Faisal Basri : Kaum Muda Punya Implementasi Pasal 33 UUD 45

Bandung- Kaum muda yang duduk menjadi pemimpin, diharapkan bisa mengantarkan bangsa Indonesia menuju perubahan yang terarah, real dan kongkrit. Kaum muda bukan hanya bertindak sebagai pengantar, tetapi juga dapat menunjukkan cara untuk melakukan perubahan, yang dimulai dengan memberikan figur yang layak dijadikan panutan bagi bangsa ini, dengan melakukan perubahan pada diri pribadi.

Demikian dikatakan Faisal Basri (Pengamat Ekonomi,Dosen FE Universitas Indonesia) dalam Diskusi Prospek Kepemimpinan Kaum Muda Dalam Pemilu 2009, yang digelar Forum Aktivis Bandung (FAB), Minggu (21/9/08) bertempat di Sekretariat FAB Jalan Batik Kumeli No. 3 Bandung. Hadir dalam kesempatan tersebut nara sumber lainnya Dede Mariana ( Pengamat Politik Unpad), Radhar Tri Baskoro (Ketua FAB), dipandu oleh Moderator Eko A Nugroho (Kepala Divisi Pengembangan Kepemimpinan FAB). Nampak hadir juga Puluhan aktivis dari FAB, Forum Komunikasi Sosial Masyarakat (FKSM) Merah Putih Bersatu, Pergerakan Kaum Muda Indonesia (PKMI) Jakarta dan perwakilan aktivis dari 26 Kabupaten/kota se Jawa Barat.

Dalam pemaparannya, Faisal Basri mengatakan bahwa kaum muda dapat melakukan perubahan dengan desain kendaraannya.

“Kaum muda harus mampu untuk meyakinkan masyarakatnya bisa mencapai tujuan dengan kendaraan yang dia desain” Kata Faisal.

Menurut Faisal bangsa Indonesia dalam melakukan kompromi tidak pernah didasarkan kepada kepentingan-kepentingan untuk jangka panjang, persentase terbanyak hanya untuk kepentingan jangka pendek dan politisi-politisi bangsa ini tidak pernah menjadi guide atau mengantarkan masyarakatnya kepada tujuan yang real dan konkrit. Politisi seharusnya mengantarkan rakyatnya ketujuan, berupa kemakmuran rakyat.

“Sampai sekarang tidak ada satupun Capres, satu partai pun, yang menawarkan bagaiamana mengimpelematasikan Pasal 33 (UUD 45-red), bumi, air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Tidak ada satu Capres pun,tidak ada satu partai pun, saya yakin kaum muda punya, Insya Allah saya punya, bukan kaya(makmur-red) satu dua orang. Ini perlu didorong perlu dirumuskan” Jelasnya.

Menyinggung figur yang layak memimpin, Faisal Basri mengatakan figur kepemimpinan yang diharapkan, mempunyai konteks sosiologis, dimana masyarakat sekitar telah menjadi bagian dari dirinya, begitu juga sebaliknya dirinya juga menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.

“Pemimpin yang bisa diterima masyarakatnya adalah pemimpin yang punya konteks sosiologis, punya konteks dalam masyarakatnya, yang masyarakatnya merasa bagaian dari dirinya dan dirinya merasa bagian dari masyarakatnya” Katanya

Hanya saja, menurut Faisal perubahan-perubahan yang terjadi pada keadaan disekitar kita, tidak didukung oleh kemauan dari pola pikir individu-individu yang diharapkan menjadi motor penggerak.

“Coba anda bayangkan kalau perubahan sedemikian drastis,deras itu, pemimpin-pemimpinya sudah nggak mau berubah. Ini membuat suatu bangsa itu mengalami kemunduran relatif , karena pemimpinnya tidak mau hidup memahami negerinya didalam konteks yang sudah berubah total” Ungkapnya.

“Oleh karena itu peroalannya bukan hanya tua atau muda tapi pemikiran-pemikiran yang mampu mengatsi keadaan jamannya. Ada semacam anti klimaks justru ditengah-tengah perubahan” Jelasnya.

Ketua FAB, Radhar Tri Baskoro dalam pengantarnya mengatakan bahwa perubahan bangsa saat ini, yang harus dilakukan adalah mengganti pondasi bangunan bangsa ini dengan generasi muda.

“Kepemimpinan muda selalu hadir dimasa-masa darurat dan hal ini ada korelasinya dengan kehadiran teman-teman pada diskusi hari ini, dimana kondisi real dari bangsa ini pasca reformasi 1998, memperlihatkan adanya keadaan darurat yang menggambarkan bahwa gerakan reformasi 1998 yang melakukan perubahan secara struktural menunjukkan kegagalan dan oleh karena itu perubahan yang harus dilakukan adalah mengganti pondasi bangunan bangsa ini dengan generasi muda” Kata Radhar

“Diharapkan kehadiran dari kepemimpinan dari kaum muda, bisa memberikan sebuah angin segar dan mengangakat nama baik dan harum bangsa ini kembali. Kita berharap apa yang kita (FAB-red) lakukan dapat bermanfaat bagi masyarakat, yang paling penting kita dapat meregenerasi kepemimpinan di Indonesia.” Jelas Radhar.

Menurut Radhar, Implementasinya adalah bagaimana memilih Presiden yang baik, bagaimana memilih kepala daerah yang baik, legislatif yang baik.

Diakhir sesi tanya jawab, Faisal Basri mengingatkan 3 hal penting yang harus dicermati, Pertama, kesolidan kaum muda saat ini lebih terlihat diluar jalur politik, hanya saja potensi-potensi kesolidan kaum muda yang bergerak diluar jalur politik, tidak bisa terakomodir diruang-ruang politik, ini dikarenakan parpol masih menggunakan mekanisme lama, yang melihat pada basis massa dan basis finansial dari calon-calon yang akan mereka dudukkan dalam struktur legislatif dan eksekutif

Kedua, yang terjadi partai malah mengakomodir selebritis dan preman kedalam mesin-mesin politik mereka, hanya demi mengejar popularitas dari partai dan merengkuh suara dari basis massa yang dimiliki oleh preman-preman politik.

Ketiga, perlu dipikirkan dan dicarikan jalan bagaimana organ-organ kemasyarakatan ini bisa berswadaya dan berswakarsa dalam melakukan gerak-gerak perubahan yang menjadi fokus gerak mereka, sehingga tidak lagi menjadi objek dari partai dalam meraih dukungan suara.

(www.forumaktivisbandung.com)

Leave a Reply