<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO”</title>
	<atom:link href="http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/</link>
	<description>Menuju Indonesia Menjadi Mercusuar Dunia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Sep 2009 01:57:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: MR. J</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-139</link>
		<dc:creator>MR. J</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 09:56:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-139</guid>
		<description>revolusi biasanya dikaitkan dengan perkataan komunisme&#039; gimana pendapat itu?

apakah revolusi harus selesai?

Bagaimana kl kata revolusi diganti dengan perubahan?
 
mungkin kata ini lebih cocok... untuk judul yang idatas</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>revolusi biasanya dikaitkan dengan perkataan komunisme&#8217; gimana pendapat itu?</p>
<p>apakah revolusi harus selesai?</p>
<p>Bagaimana kl kata revolusi diganti dengan perubahan?</p>
<p>mungkin kata ini lebih cocok&#8230; untuk judul yang idatas</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Luthfi Arkanuddin (111070175)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-135</link>
		<dc:creator>Luthfi Arkanuddin (111070175)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:59:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-135</guid>
		<description>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).<br />
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.<br />
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.<br />
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?<br />
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Luthfi Arkanuddin (111070192)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-134</link>
		<dc:creator>Luthfi Arkanuddin (111070192)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:54:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-134</guid>
		<description>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.
Cukup sekian apa yang ingin saya sampaikan dalam menanggapi tulisan Bapak dalam artikel tersebut, seperti yang saya paparkan di awal bahwa saya bukanlah individu yang tertarik dengan hal-hal seperti ini jadi saya mohon maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang telah ada pada tulisan diatas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju  atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).<br />
Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.<br />
Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.<br />
Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?<br />
“Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.<br />
Cukup sekian apa yang ingin saya sampaikan dalam menanggapi tulisan Bapak dalam artikel tersebut, seperti yang saya paparkan di awal bahwa saya bukanlah individu yang tertarik dengan hal-hal seperti ini jadi saya mohon maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang telah ada pada tulisan diatas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yoseph Syafaat S (111070142)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-133</link>
		<dc:creator>Yoseph Syafaat S (111070142)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:47:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-133</guid>
		<description>Sejarah memang mencatat bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan negara asing yang lama pada tanggal 17 Agustus 1945 baik  secara de yure maupun secara de facto. Indonesia mendapat pengakuan dari negara lain atas   kemerdekaan bangsa ini. Selain itu, diakui bahwa pejuang para pahlawan   kita yang memang menjadi modal bangsa ini mencapai  kebebasannya.
Seriring berjalannya waktu, ternyata bukan  kemerdekaan negara ini saja yang perlu diperjuangkan.  kita ternyata masih dijajah oleh penjajah jiwa. Sebaga makhluk  ciptaan Tuhan,  seharusnya  kita bertanggungjawab dan berbuat  karena  kemauan sang Pencipta.
Jiwa yang sudah terjajah oleh faktor lain di luar Tuhan menghalangi  kita untuk  memperoleh  kemerdeaan sesungguhnya. Di dunia  kita diberi  kesempatan untuk  hidup oleh Tuhan dengan tanpa membawa apa-apa. Muncul di dunia fana ini tanpa merasa memiliki apa-apa. Diri, tubuh, pikiran, dan sebagainya sesungguhnya semuanya berasal dari Yang Maha Pencipta.
K ebebasan yang dimaksud adalah bagaimana jiwa ini dipaksakan untuk  tunduk   kepada sang Pencipta. Segala bentuk  penjajah asing di jiwa  kita harus diusir jauh-jauh agar Yang  Kuasa menguasai ruang jiwa  kita secara total.
Pembangunan nasional baiknya didasari oleh jiwa yang sudah dibentukk   dan dimerdekakan dengan penuh  keyakinan  kepada Tuhan YME. Tentu  keyakinan itu sendiri harus menunggu  keputusan (dekrit) dan  kehendak  Tuhan.
Yang menjadi masalah saat ini adalah segala sesuatu adalah Cuma-Cuma (anugerah) dari Tuhan. Segala sesuatu seturut k ehenda Nya boleh ada (diberi) boleh tidak  ada (tida  diberi).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah memang mencatat bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan negara asing yang lama pada tanggal 17 Agustus 1945 baik  secara de yure maupun secara de facto. Indonesia mendapat pengakuan dari negara lain atas   kemerdekaan bangsa ini. Selain itu, diakui bahwa pejuang para pahlawan   kita yang memang menjadi modal bangsa ini mencapai  kebebasannya.<br />
Seriring berjalannya waktu, ternyata bukan  kemerdekaan negara ini saja yang perlu diperjuangkan.  kita ternyata masih dijajah oleh penjajah jiwa. Sebaga makhluk  ciptaan Tuhan,  seharusnya  kita bertanggungjawab dan berbuat  karena  kemauan sang Pencipta.<br />
Jiwa yang sudah terjajah oleh faktor lain di luar Tuhan menghalangi  kita untuk  memperoleh  kemerdeaan sesungguhnya. Di dunia  kita diberi  kesempatan untuk  hidup oleh Tuhan dengan tanpa membawa apa-apa. Muncul di dunia fana ini tanpa merasa memiliki apa-apa. Diri, tubuh, pikiran, dan sebagainya sesungguhnya semuanya berasal dari Yang Maha Pencipta.<br />
K ebebasan yang dimaksud adalah bagaimana jiwa ini dipaksakan untuk  tunduk   kepada sang Pencipta. Segala bentuk  penjajah asing di jiwa  kita harus diusir jauh-jauh agar Yang  Kuasa menguasai ruang jiwa  kita secara total.<br />
Pembangunan nasional baiknya didasari oleh jiwa yang sudah dibentukk   dan dimerdekakan dengan penuh  keyakinan  kepada Tuhan YME. Tentu  keyakinan itu sendiri harus menunggu  keputusan (dekrit) dan  kehendak  Tuhan.<br />
Yang menjadi masalah saat ini adalah segala sesuatu adalah Cuma-Cuma (anugerah) dari Tuhan. Segala sesuatu seturut k ehenda Nya boleh ada (diberi) boleh tidak  ada (tida  diberi).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ahmad Ardaning (111070143)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-132</link>
		<dc:creator>Ahmad Ardaning (111070143)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:39:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-132</guid>
		<description>Bertepatan dengan adanya Pemilu legislative yang baru saja diselenggarakan oleh Pemerintah  Republik Indonesia, yang merupakan pesta demokrasi terbesar di Negara ini, ada beberapa hal yang cukup menarik apabila dikaitkan dengan tulisan yang bapak buat. Kita tau bahwa kita sebagai penerus para pejuang revolusi Indonesia patut bangga karena untuk sekian kalinya Bangsa kita ini berhasil melakukan acara besar seperti ini. Tapi seperti kita ketahui bersama bahwa banyak sekali timbul masalah baik sebelum, setelah, maupun pada saat pemilu berlangsung. Dari sebelum pemilu, banyak kita lihat para caleg berlomba – lomba menghamburkan uang dan harta mereka untuk mencari simpati masyarakat. Berusaha untuk menjadikan diri mereka terkenal se-terkenal mungkin. Banyak anggapan yang terpilih adalah caleg yang terkenal, bukannya caleg yang memang benar – benar mumpuni. Lalu dimanakah letak revolusi jiwa yang mereka lakukan?? Apa yang mereka cari sebenarnya dari semua ini?? Diri mereka seperti memaksakan kepada tuhan untuk menjadikan apa yang mereka lakukan!
Masalah juga muncul pada saat pemilu berlangsung, dimana banyak sekali hal – hal yang tidak sepantasnya terjadi. Yang paling utama adalah subjek dari pemilu itu sendiri, yaitu seluruh rakyat Bangsa Indonesia. Berapa persen penduduk yang sudah memenuhi kewajibannya?? Kenapa banyak suara – suara terbuang akibat tidak terdaftarnya ataupun akibat masalah logisik?? Bagaimana kami bias merevolusi jiwa – jiwa kami apabila untuk memilih saja tidak bias?? Apakah hal –hal ganjil ini terjadi akibat ketidak mampuan sebagai manusia atau akibat ulah para jiwa yang kotor??
Setelah pemilu berlangsung, masalah yang timbul tidaklah berhenti. Banyak caleg – caleg stress bermunculnya akibat keinginan jiwa mereka untuk memenangkan pemilu tercapai. Bahkan ada beberapa orang yang meninggal dunia karena tidak kuat menerima kenyataan yang ada. Mereka hanya memaksa Tuhan untuk membuat mereka menang, dan tidak siap apabila Tuhan berkehendak lain dengan memberikan mereka kekalahan. Padahal Tuhanlah Sang Maha Pengatur. Apakah mereka pantas walaupun hanya untuk menyandang status sebagai caleg??
Kemudian, apakah sesungguhnya makna dari revolusi jiwa di dalam pemilu ini?? Apakah pemilu memang diperlukan sebagai bagian dari langkah revolusi yang belum selesai ini?? Kenapa kok Bangsa Indonesia seperti nasibnya tergantung pada pemilu ini, bukan bergantung pada kehendak Tuhan yang Maha Kuasa??
Sekian beberapa hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan tulisan bapak dan keadaan yang ada pada saat ini. Tanpa mengurangi hormat saya kepada bapak, saya mohon maaf atas segala kekurangannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bertepatan dengan adanya Pemilu legislative yang baru saja diselenggarakan oleh Pemerintah  Republik Indonesia, yang merupakan pesta demokrasi terbesar di Negara ini, ada beberapa hal yang cukup menarik apabila dikaitkan dengan tulisan yang bapak buat. Kita tau bahwa kita sebagai penerus para pejuang revolusi Indonesia patut bangga karena untuk sekian kalinya Bangsa kita ini berhasil melakukan acara besar seperti ini. Tapi seperti kita ketahui bersama bahwa banyak sekali timbul masalah baik sebelum, setelah, maupun pada saat pemilu berlangsung. Dari sebelum pemilu, banyak kita lihat para caleg berlomba – lomba menghamburkan uang dan harta mereka untuk mencari simpati masyarakat. Berusaha untuk menjadikan diri mereka terkenal se-terkenal mungkin. Banyak anggapan yang terpilih adalah caleg yang terkenal, bukannya caleg yang memang benar – benar mumpuni. Lalu dimanakah letak revolusi jiwa yang mereka lakukan?? Apa yang mereka cari sebenarnya dari semua ini?? Diri mereka seperti memaksakan kepada tuhan untuk menjadikan apa yang mereka lakukan!<br />
Masalah juga muncul pada saat pemilu berlangsung, dimana banyak sekali hal – hal yang tidak sepantasnya terjadi. Yang paling utama adalah subjek dari pemilu itu sendiri, yaitu seluruh rakyat Bangsa Indonesia. Berapa persen penduduk yang sudah memenuhi kewajibannya?? Kenapa banyak suara – suara terbuang akibat tidak terdaftarnya ataupun akibat masalah logisik?? Bagaimana kami bias merevolusi jiwa – jiwa kami apabila untuk memilih saja tidak bias?? Apakah hal –hal ganjil ini terjadi akibat ketidak mampuan sebagai manusia atau akibat ulah para jiwa yang kotor??<br />
Setelah pemilu berlangsung, masalah yang timbul tidaklah berhenti. Banyak caleg – caleg stress bermunculnya akibat keinginan jiwa mereka untuk memenangkan pemilu tercapai. Bahkan ada beberapa orang yang meninggal dunia karena tidak kuat menerima kenyataan yang ada. Mereka hanya memaksa Tuhan untuk membuat mereka menang, dan tidak siap apabila Tuhan berkehendak lain dengan memberikan mereka kekalahan. Padahal Tuhanlah Sang Maha Pengatur. Apakah mereka pantas walaupun hanya untuk menyandang status sebagai caleg??<br />
Kemudian, apakah sesungguhnya makna dari revolusi jiwa di dalam pemilu ini?? Apakah pemilu memang diperlukan sebagai bagian dari langkah revolusi yang belum selesai ini?? Kenapa kok Bangsa Indonesia seperti nasibnya tergantung pada pemilu ini, bukan bergantung pada kehendak Tuhan yang Maha Kuasa??<br />
Sekian beberapa hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan tulisan bapak dan keadaan yang ada pada saat ini. Tanpa mengurangi hormat saya kepada bapak, saya mohon maaf atas segala kekurangannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dhuhanisfu Syaibana (111070192)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-131</link>
		<dc:creator>Dhuhanisfu Syaibana (111070192)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:36:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-131</guid>
		<description>Menanggapi artikel yang telah bapak tulis dengan judul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’”. Saya sangat setuju dengan beberapa poin pada artikel tersebut dan ada juga poin-poin yang saya takut salah menerjemahkan. Poin-poin tersebut akan saya paparkan dibawah ini.
Pada bagian “Urusan Dunia atau Kesalehan Sosial” bapak hanya memaparkan sebuah kondisi yang sedang terjadi dan kondisi yang Bapak harapkan. Sangat disayangkan mengapa Bapak tidak membahas bagaimana cara mencapai kondisi yang Bapak harapkan karena bagian yang sangat penting dalam mencapai suatu kondisi yang diinginkan adalah proses pencapaian kondisi tersebut, agar pembaca mengerti apa yang penulis inginkan dan mengerti apa yang akan dilakukan setalah membaca tulisan si penulis. Memang sekarang hokum dibuat secara terperinci dan makin teknis atau operasional tapi menurut saya itu dikarenakan perkembangan zaman dan kebutuhan akan perhatian untuk hal-hal yang lebih detail.
“Akan Lahir Pemimpin Hebat”, dalam bagian ini dijelaskan bahwa pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau sebutan lainnya tidaklah hebat. Padahal kata ‘hebat’ disini bisa diinterpretasikan kedalam banyak makna. Saya ambil contoh seperti Hitler, dia adalah sosok yang sangat di hormati oleh yang dipimpinnya dan dia juga hebat. Jadi menurut saya otoriter, diktator,  atau sebutan lainnya sangat memungkinkan menimbulkan hal-hal yang positif.
Dalam poin “Ratu Adil, Satrio Piningit”, saya sangat setuju agar setiap elemen berusaha untuk merubah dirinya kedalam pribadi yang dapat membawa hal-hal positif kedalam kehidupan kesehariannya. Karena memang hal-hal positif tersebut tidak akan muncul begitu saja dari seseorang yang di tunggu-tunggu kehadirannya dalam kehidupan ini. Jadi sebagai individu yang peduli dengan lingkungan keseharian maka semua individu harus merubah dirnya ke arah yang lebih baik atau positif.
Terkahir pada poin “Bhineka Tunggal Ika dengan Dasar Pancasila” dipaparkan bahwa memaksakan kehendak sudah tentu melawan kehendak-Nya. Menurut saya memaksakan kehendak belum tentu melawan kehendak tuhan. Karena disini tidak dijelaskan contoh jelasnya tentang kasus ini jadi saya takut salah menginterpretasikan hal tersebut. Yang saya tangkap disini adalah memaksakan kehendak sesama manusia bisa menimbulkan hal yang positif bilamana pihak yang memaksakan kehendak tersebut lebih tahu dan lebih mengerti apa yang dia paksakan.
Sekian beberapa pendapat yang sempat muncul disaat membaca artikel hasil pemikiran Bapak. Saya sadar apa yang telah saya sampaikan diatas masih memiliki beberapa kekurangan, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menanggapi artikel yang telah bapak tulis dengan judul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’”. Saya sangat setuju dengan beberapa poin pada artikel tersebut dan ada juga poin-poin yang saya takut salah menerjemahkan. Poin-poin tersebut akan saya paparkan dibawah ini.<br />
Pada bagian “Urusan Dunia atau Kesalehan Sosial” bapak hanya memaparkan sebuah kondisi yang sedang terjadi dan kondisi yang Bapak harapkan. Sangat disayangkan mengapa Bapak tidak membahas bagaimana cara mencapai kondisi yang Bapak harapkan karena bagian yang sangat penting dalam mencapai suatu kondisi yang diinginkan adalah proses pencapaian kondisi tersebut, agar pembaca mengerti apa yang penulis inginkan dan mengerti apa yang akan dilakukan setalah membaca tulisan si penulis. Memang sekarang hokum dibuat secara terperinci dan makin teknis atau operasional tapi menurut saya itu dikarenakan perkembangan zaman dan kebutuhan akan perhatian untuk hal-hal yang lebih detail.<br />
“Akan Lahir Pemimpin Hebat”, dalam bagian ini dijelaskan bahwa pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau sebutan lainnya tidaklah hebat. Padahal kata ‘hebat’ disini bisa diinterpretasikan kedalam banyak makna. Saya ambil contoh seperti Hitler, dia adalah sosok yang sangat di hormati oleh yang dipimpinnya dan dia juga hebat. Jadi menurut saya otoriter, diktator,  atau sebutan lainnya sangat memungkinkan menimbulkan hal-hal yang positif.<br />
Dalam poin “Ratu Adil, Satrio Piningit”, saya sangat setuju agar setiap elemen berusaha untuk merubah dirinya kedalam pribadi yang dapat membawa hal-hal positif kedalam kehidupan kesehariannya. Karena memang hal-hal positif tersebut tidak akan muncul begitu saja dari seseorang yang di tunggu-tunggu kehadirannya dalam kehidupan ini. Jadi sebagai individu yang peduli dengan lingkungan keseharian maka semua individu harus merubah dirnya ke arah yang lebih baik atau positif.<br />
Terkahir pada poin “Bhineka Tunggal Ika dengan Dasar Pancasila” dipaparkan bahwa memaksakan kehendak sudah tentu melawan kehendak-Nya. Menurut saya memaksakan kehendak belum tentu melawan kehendak tuhan. Karena disini tidak dijelaskan contoh jelasnya tentang kasus ini jadi saya takut salah menginterpretasikan hal tersebut. Yang saya tangkap disini adalah memaksakan kehendak sesama manusia bisa menimbulkan hal yang positif bilamana pihak yang memaksakan kehendak tersebut lebih tahu dan lebih mengerti apa yang dia paksakan.<br />
Sekian beberapa pendapat yang sempat muncul disaat membaca artikel hasil pemikiran Bapak. Saya sadar apa yang telah saya sampaikan diatas masih memiliki beberapa kekurangan, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Moch. Taufik S (113050194)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-128</link>
		<dc:creator>Moch. Taufik S (113050194)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 05:51:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-128</guid>
		<description>Artikel yang sangat menarik sekali.
Dari paparan di atas, Bapak menyampaikan dengan detil poin-poin yang memang terjadi di kalangan masyarakat.

Ya... saya sangat setuju bahwa negara ini memang masih memiliki &quot;hutang&quot; tuntasnya sebuah revolusi yang sampai saat ini masih ngalor-ngidul tak terurus. Bahkan, saat ini seolah masyarakat tak memperdulikan lagi &quot;beban&quot; revolusi yang seharusnya ditanggung oleh kita bersama.

Namun...  bila kita menalaah kembali paparan artikel di atas, kita tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan siapapun. 

mengaapa?

Karena,, Revolusi suatu bangsa harus diawali dengan Revolusi Jiwa yang Merdeka. Namun apakah Jiwa kita sudah merdeka? Entah saya menangkap penjelasannya seperti apa.. tapi, bila artikel itu ditelaah... manusia adalah citptaan Tuhan. dan HARUS MAU menuruti apa maunya Tuhan.dan tiap-tiap manusia sudah dikodratkan seperti ini. Menggerakkan sebuah sistem yang sudah terencana apik dengan segala keberhasilan dan kebobrokan yang ada didalamnya.

Sehingga,,, sebelum menyalahkan cara orang lain dalam bertindak dan berfikir, tunjuklah diri kita masing-masing. Apakah kita sudah pantas dibilang berhasil dan bagian dari keberhasilan sistem yang dibuat Tuhan? ataukah kita hanya benalu belaka penyebab kebobrokan dunia?

dan, YA...
keyakinan itu sudah MUTLAK tidak dapat dipaksakan... Bagaimanapun alasannya, pemaksaan keyakinan adalah pelanggaran HAM. Oleh karenanya, jangan pernah mencoba untuk memaksakan agar orang lain mengikuti ideologi kita....
Namun, kita sebagai manusia sosial, juga harus memiliki prinsip hidup yang kita pikir benar (gunakan otak, karena manusia diberikan akal oleh Tuhan untuk perfikir).

Kembali lagi. Untuk mencapai keberhasilan Revolusi Indonesia yang Hakiki,,, perlu digaris bawahi :
&quot;jadilah bagian dari keberhasilan dunia dengan Merevolusi Jiwa SENDIRI menjadi lebih Baik dan jalankan amanan manusia sesuai dengan yang diperintahkan oleh Tuhan&quot;

Mungkin itu komentar yang bisa saia sampaikan untuk artikel di atas.
Dan, sekedar menanggapi komentar yang sudah disampaikan di atas, bahwa setiap agama (sebagai fasilitator manusia dengan Sang Pencipta) pasti mengajarkan kebaikan bagi umatnya.... TINGGAL bagaimana individu tersebut menjalankan apa yang dia anggap benar.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel yang sangat menarik sekali.<br />
Dari paparan di atas, Bapak menyampaikan dengan detil poin-poin yang memang terjadi di kalangan masyarakat.</p>
<p>Ya&#8230; saya sangat setuju bahwa negara ini memang masih memiliki &#8220;hutang&#8221; tuntasnya sebuah revolusi yang sampai saat ini masih ngalor-ngidul tak terurus. Bahkan, saat ini seolah masyarakat tak memperdulikan lagi &#8220;beban&#8221; revolusi yang seharusnya ditanggung oleh kita bersama.</p>
<p>Namun&#8230;  bila kita menalaah kembali paparan artikel di atas, kita tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan siapapun. </p>
<p>mengaapa?</p>
<p>Karena,, Revolusi suatu bangsa harus diawali dengan Revolusi Jiwa yang Merdeka. Namun apakah Jiwa kita sudah merdeka? Entah saya menangkap penjelasannya seperti apa.. tapi, bila artikel itu ditelaah&#8230; manusia adalah citptaan Tuhan. dan HARUS MAU menuruti apa maunya Tuhan.dan tiap-tiap manusia sudah dikodratkan seperti ini. Menggerakkan sebuah sistem yang sudah terencana apik dengan segala keberhasilan dan kebobrokan yang ada didalamnya.</p>
<p>Sehingga,,, sebelum menyalahkan cara orang lain dalam bertindak dan berfikir, tunjuklah diri kita masing-masing. Apakah kita sudah pantas dibilang berhasil dan bagian dari keberhasilan sistem yang dibuat Tuhan? ataukah kita hanya benalu belaka penyebab kebobrokan dunia?</p>
<p>dan, YA&#8230;<br />
keyakinan itu sudah MUTLAK tidak dapat dipaksakan&#8230; Bagaimanapun alasannya, pemaksaan keyakinan adalah pelanggaran HAM. Oleh karenanya, jangan pernah mencoba untuk memaksakan agar orang lain mengikuti ideologi kita&#8230;.<br />
Namun, kita sebagai manusia sosial, juga harus memiliki prinsip hidup yang kita pikir benar (gunakan otak, karena manusia diberikan akal oleh Tuhan untuk perfikir).</p>
<p>Kembali lagi. Untuk mencapai keberhasilan Revolusi Indonesia yang Hakiki,,, perlu digaris bawahi :<br />
&#8220;jadilah bagian dari keberhasilan dunia dengan Merevolusi Jiwa SENDIRI menjadi lebih Baik dan jalankan amanan manusia sesuai dengan yang diperintahkan oleh Tuhan&#8221;</p>
<p>Mungkin itu komentar yang bisa saia sampaikan untuk artikel di atas.<br />
Dan, sekedar menanggapi komentar yang sudah disampaikan di atas, bahwa setiap agama (sebagai fasilitator manusia dengan Sang Pencipta) pasti mengajarkan kebaikan bagi umatnya&#8230;. TINGGAL bagaimana individu tersebut menjalankan apa yang dia anggap benar.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anggi fitrining tyas(113051001)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-126</link>
		<dc:creator>Anggi fitrining tyas(113051001)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 05:29:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-126</guid>
		<description>Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan 
menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin, 
namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya.Revolusi umumnya mensyaratkan 
hadirnya seorang pemimpin kharismatik sehinggadanya sebuah elemen ideologi

Saya setuju dengan apa yang dimaksud dengan Revolusi jiwa. Untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan bangsa ini
ke arah kemerdekaan yang sempurna kita harus memulai perubahan itu dari kita masing-masing,
tapi apakah semua akan bisa berbuat seperti itu??lebih baik mencoba daripada terlambat!!
Perubahan itu sungguh sulit untuk dilakukan. Maka kata kunci untuk bisa merubah diri kita adalah “paksakan”, cobalah rubah setiap perilaku kita dengan memaksakannya, lihat perubahannya beberapa hari mendatang, 
atau beberapa minggu atau bulan bahkan tahun, tentu perubahan itu akan muncul dan 
dengan paksaan itu akan melahirkan kebiasaan.

Kita harus bisa menghasilkan sebuah revolusi pada diri kita jika kita ingin berubah 
kepada hal yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil lebih banyak, keberhasilan lebih 
dahsyat, dan target yang lebih cepat, sebuah perubahan seringkali kita perlukan. 
Berat memang, tapi itu harus!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan<br />
menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin,<br />
namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya.Revolusi umumnya mensyaratkan<br />
hadirnya seorang pemimpin kharismatik sehinggadanya sebuah elemen ideologi</p>
<p>Saya setuju dengan apa yang dimaksud dengan Revolusi jiwa. Untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan bangsa ini<br />
ke arah kemerdekaan yang sempurna kita harus memulai perubahan itu dari kita masing-masing,<br />
tapi apakah semua akan bisa berbuat seperti itu??lebih baik mencoba daripada terlambat!!<br />
Perubahan itu sungguh sulit untuk dilakukan. Maka kata kunci untuk bisa merubah diri kita adalah “paksakan”, cobalah rubah setiap perilaku kita dengan memaksakannya, lihat perubahannya beberapa hari mendatang,<br />
atau beberapa minggu atau bulan bahkan tahun, tentu perubahan itu akan muncul dan<br />
dengan paksaan itu akan melahirkan kebiasaan.</p>
<p>Kita harus bisa menghasilkan sebuah revolusi pada diri kita jika kita ingin berubah<br />
kepada hal yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil lebih banyak, keberhasilan lebih<br />
dahsyat, dan target yang lebih cepat, sebuah perubahan seringkali kita perlukan.<br />
Berat memang, tapi itu harus!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agus Wahyu Sanjaya(111071007)</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-124</link>
		<dc:creator>Agus Wahyu Sanjaya(111071007)</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 05:18:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-124</guid>
		<description>Saya tertarik dengan apa yang Bapak sampaikan pada artikel di atas. Saya sangat setuju bahwa perjuangan bangsa ini masih belum selesai. Bahkan menurut saya, secara fisik pun bangsa ini masih dijajah, bukan oleh belanda atau negara asing lainnya melainkan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Tentu ada yang salah dalam negeri ini, salah dalam memaknai kemerdekaan itu sendiri. Mungkin revolusi jiwa yang bapak sampaikan diatas merupakan solusinya. Namun saya ragu apakah bisa memerdekakan jiwa tersebut tanpa bantuan agama. Sebab menurut saya agama lah sarana satu-satunya menghubungkan jiwa dengan Tuhan itu sendiri. Jadi apakah revolusi ini mungkin dilakukan??How??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tertarik dengan apa yang Bapak sampaikan pada artikel di atas. Saya sangat setuju bahwa perjuangan bangsa ini masih belum selesai. Bahkan menurut saya, secara fisik pun bangsa ini masih dijajah, bukan oleh belanda atau negara asing lainnya melainkan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Tentu ada yang salah dalam negeri ini, salah dalam memaknai kemerdekaan itu sendiri. Mungkin revolusi jiwa yang bapak sampaikan diatas merupakan solusinya. Namun saya ragu apakah bisa memerdekakan jiwa tersebut tanpa bantuan agama. Sebab menurut saya agama lah sarana satu-satunya menghubungkan jiwa dengan Tuhan itu sendiri. Jadi apakah revolusi ini mungkin dilakukan??How??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Revient Noor Ode</title>
		<link>http://budipraptono.wordpress.com/2008/08/15/revolusi-jiwa-bangsa-indonesia-jawaban-dari-%e2%80%9crevolusi-belum-selesai-bung-karno%e2%80%9d/#comment-122</link>
		<dc:creator>Revient Noor Ode</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 05:07:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budipraptono.wordpress.com/?p=57#comment-122</guid>
		<description>assalamuallaikum...

saya sangat setuju dengan tulisan bapak tentang revolusi jiwa, memang sangat di rasakan jiwa-jiwa generasi penerus bangsa saat ini sangat menurun atau bisa di katakan sangat bobrok... contohnya aja masih banyak pejabat - pejabat pemerintah yang masih korupsi.... padahal mereka orang -orang yang bisa di katakan berpendidikan akan tetapi jiwa mereka masih kotor hingga uang yang harus menjadi hak rakyat yang tidak seberapa banyaknya tetap mereka ambil....

mungkin lewat tulisan bapak tentang revolusi jiwa banyak pejabat - pejabat pemerintah yang akan sadar tentang pentingnya revolusi jiwa...

wasalamualllaikum.wr.wb..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamuallaikum&#8230;</p>
<p>saya sangat setuju dengan tulisan bapak tentang revolusi jiwa, memang sangat di rasakan jiwa-jiwa generasi penerus bangsa saat ini sangat menurun atau bisa di katakan sangat bobrok&#8230; contohnya aja masih banyak pejabat &#8211; pejabat pemerintah yang masih korupsi&#8230;. padahal mereka orang -orang yang bisa di katakan berpendidikan akan tetapi jiwa mereka masih kotor hingga uang yang harus menjadi hak rakyat yang tidak seberapa banyaknya tetap mereka ambil&#8230;.</p>
<p>mungkin lewat tulisan bapak tentang revolusi jiwa banyak pejabat &#8211; pejabat pemerintah yang akan sadar tentang pentingnya revolusi jiwa&#8230;</p>
<p>wasalamualllaikum.wr.wb..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
