Bandung- Trend dari partai-partai politik yang mengusung agama sebagai landasan geraknya, bisa dikatakan hanya sebuah kegenitan, begitu juga dengan paham sosialis, yang terjadi malah pendikotomian antara agama dengan sosialis, padahal dalam agama itu sendiri sosialis, adalah sebuah nilai dalam perbuatan bagi orang yang beragama.
Hal tersebut diungkapkan Budi Praptono aktivis Anggota Musyawarah FAB yang juga Ketua FKSM Merah Putih Bersatu, dalam Diskusi Prospek Kepemimpinan Kaum Muda Dalam Pemilu 2009, yang digelar Forum Aktivis Bandung (FAB), Minggu (21/9/08) bertempat di Sekretariat FAB Jalan Batik Kumeli No. 3 Bandung. Hadir dalam kesempatan tersebut nara sumber Faisal Basri (Ekonom UI) Dede Mariana ( Pengamat Politik Unpad), Radhar Tri Baskoro (Ketua FAB), dipandu oleh Moderator Eko A Nugroho (Kepala Divisi Pengembangan Kepemimpinan FAB). Nampak hadir juga Puluhan aktivis dari FAB, Merah Putih Bersatu, Pergerakan Kaum Muda Indonesia (PKMI) Jakarta, dan perwakilan aktivis dari 26 Kabupaten/kota se Jawa Barat.
“Sekarang ini orang kelihatan trend beragama itu kesannya mengarah kepada kegenitan tidak mengarah kepada peningkatan ruh, spiritual. Kalau kita merasa bergama tapi tidak sosialis sebenarnya diragukan keberagamaannya.Sosialisme itu inti pokok dari ajaran agama” Kata Budi,
Menyinggung tentang kampanye kepemimpinan kaum muda, menurut Budi Praptono, kaum muda itu, bukan hanya melihat pada kondisi fisik, tetapi juga mempunyai nilai-nilai yang baru dalam berpikir dan berpendapat.
“Kaum muda bukan hanya fisiknya saja, tapi memiliki semangat mencari jati diri, semangat kebebasan, kemerdekaan jiwa didalam berekspresi” Ungkapnya.
Sementara itu Dede Mariana (Pengamat Politik, Dosen Fisip Unpad) mengungkapkan perlu adanya persiapan dalam diri kaum muda agar tidak terjadi distorsi orientasi politik ketika mereka masuk kedalam sistem politik itu sendiri, agar tujuan luhur dan murni tidak hilang
Menurutnya, prospek politik kaum muda tahun 2009, tidak bisa terlepas dari dikotomi fisik, realitasnya, saat ini kaum muda bangsa kita lebih konservatif dalam pola pikir dan lebih rakus dalam melakukan penumpukkan kekayaan demi kepentingan pribadi.
“Dalam ideologi kepartaiain pun, salah satu partai yang berlandaskan agama dan mengaaku partainya sebagai center dari kaum muda bergerak, tidak bisa mendefinisikan gerak mereka, apakah agama yang mereka anut secara organisasi lebih diarahkan sebagai ideologi ataukah sebatas syariah” Jelas Dede.
Menurut Dede, partai-partai di Indonesia mengalami disorientasi ideologi, yang mana mereka sendiri di internalnya masih gamang untuk menetukan pilihan ideologi yang akan menjadi platform geraknya dan mereka masih berlandaskan ideologi-ideologi lama yang dimatikan oleh pola pikir mereka sendiri dengan berkelakuan anti terhadap masukan dan saran
“Birokrasi kita juga kurang berani membicarakan kondisi real yang ada dimasyarakat dalam sebuah ruang-ruang pertemuan dalam pembahasan atau penggodokan sebuah policy” Ungkapnya.
(Ndrajat/Omas)
Filed under: Kegiatan | Tagged: budi praptono, dede mariana, merah putih bersatu



Apakah agama dibuat untuk menjadi batasan dalam interaksi antar sesama manusia?
Saya yakin kebanyakan orang akan menjawab tidak bila disodorkan dengan pertanyaan diatas. Namun apakah ketika kita mengatakan tidak berarti itu berasal dari hati nurani kita? ataupun itu hanya perkataan kita saja??
Marilah kita melihat diri kita masing-masing. Apakah kita sudah melakukan yang benar sesuai dengan ajaran agama yang kita anut.
Saya merasa kecewa dengan beberapa partai politik saat ini sebagai rakyat, sepertinya ideologinya bukan lagi Pancasila, tetapi berlandaskan agamanya masing-masing dan apakah tidak menyadari bahwa itu bertolak belakang dengan fakta yang ada di Indonesia, bawha di Indonesia terdapat beberapa agama.
Marilah kita menyadari, agama ada bukan untuk memisah-misahkan kita sebagai manusia tetapi untuk kita lebih jauh-jauh mengerti bahwa kita harus menghargai, menghormati, membantu, dan mengasihi sesama manusia.
Mari,kita bersama-sama membangun INDONESIA