluk sosial. Oleh karena itu, sepantasnya kita saling menghargai, menghormati, membantu atau dengan kata lain mengasihi sesama manusia.

    Menurut saya ketiga point diatas adalah kunci kesuksesan sebuah bangsa. Saya yakin, semua orang tahu hal itu, hanya saja dengan kondisi kita masing-masing saat ini dapat melakukan ketiga point diatas? Atau kita hanya berkata,ya sudahlah jalanin kehidupan yang sekarang saja, nggak ada yang perlu diubah, ntar makin kacau lagi. Saya katakan, hal diatas memang susah untuk dilakukan, butuh proses dan waktu. Namun bila kita tidak melakukannya dan hanya berdiam diri saja menikmati yang ada sekarang, maka bangsa ini tidak akan dapat berevolusi. Saya yakin dengan hal ini.
    Marilah kita bersama-sama merangkul sesama kita,melakukan sesuatu yang berguna bagi bangsa ini sesuai dengan bidangnya masing-masing. Mungkin pemerintahan sekarang kewalahan dengan problema yang diwariskan dari pemerintah sebelumnya karena begitu banyaknya permasalahan yang ada. Oleh karena itu kita sebagai rakyat Indonesia jangan malah menambah permasalahan tersebut tetapi membantu menyelesaikannya. Begitu juga dengan pemerintah, jangan juga malah menambah permasalahan. Kita harus bersama-sama berupaya agar negara kita jangan gali lubang tutup lubang. Itu adalah hal yang sia-sia dan kita pasti tidak mau menjadi bangsa yang sia-sia bukan.
    Pemerintahan yang sebelumnya telah membawa Indonesia melangkah ke depan menuju kearah yang benar dan sekarang tugas kita untuk melangkah lebih jauh lagi ke depan, ke arah yang sudah pasti,hanya saja apakah kita sudah siap untuk melangkah?satu langkah saja sangat penting. Oleh karena itu, seperti saya katakan di atas mari kita membangun negara ini, dimulai dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan baik secara individu maupun berkelompok.
    Kita harus menyadari bahwa kita memiliki kapasitas yang besar baik di sumber daya manusia maupun di sumber daya alam. Tuhan menitipkan kapasitas yang besar buat Indonesia, oleh karena itu, kita harus mempertanggungjawabkan kepadaNya dengan menggunakan seefektif mungkin atas kapsitas yang dititipkan Tuhan buat kita bangsa Indonesia. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, komunitas, hingga nantinya ke bangsa Indonesia.

  17. Saya setuju dengan Bapak mengenai terbentuknya kelompok-kelompok semu, karena keluarga, asal daerah, sekolahan, perguruan spiritual, agama, dll.. Kelompok-kelompok tersebutlah yang membuat sistem di Indonesia menjadi kacau karena masing-masing memperjuangkan kelompoknya sendiri.

    Itulah,mengapa saya menjadi pesimis dengan keadaan bangsa Indonesia di masa depan. Perubahan yang kita mulai dengan pesta demokrasi tanggal 9 April lalu, tampaknya masih sulit untuk bisa membawa kita ke arah yang benar, ke arah yang dapat menjawab “Revolusi Belum Selesai-Bung Karno”.Terlalu banyak pihak-pihak yang bukan memperjuangkan bangsa ini, tapi hanya memperjuangkan kekayaan dan kekuasaan untuk kelompoknya sendiri..
    Apakah untuk kepentingan partai, bisnis, kekuasaan, dll., yang semuanya adalah untuk kepentingan duniawi semata, yang cenderung tidak adil. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa para elitlah yang tergoda untuk memanfaatkannya, yang cenderung pada kepentingan pribadinya.

    Jadi bagaimana bangsa Indonesia bisa berubah?Bisa menjawab Revolusi Belum Selesai? Jawabannya adalah dengan memerdekakan jiwa-jiwa kita, bukan dengan semangat “hedonisme” seperti AS, tapi dengan nilai-nilai Ketuhanan YME, yang bisa menuntun kita untuk memilih pemimpin-pemimpin hebat yang akan menuntaskan revolusi Bangsa Indonesia.

    KITA PASTI BISA !!!!

  18. Secara umum, saya setuju dengan pemikiran bapak dalam tulisan bapak ini. Terutama bagian tulisan bapak tentang revolusi jiwa. Saya membayangkan, apabila seluruh rakyat atau tidak perlu selurhnya misalnya sebagian besar saja rakyat Indonesia telah berhasil dalam memerdekakan jiwanya, maka segala permasalahan yang timbul entah itu sesulit apa dapat teratasi. Teratasi dalam hal ini, semua pihak merasa puas, tidak hanya satu pihak atau suatu kelompok saja. seperti yang terjadi selama ini….

    Membaca artikel ini, membuat saya merasa terdorong untuk lebih berusaha lagi dalam merevolusi jiwa ini. Karena Saya percaya ini sangat berharga, memiliki jiwa yang merdeka. Mengajak kita untuk instropeksi, perbaiki akhlak diri, maka akibatnya timbul perilaku yang baik, dan terwujud lingkungan yang harmonis. identitas diri pun tidak hilang.alangkah indahnya…

    Alangkah lebih baik apabila kita semua sadar dan mau mencoba merevolusi jiwa kita, menjadi jiwa yang merdeka, yang hanya bergantung pada Tuhan kita. Tidak perlu menyalahkan siapapun atas keadaan kita sekarang. Karena fitrahnya, manusia adalah baik…

    Harapan dan doa saya semoga orang-orang lain dapat menyadari hal ini. Tidak perlu menunggu keadaan semakin memburuk untuk sadar….

  19. Revolusi di negeri ini bisa dikatakan belum terjadi karena banyak yang menyalahartikan kata REVOLUSI tersebut.
    Revolusi menurut saya berarti perubahan di segala bidang, bukan hanya ada di satu bidang aja, saya ambil sebagai contoh, tidak usah terlalu menyoroti masalah korupsi para anggota dewan, tetapi coba kita lihat dari bawah, dari pembuatan arsip-arsip seperti SIM, NPWP, bahkan KTP sekalipun.

    Harusnya kita sadar akan banyaknya bencana alam yang menimpa di bumi Indonesia ini. Kita butuh perubahan setidaknya agar bencana itu tidak terulang lagi atau setidaknya meminimalisir kemungkinan tersebut..

    Presiden menentukan masa depan negara ini..
    Kalimat itu merupakan kesimpulan yang saya dapat setelah membaca artikel ini..

  20. ‘Berjuang untuk Indonesia menuju adil dan makmur’

    Adil bukan berarti sama besar ataupun sama banyak. Tetapi merata sesuai kebutuhan. Tidak mungkin kan, seorang Ade Rai makan nasi yang seporsi dengan Adul. Dan sebaliknya, tidak mungkin pula Adul membutuhkan nasi yang seporsi dengan Ade Rai.
    Begitu pula dengan meng-adil-kan Indonesia, jika manusia Indonesia bisa sadar akan kebutuhannya sendiri, keadilan itu pasti bisa tercapai.
    Namun sayangnya, kerakusan dan selalu merasa kurang, sudah mendarah daging dalam diri manusia, terutama manusia Indonesia. Sehingga hanya segelintir orang yang tidak rakus, yang mampu merasakan keadilan itu sendiri.
    Bukankah sebenarnya dalam kehidupan ini, Tuhan telah mengatur rejeki masing-masing manusia. Kan Tuhan itu Maha Adil,. Jadi pasti setiap rejeki yang diberikan ke hamba-hambaNya sudah pas sesuai porsi dan kebutuhannya.

    Bagi saya, makmur adalah rasa. Yang tidak jauh beda dengan kaya. Merasa makmur, sama dengan merasa kaya.
    Jika manusia sudah merasa cukup dengan apa yang didapatkannya, dan tidak merasa kurang, pastilah dia merasa kaya.
    Jadi makmur itu relatif, tergantung siapa yang bisa memandangnya.

    Kesimpulannya, keadilan dan kemakmuran diciptakan oleh manusia sendiri dan untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu diubah dari Indonesia. Hanya pikiran, hati dan nurani kita saja yang mesti ditata lagi.
    Akankah Indonesia menuju adil dan makmur? Bisakah Indonesia menuju adil dan makmur? Jawabannya, Pasti,! Pasti bisa!!!

Leave a Reply