REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO”

Oleh : Budi Praptono

Ilustrasi (C) himawan.blogsome.com

Revolusi’45 masih berupa revolusi fisik. Istilah ini, mungkin agak mengagetkan kita semua, karena paradigma fisik dalam kebiasaan kita adalah gedung, mobil, dll.

Tetapi kalau kita renungkan tantangan bersama pada saat berjuang untuk merdeka yang akhirnya berhasil pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah masih ada bentuknya secara jelas “penjajah belanda dkk”, sehingga masih mudah untuk dijual kepada masyarakat untuk menjadi tantangan bersama.

Ini, tidak ada sedikitpun mengurangi rasa hormat saya kepada para pejuang Bangsa, bahkan bentuk penghormatan saya sebagai anak bangsa sebagai generasi penerus untuk patuh kepada amanah pendahulu saya, yang disampaikan oleh Bung Karno, tentang “Revolusi Belum Selesai”, yakni mengingatkan kita sebagai generasi penerusnya, sesuatu keberhasilan dalam proses yang panjang tersebut, masih koma, belum titik.

Revolusi jiwa yang merdeka

Jiwa adalah fitroh, suci, sehingga sesungguhnya hanya mau dengan yang suci, dan hanya mau tunduk patuh kepada Yang Maha Suci; Bung Karno mengestafetkan kepada generasi penerusnya untuk melanjutkan revolusi memerdekan jiwa-jiwa Bangsa Indonesia, agar tidak terjajah oleh Penjajah-penjajah jiwa, dengan berbagai bentuknya, semua yang bukan Tuhan, termasuk Agama itu sendiri. Kenapa Agama juga termasuk, yang jelas agama bukan Tuhan, hanya sebagai panduan, sarana atau alat untuk mengenal Tuhan, agar kita sempurna hidup kita menurut maunya Tuhan.

Dengan Jiwa yang merdeka, maka kita akan dapat mengisi kemerdekaan, adalah berdasarkan maunya Jiwa yang otomatis maunya Tuhan itu sendiri. Kalau meminjam istilah Steven Covey, dalam bukunya 7 Habits, manusia yang efektif adalah manusia yang dapat membangun kesadaran dan bertanggung jawab pada mental, agar tidak dikuasai orang lain atau lingkungan. Pertanyaannya sudahkan kita merdeka dalam kategori ini?

Jiwa yang hanya tergantung kepada Yang Maha Digantungi

Ibarat peralatan elektronika, maka yang utama, agar berfungsi alat tersebut, adalah harus nyambung kepada jaringan PLN/sumber listrik. Tentunya hal yang utama dilakukan oleh semua manusia, yang peranannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi, maka sebagai wakil harus ketemu dulu dengan yang diwakili, karena Tuhan adalah Maha Suci, maka tidak mungkin yang tidak suci bisa ketemu dengan Yang Maha Suci.

Apa yang disebut manusia suci? Adalah manusia yang dalam jiwanya, tidak ada yang lain, kecuali Tuhan itu sendiri.

Dengan demikian, urusan dengan Tuhan, tidak bisa dengan penafsiran atau mengikuti penafsiran orang lain atau kelompok elit, harus pasti, makanya harus ketemu atau nyambung dengan Sang Pencipta, dan wajib dilakukan oleh semua orang. Disinilah, kenapa Nabi Muhammad, dan Nabi-nabi atau orang-orang suci, mendorong semangat sahabat, bukan semangat guru dan murid, agar manusia sejajar hubungannya di Mata Tuhan.Kesalehan Sosial

Setelah bertemu atau istilahnya nyambung dengan sumber listrik, maka ibarat alat elektronika tersebut, akan berfungsi dengan sendirinya; Dengan demikian dengan berfungsinya alat tersebut, kalau lampu nyala, kalau radio bunyi, maka dengan menyalanya lampu dan berbunyinya radio, otomatis itulah yang dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan, sebagai bentuk kesalehan sosial yang sesuai maunya Tuhan, bukan maunya manusia itu sendiri.

Dimana letak kesalahan manusia pada umumnya? Adalah pada kesalahan cara, semangat dalam mengejawantahkan bentuk kesalehan sosial itu sendiri; menganggap bahwa kesalehan sosial adalah merupakan tujuan, kitalah yang mengusahakan, padahal kita ini hanya merupakan alat atau robot, sarana Tuhan bekerja. Ibarat cara kerja robot, apakah robot bekerja, adalah maunya robot?, atau robot dapat bekerja sendiri?, tentunya robot dirancang dulu, deprogram dulu, baru sang robot dapat bekerja menghasilkan sesuatu.
Dengan demikian, pantaskah, manusia merasa bisa, atau mengaku yang berkarya?

Pemaksaan kehendak

Sebagaimana sebuah organisasi atau pabrik, tentunya Sang Pembuat Pabrik, menciptakan semua perangkat, sarana prasarananya termasuk aturannya agar harmonis, sehingga tujuan dapat tercapai sesuai maunya Sang Pembuat.

Dengan demikian, pantaskan kita ini hanya bagian kecil dari system yang dibuat Sang Pencipta, memaksakan kehendaknya terhadap bagian yang lain?

Bhineka Tunggal Ika, dengan dasar pancasila

Meminjam perumpamaan pabrik lagi, tidak mungkin pabrik dapat berjalan dengan baik, kalau semuanya sama, seragam; agar berjalan dengan baik maka harus ada yang memerankan peran yang berbeda, otomatis pasti beda baik bentuk, proses, dan sebagainya. Ini semua merupakan Hak Mutlak Tuhan! Jadi kalau ada pihak atau orang yang memaksakan kehendaknya, sudah barang tentu melawan yang punya Hak Mutlak, ya Tuhan itu sendiri.

Keyakinan tidak bisa dipaksakan

Pertanyaan, dari manakah datangnya keyakinan? Kalau mau jujur, kita tidak dapat menjawabnya, seandainya bisa, hanyalah pendekatan ilmiah, mungkin dari lingkungan, keturunan, atau dari baca buku, perjalanan hidup, yang semuanya serba tidak tuntas. Padahal yang sesungguhnya yang membuat adalah Sang Maha Pembuat, ya Tuhan itu sendiri.

Dengan demikian, pantaskah kita mempermasalahkannya dan memaksakannya harus seperti kita? Berarti sama saja, kita memaksa Tuhan!
Dalam hal ini, kenapa para Nabi atau orang-orang suci, hanya mengajak atau menyampaikan pesan saja, bukan memaksanya? Karena untuk berubah, adalah urusan dia sendiri dengan Tuhannya saja.

Apalagi urusan dengan Tuhan, adalah unik, dan Tuhan sendiri adalah tidak bisa dimodelkan dengan apa saja, maka hubungan dengan Tuhan, tidak dapat dimodelkan secara baku, artinya unik sesuai dengan keyakinan masing dan ini selalu tumbuh, dan berproses unik pula.

Urusan dunia atau kesalehan sosial

Ibarat peralatan telekomunikasi, agar dapat saling berkomunikasi dengan baik, dengan noise yang rendah, maka perlu standarisasi, aturan main, kesepakatan, tentunya aturan main yang tidak melanggar asas keadilan, kerelaan/keikhlasam, tidak ada semangat mendolimi kepada yang lemah atau minoritas.

Sesungguhnya hukum atau fikih, adalah hanya dipakai untuk mengatur orang-orang yang masih belum atau sedang menuju ketemu Tuhan; atau dengan kata lain, kalau orang jiwanya sudah merdeka, maka sudah tertata dengan sendirinya, jadi seandainya hukum positip tidak melarang orang itu mencuri, maka orang tersebut tidak akan mencuri, tidak mencurinya bukan takut sama hukum buatan manusia, tetapi karena jiwanya tidak menghendaki untuk mencuri, karena tahu Tuhan tidak berkenan kita mencuri.

Karena mayoritas manusia, adalah belum merdeka jiwanya, maka hukum positip menjadi perlu. Coba kita renungkan, jaman dulu, orang yang mayoritasnya jiwanya sudah merdeka, maka cukup dengan norma atau hukum adat yang tidak tertulis sudah cukup, sekarang ? Dengan manusia yang mayoritas sudah kehilangan jiwanya atau jiwanya terpasung, maka hukum harus semakin mengikuti model programa komputer, harus rinci dan operasional, supaya tidak ada interpretasi.

Kebijakan Pembangunan

Arah kebijakan pembangunan adalah harus dimulai dari pembangunan diri “jiwa” bangsa Indonesia, kemudian dikembangkan pembangunan yang lain yang disesuaikan dengan kebutuhan khas bangsa dan Negara Indonesia, dengan semangat saling kerjasama diantara komponen bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia.

Dengan demikian, jangan sampai merubah bangsa kita ingin jadi bangsa Arab, Eropa, Amerika, Jepang, India, China, dll, atau jangan sampai kita meniru strategi pembangunan dari bangsa lain tanpa disesuaikan dengan format yang pas dengan kondisi bangsa kita.
Atau dengan kata lain, globalisasi dengan segala modelnya termasuk persaingan bebas adalah bukan menjadi tujuan, tetapi hanya merupakan salah satu sarana atau tantangan jaman, yang harus diupayakan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia khususnya dan bangsa-bangsa lain pada umumnya. Dengan demikian, apa saja yang menjadikan bangsa kita khususnya dan bangsa-bangsa lainnya terpuruk, harus kita minimalkan.

Gagasan ini, sudah barang tentu hanya merupakan bagian dari pemikiran bagaimana mengisi semangat yang telah disampaikan oleh Bung Karno bahwa revolusi belum selesai; Bangsa dan Negara Indonesia sangat menanti-nanti semua anak bangsa untuk ikut berperan aktif dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu kita, untuk memenuhi harapan ibu pertiwi agar gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja bangsa Indonesia khususnya dan dunia apada umumnya.

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa para pejuang pendahulu kita sampai dengan Soekarno Hata memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Augustus 1945, adalah sudah dipenuhi dengan semangat kemerdakaan jiwa, dengan segala plus minusnya, kitalah yang harus meneruskan amanah mulia ini, yaitu mengisi kemerdekaan dengan semangat jiwa yang yang berdaulat.

Tulisan ini hasil renungan Penulis di Masjid Agung Ciptarasa Kraton Kasepuhan Cirebon ****

REVOLUSI JIWA BANGSA INDONESIA, JAWABAN DARI “REVOLUSI BELUM SELESAI-BUNG KARNO”

dari www.opinimasyarakat.com

34 Responses

  1. Jejak Langkah Sebuah Bangsa, Sebuah Nation

    Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
    kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
    Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
    Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”

    -Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
    Dikutip Kompas di tulisan pembuka liputan khusus Anjer-Panarukan

    Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Koran Kompas dan juga kalangan pers pada umumnya yang secara intens dan kental mendorong munculnya kesadaran historis sekaligus harapan dan optimisme akan masa depan Indonesia. Mempertautkan makna masa lalu, masa kini dan masa depan. Ini nampak paling tidak sejak bulan Mei secara rutin Kompas memuat tulisan wartawan-wartawan seniornya dan mungkin beberapa orang non wartawan kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional . Patut diapresiasi pula liputan besar Kompas “Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer-Panaroekan”.

    Daniel Dhakidae yang juga menjadi salah satu penulis seri 100 Tahun Kebangkitan Nasional Kompas ini pernah mengatakan bahwa “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memperoyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat disini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhdap masa lalu dan memeriksa kembali masa lalu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian”. (Cendekiawan dan Kekuasaan : Dalam Negara Orde Baru; Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal xxxii)

    Dalam bukunya itu contoh gamblang diperlihatkan oleh Dhakidae, dimana sebelum sampai pada bahasan masa Orde Baru ia melakukan pemeriksaaan wacana politik etis sebagai resultante pertarungan modal, kekuasaan negara kolonial, dan pertarungan kebudayaan antara Inlander vs Nederlander, antara boemipoetra dan orang Olanda. Baginya zaman kolonial menjadi penting bukan semata sebagai latarbelakang, akan tetapi wacana itu begitu menentukan yang dalam arti tertentu bukan saja menjadi pertarungan masa lalu akan tetapi masa kini.

    Kompas saya pikir telah mengerjakan ini dengan sangat baik dan saya mendapatkan pencerahan dari sana (o iya Bung Daniel adalah juga kepala litbang Kompas)

    Untuk meningkatkan akses publik ke seluruh tulisan-tulisan berharga ini, saya menghimpun link seri artikel Kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini. Sebelumnya saya juga telah menghimpun link seri liputan Kompas Ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan : Jalan (untuk) Perubahan.

    Demikian juga saya telah menghimpun link-link ke artikel-artikel Edisi Khusus Kemerdekaan Majalah Tempo tentang Tan Malaka “BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN. Sebagai catatan tulisan tentang Tan Malaka juga ada di dalam seri tulisan Kompas seputar 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Apresiasi tinggi pula untuk Majalah Tempo.

    Akhir kata secara khusus saya menaruh hormat kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah menjadi ‘guru sejarah’ saya melalui karya-karya sastra dan buku-buku sejarah yang ditulisnya. Saya pikir bukan sebuah kebetulan Kompas mengutip roman Jejak Langkah sebagai pengantar liputan khususnya, juga dari buku Pram Jalan Raya Pos, Jalan Daendels- “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.

    Tidak lain juga sebuah penghormatan kalau tidak pengakuan terhadap sumbangan Pram untuk negeri ini. Diakui atau tidak.

    Salam Pembebasan
    Andreas Iswinarto

    Untuk seri tulisan 100 Tahun Kebangkitan Nasional
    Kipling, Ratu Wilhelmina, dan Budi Utomo; Renaisans Asia Lahirkan Patriotisme Bangsa-bangsa; Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara; Menemukan Kembali Boedi Oetomo; Ideologi Harga Mati, Bukan Harta Mati; Pohon Rimbun di Tanah yang Makin Gembur; Mencari Jejak Pemikiran Hatta; Membangun Bangsa yang Humanis; Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional; Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan “Ngelmu”; Masa Depan “Manusia Indonesia”-nya Mochtar Lubis, Menolak Kutukan Bangsa Kuli; Pendidikan dan Pemerdekaan; Kembali ke PR Gelombang Ketiga; Kebudayaan dan Kebangsaan; Musik Pun Menggugah Kebangsaan…

    Silah link ke
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html

    Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html

    Edisi Kemerdekaan Tempo : Tan Malaka
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

  2. Revolusi atau evolusi? semua penjelasan boleh jadi benar..tapi yang jadi pertanyaan adalah “How?” bagaimana? adakah ini hanya menjadi satu wacana? Padahal Rosululloh melakukan semuanya dengan jelas, dapat di ikuti tapaknya…bukan lagi hanya sebuah wacana.. dengan mem break down semua ajarannya dalam sebuah syariat yang jelas. Bukan ketidak jelasan yang membingungkan.

    Jadi haruskah manusia menemukan jalannya sendiri, sampai kapan? apakah menunggu hingga dia terjatuh , dan bangkit lagi. iya kalau bisa bangkit lagi, kalo enggalk keburu dia di kubur di dalam bumi. Adakah sesuatu yang salah dengan mengikuti syariat yang sudah ada, dan terbukti sudah bisa menghasilkan orang-orang sekualitas shohabat, dan para tabiin..? atau orang-orang kontemporer yang juga punya karakter dan akhlak srti nabi…

    Jadi How?

  3. Saya tertarik dengan artikel diatas sangat universal!, Pertanyaannya saya sudahkah ada jaminan orang-orang yang mengikuti syariat dapat menyelesaikan problem bangsa Indonesia? dalam pandangan saya orang2 syariat saat ini masih lebih suka melempar dan merusak bangunan/tempat usaha orang dengan batu dll. Apakah syareat agama salah? Tidak!

    Apakah “syariat” yang mampu membereskan problem bangsa ini ( untuk orang Indonesia), hanya milik orang Islam? Bagaimana dengan Syariat Kristen, katholik, Hindu, Budha?

  4. Yang dibutuhkan bangsa ini pertama adalah persatuan itu sendiri, semangat revolusi yang ditanamkan dari zaman bung karno dahulu adalah didasari dari rasa persatuan dan kesatuan di seluruh wilayah dan komponen masyarakat.
    sekarang apa yang terjadi? kesenjangan sosial dimana-mana, banyak rakyat justru bersaing meraih kemerdekaannya sendiri yang cenderung lebih ke arah keegoisan. Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran ke sesama kita?

    Persoalan pertama adalah bagaimana kita bersatu, kita harus bisa mencairkan gengsi kita untuk bersatu membangun bangsa ini. sekuat apapun bangsa kalau tidak bersatu akan sangat mudah untuk dihancurkan sampai ke akar-akarnya. adanya toleransi beragama cukup vital disini. janganlah kita menghina antar sesama suku bangsa,ras atau agama. Mungkin semua ajaran agama pada dasarnya baik, tapi jika sumber daya manusianya tidak bisa menerapkannya dengan baik, dia tidak lebih dari orang yang tidak bisa mempertanggungjawabkan ke agamanya.

    Maka dari itu, dari orang kaya sampai orang miskin, tumbuhkan rasa bersatu kita agar pembangunan ini terasa lebih mudah. tumbuhkan etos kerja kita.

    syariat Islam mungkin akan sangat baik untuk diterapkan, tapi kebijakan pemerintah disini adalah harus melihat kondisi masyarakatnya, jika syariat islam masih mustahil untuk diterapkan, masih banyak jalan untuk mencapai yang terbaik,

    Semangatlah saudara-saudariku sebangsa dan setanah air.
    Mari Bersatu !

  5. Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh pak budi praptono akan pentingnya merevolusi terutama revolusi yang dimulai dari jiwa. Sebab jika kita lihat akan bobbroknya mental para penegak dan pemerintah saat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahawa yang rusak bukanlah pikiran mereka tetapi jiwa mereka lah yang rusak. Tak kurang dari mereka yang meraih gelar s3 di luar negri tetapi masih menerima uang korupsi haram. Saya berharap bangsa ini dapat melakukan sebuah revolusi jiwa demi kehidupan yang lebih baik, baik itu bagi rakyat maupun para pemimpin

  6. ‘Tuhan adalah pribadi yang unik”, Itulah salah satu statement yang saya setujui dalam artikel ini. Bila saya mengerti dan memahami pribadi Tuhan dalam standar mutlak yang dikodekan 100% dalam bahasa manusia maka saya adalah Tuhan. tetapi karena begitu banyak hal yang saya sadari tak terjangkau kemampuan untuk mengerti maksud dan tujuan serta waktu yang tepat dan pemodelan yang dapat menggambarkan pribadiNya dalam standar error yang nihil, maka saya menerima diri sebagai manusia dengan ketidaksempurnaan. Revolusi bicara momentum yang tepat untuk berubah. Evolusi menggambarkan proses yang perlahan tapi pasti berubah untuk menjadi sesuai dengan lingkungannya. Mungkin akan lebih baik bila manusia Indonesia bertransformasi menjadi manusia Pancasilais yang sebenarnya karena transformasi berbicara perubahan paradigma/ cara pandang yang mencari solusi yang lebih baik dalam setiap detik waktu dan proses sebagai alur perubahan tanpa berpikir untuk berhenti karena sudah merasa menjadi terbaik. Diatas langit masih ada langit. Diatas yang terbaik masih ada yang lebih baik. Perubahan adalah hal mutlak yang dialami manusia. Kebebasan untuk memilihlah yang membedakannya dengan makhluk lain.Tinggal keimanan yang menuntun ke arah mana “transformasi” manusia Indonesia……………..

  7. Untuk membentuk manusia yang memiliki “jiwa merdeka” tidaklah mudah,
    mungkin akan dibutuhkan waktu yg lama utk mencapainya tergantung dari pribadi masing-masing, ada orang yg memerlukan waktu seumur hidupnya baru ia tahu dan mengenal Tuhannya.
    Menurut saya yang harus segera dipupuk saat ini adalah rasa nasionalisme yang semakin lama semakin hilang dari priadi setiap warga negara Indonesia. Masing-masing orang hanya mementingkan kepentingannya masing-masing, sehingga banyak terjadi berbagai maacam kemunduran di Negeri ini.
    Rasa nasionalisme inilah yang akan mempersatukan bangsa dan mengembalikan semangat untuk memajukan bangsa sesuai dengan keinginan para pelopor dan pendiri bangsa ini.

  8. saya setuju sekali dengan kata2 “jangan sampai merubah bangsa kita ingin jadi bangsa Arab, Eropa, Amerika, Jepang, India, China, dll, atau jangan sampai kita meniru strategi pembangunan dari bangsa lain tanpa disesuaikan dengan format yang pas dengan kondisi bangsa kita.
    Atau dengan kata lain, globalisasi dengan segala modelnya termasuk persaingan bebas adalah bukan menjadi tujuan, tetapi hanya merupakan salah satu sarana atau tantangan jaman, yang harus diupayakan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia khususnya dan bangsa-bangsa lain pada umumnya. Dengan demikian, apa saja yang menjadikan bangsa kita khususnya dan bangsa-bangsa lainnya terpuruk, harus kita minimalkan”
    memang seharusnya bangsa kita ini tidak memaksakan kehendak dengan masuk globalisasi, tetapi seharusnya malah meneruskan sifat asli dari bangsa kita ini yang bersosial dengan tata kramanya ,dan lebih cocok lagi dengan sistem koperasi yang dikarenakan belum mampunya semua lapisan untuk mengikuti globalisasi. jika dipaksakan mungkin kesenjangan sosial di INdonesia akan semakin menjadi lebar. yang ingin saya tanyakan juga.. apakah untuk meminimalkan pengaruh jaman itu, kita bangsa Indonesia harus menggunakan sistem negara yang tertutup?? sehingga mungkin akan meminimalkan pengaruh dari luar, saya rasa juga dengan SDA yang dimiliki Indonesia, mampu untuk mengcover semua kebutuhan bangsa. atau kita terus memaksakan globalisasi yang tentu akan menyeok-nyeok bangsa kita ini.. tentunya dengan dalih meminimalkan pengaruh jelek dari globalisasi..tapi menurut saya itu cuma angan2 yang mungkin dalam penerapannya akan sulit sekali. bagaimana menurut Bapak Budi kedepannya untuk pembangunan kita ini??

  9. Mungkin perubahan itu berawal dari kebangkitan dari diri, kebangkitan merupakan kesadaran untuk ikut dalam arti mengatasi dan memberi solusi terhadap persoalan yang ada pada bangsa ini, berarti kesadaran utk keluar dari situasi stagnasi, dalam keterpurukan bahkan kemunduran. Nah kebangkitan itu sendiri yang nantinya akan menjurus ke perubahan. Perubahan dalam arti menuju kebaikan bukan malah kemunduran.
    Terkadang kita mengartikan perubahan dalam bentuk fisik, kita dalam menerjemahkan arti perubahan selalu fisih memang itu tidak salah , tapi masih ada sisi lain selain perubahan fisik yaitu jiwa. Saya sependapat dengan artikel diatas, kita terlalu menilai perubahan pada sisi fisik tetapi apa yang kita lihat belum tentu jiwanya yang berubah. Indonesia perlu perubahan tapi apakah kita hanya menunggu perubahan itu?.
    Spt kita ketahui, pasca reformasi sudah terjadi banyak perubahan. Misalnya, kebebasan berpendapat, memlih presiden dan para caleg secara langsung, kabinet multi partai , pelarangan KKN dll. Tapi, ternyata manfaatnya belum terasa bagi masyarakat. Perubahan belum bisa mensejahterakan kehidupan masayarakat.

  10. saya tertarik dengan ungkapan ” pantaskah, manusia merasa bisa, atau mengaku yang berkarya?”
    memang benar kita adalah alat Tuhan yang diciptakan untuk kemuliaanNya atau untuk kehendaknya.
    oleh karena itu kita harus menyadari bahwa semua yang tejadi dalam hidup kita ini terjadi atas izin-Nya. yang menjadi pertanyaan bagi saya asalah bagaimana kita menyadari kehendak Tuhan dalam hidup kita??? atau dengan cara apa kita dapat mengerti kehendak Tuhan.

    apakah kondisi bangsa ini juga kehendak Tuhan???
    menurut saya, Tuhan tidak pernah membuat rencana celaka bagi ciptaanNya, yang menjadi masalah adalah itu tadi: bagaimana kita mengerti kehendak Tuhan sehingga kita terhindar dari celaka.

    ini lah yang perlu kita bangun dalam bangsa ini, yaitu IMAN kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    bila kita telah membangu hubungan yang baik dengan sang pencipta kita maka, apapun yang kita lakukan akan selalu kita lakukan di dalam Dia.
    sehingga kita tidak akan berpikir untuk diri kita sendiri, melainkan berpikir untuk kepentingan bersama.

    dengan demikian bangsa kita akan dengan mudah mencapai tujuan bangsa yaitu menjadi bangsa yang adil dan makmur.

    saya juga tertarik dengan kata kata “memaksa Tuhan”
    hal ini yang banyak terjadi pada bangsa ini, bukan hanya pada keyakinan bahkan diorganisasi pun banyak orang yang memaksakan pandangan pribadinya.
    nah menurut saya yang perlu kita bangun adalah iman secara pribadi sehingga kita bisa saling mengasihi satu sama lain sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan keberadaan yang lain.
    selain itu marikta bangn rasa persahabatan yang kuat, untuk mecapai bangsa yang benar benar menjadi pusat peradaban dunia..

    saya hanya bisa mengambil satu kesimpulan, mari kita membangun bangsa ini dengan Iman dan Kasih dan Persahabatan…

    mari kita mulai dengan beryanya pada diri masing masing ” apa yang telah kita berikan bagi bangsa ini?”

  11. Bangsa Indonesia mengalami banyak perubahan (mengalami revolusi) selama periode kemerdekaan 45 sampai sekarang ini tahun 2009. Bung Karno sebagai proklamator bangsa Indonesia yang menjadikan Indonesia menjadi negara merdeka yang memiliki jiwa persatuan dan kesatuan yang tinggi. Namun, jiwa persatuan dan kesatuan itu mulai luntur sejalan seiringnya waktu. Dari tahun ke tahun, bangsa Indonesia mengalami kemajuan di bidang jasmani, tetapi mengalami kemunduran di bidang rohani. Hal ini merupakan analaogi dari pemerintahan Indonesia sekarang. Para wakil rakyat sekarang lebih mengutamakan kepentingan pribadi, daripada kepentingan umum atau masyarakat. Terbukti banyak sekali kasus korupsi, penggelapan dana, dan masih banyak kasus lain yang menyengsarakan masyarakat banyak.

    Sebagai generasi muda yang masih peduli akan keutuhan bangsa Indonesia, marilah bersama-sama membangun Indonesia kembali dengan semangat gigih dan kuat, sama ketika Indonesia baru saja merdeka. Hal ini mungkin di mulai dari hal yang kecil. Dalam sebuah kepanitiaan atau kegiatan apa pun, sebaikanya jangan lah mengutamakan kepentingan pribadi, jangan lah mengambil yang bukan menjadi hak kita. Revolusi Jiwa ini akan selalu berubah. Semoga saja akan menuju ke perubahan yang positif, yang akan memajukan bangsa Indonesia. Semua ini berada di tangan kita sendiri.

  12. Assalammualaikum wr wb…

    Revolusi belum selesai,revolusi bangsa Indonesia mutlak belum selesai.Di era bung karno,revolusi memiliki semangat untuk menyingkirkan para penjajah dari bumi pertiwi.Di era sekarang sesungguhnya bangsa ini masih terjajah,bangsa ini masih terjajah oleh apa yang disebut oleh bung karno “NEOKAPITALISME”.Para penjajah bersembunyi di balik istilah “globalisasi” yang sejatinya adalah “liberalisme” atau “kapitalisme”.Realita di dalam bangsa ini adalah mulai dari negaranya,pengusahanya,sampai rakyat jelatanya BERHUTANG.Negara yang kita cintai ini terlilit hutang IMF ataupun Bank Dunia,para pengusaha tidak dipungkiri lagi banyak yang menjalankan usahanya bermodalkan pinjaman modal usaha dari bank,rakyat kita dipaksa banting tulang bekerja keras hanya untuk menghasilkan uang yang sebagian besar digunakan untuk membayar hutang entah itu kredit motor ataupun kredit panci.Sungguh kondisi yang ironis dan sangat miris,sebuah negara kaya,zamrud khatulistiwa merupakan negara penghutang.Sudah saatnya negara ini bangkit,berdaulat di segala sendi kehidupan poleksosbudhankam.Kebangkitan kan muncul apabila setiap elemen bangsa memiliki jiwa yang merdeka,jiwa yang hanya bergantung kepada Yang Maha Suci.Tuhan telah menciptakan wahana untuk menuju jiwa yang merdeka,yaitu AGAMA.Setiap elemen bangsa harus menjalankan dan kepercayaan masing-masing secara KONSISTEN.Agama merupakan wahana menuju jiwa yang merdeka atau suci.apabila seseorang yang telah menjalankan nilai-nilai agama secara menyeluruh dan konsisten tidak setengah-setengah ,maka akan mempunyai etika beragama yang baik dalam konteks kebangsaan yang plural.Selanjutnya elemen-elemen bangsa yang berjiwa merdeka ini haruslah dipersatukan oleh seorang pemimpin yang memiliki keteladanan dan mampu berdiri diatas semua golongan dan dapat mensinergikan seluruh potensi bangsa ini baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.Apabila bangsa ini telah dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang merdeka dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang amanah maka Indonesia yang berdaulat,bermartabat yang akhirnya menjadi pemimpin dunia akan tercapai.

    MERDEKA!!!

    wassalammualaikum wr wb…

  13. Setelah membaca artikel tersebut, banyak pertanyaan yang menggangu pikiran saya..
    Kenapa orang-orang masih menganggap orang-orang suci itu selalu benar bahkan beberapa orang memujanya, sedangkan belum tentu orang itu suci di mata Tuhan?

    Saya sependapat dengan artikel tersebut yang mengatakan bahwa ” Revolusi Belum Selesai “, tetapi kata-kata tersebut tidak berhenti di situ saja,tetapi harus kita lanjutkan..
    Lanjutkan dalam arti masa kini,dengan mengacu kembali kepada landasan-landasan bangsa yaitu UUD 1945 dan Pancasila. Karena dari sanalah pandangan, visi ataupun misi negara kita.

    Kata-kata Revolusi Jiwa itu sangat bermakna, karena hanya di dalam jiwa, Tuhan mengenal kita. Bisa di lihat jika orang yang tidak benar dalam tingkah lakunya berarti jiwa mereka ada yang tidak beres atau belum mengenal jiwanya itu sendiri. Kita membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya cerdas, berwibawa, ataupun mengayomi rakyatnya tapi kita juga butuh seorang pemimpin yang mempunyai jiwa yang suci setidaknya untuk dirinya sendiri untuk mengatasi bobroknya negeri Indonesia ini..

    Terus Tegakkan Semangat Revolusi Jiwa!!!

  14. menurut saya revolusi memang harus dimulai dari masing-masing pribadi setiap manusia..rakyat indonesia sempat merasakan penjajahan dalam waktu yang lama, atas dasar itulah jiwa rakyat indonesia terbentuk sebagai orang yang terjajah, sehingga sulit untuk bersaing dengan negara lain..jadi dengan melanjutkan revolusi memerdekan jiwa-jiwa bangsa Indonesia adalah langkah awal untuk dapat memajukan bangsa Indonesia..
    karena dengan jiwa-jiwa rakyat yang merdeka akan dengan mudah untuk dapat membangun bangsa ke arah yang lebih baik..

  15. menurut saya revolusi memang harus dimulai dari masing-masing pribadi setiap manusia..rakyat indonesia sempat merasakan penjajahan dalam waktu yang lama, atas dasar itulah jiwa rakyat indonesia terbentuk sebagai orang yang terjajah, sehingga sulit untuk bersaing dengan negara lain..jadi dengan melanjutkan revolusi memerdekan jiwa-jiwa bangsa Indonesia adalah langkah awal untuk dapat memajukan bangsa Indonesia..
    karena dengan jiwa-jiwa rakyat yang merdeka kita akan dengan mudah untuk dapat membangun bangsa ke arah yang lebih baik..

  16. Saya setuju tentang apa yang disampaikan oleh Bapak Budi Praptono. Mengutip tulisan bapak tentang apa yang telah disampaikan oleh Bung karno tentang “Revolusi Belum Selesai”, yakni mengingatkan kita sebagai generasi penerusnya, sesuatu keberhasilan dalam proses yang panjang tersebut, masih koma, belum titik. Revolusi bukan hanya revolusi fisik seperti Revolusi 45 melainkan juga revolusi jiwa. Tidak mungkin kita mengisi kemerdekaan dengan mengangkat senjata kembali.

    Ketika kita mengisi kemerdekaan akan banyak hal-hal dan masalah yang kita jumpai. Di sinilah pentingnya peranan jiwa. Tidak mungkin kita menghadapi suatu hal atau masalah dengan jiwa yang lembek. Jiwa kita harus dirubah menjadi seorang yang pemberani, jujur, namun tetap berpegangan pada satu hal yakni Tuhan sehingga apa yang kita lakukan tidak melenceng terlalu jauh.
    Revolusi jiwa ini pasti akan mengakibatkan suatu perubahan tapi akan muncul pertanyaan ke arah manakah perubahan itu berjalan. Kita pasti menginginkan perubahan ke arah yang baik. Jadi jiwa kita perlu diarahkan ke arah yang baik pula. Karena jiwa itu yang mengisi pribadi seseorang. Jiwa dari banyak pribadi yang menempati suatu bangsa dapat mencerminkan jiwa bangsa tesebut. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah revolusi jiwa yang mengarahkan kita menjadi sebuah bangsa yang kuat, dan disegani oleh setiap bangsa yang di mulai dari dalam pribadi masing-masing.

    Sudah sepantasnya kita sebagai generasi penerus bangsa mengisi kemerdekaan dengan semangat jiwa sehingga bangsa kita menjadi bangsa yang gemah ripah loh jinawi.

    Majulah bangsaku!!!

    jiwa-jiwa kami selalu menyertai.

  17. Membaca tulisan Bp Budi Praptono mengenai “Revolusi Jiwa Bangsa Indonesia” membuat saya berpikir sebenarnya apa yang salah dengan generasi bangsa ini. Memang benar bahwa kami sebagai generasi penerus bangsa memiliki amanah untuk selalu melanjutkan perjuangan pembangunan bangsa yang terikat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan ini mungkin tidak akan pernah usai karena akan selalu berkesinambungan selama bangsa Indonesia masih ada. Melihat semakin besarnya dampak pengaruh budaya luar terhadap budaya bangsa sendiri semakin membuat resah karena saat ini bahkan banyak yang malu untuk menyandang gelar “orang ketimuran” dalam kehidupan sehari-harinya. Mungkin akan lebih mudah melakukan perlawanan fisik daripada melakukan perlawanan terhadap jiwa-jiwa yang telah ditawan. Entah ditawan oleh kilaunya gemerlap budaya bangsa lain atau ditawan oleh nafsu yang secara fitrah dimiliki oleh tiap manusia itu sendiri. Manusia sering secara tidak sadar telah menduakan Tuhannya, di dalam hatinya akan muncul beberapa Tuhan yang kemudian membuat dia melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya sendiri, sesuai dengan kepentingannya sendiri.
    Mengenai peran manusia, memang benar bahwa setiap manusia memiliki peran yang berbeda satu sama lain. Ibaratnya seperti sebuah teater yang memiliki pemeran utama yang berada di luar layar pun membutuhkan pemeran di balik layar. Untuk dapat mementaskan suatu karya seni yang baik harus dengan kerjasama semua pemainnya. Akan tetapi sering pula manusia tidak menyadari perannya tersebut, sehingga terjadi pemaksaan peran oleh sebagian orang. Saling berebut untuk menjadi pemeran utama di luar layar akan menjadi tujuan utama untuk menunjukkan kualitas diri. Padahal belum tentu mereka bisa berkreasi memerankan perannya dengan baik. Yang terjadi adalah kurang maksimalnya hasil seni yang diciptakan. Untuk itulah sejatinya setiap diri harus tau dan mau mengukur kualitas dirinya masing-masing untuk kemudian meningkatkan kemampuannya itu sehingga perannya akan semakin dirasakan oleh yang lain.
    Keyakinan yang muncul dari dalam diri akan mengakar kuat dalam jiwa. Terlebih lagi mengenai keyakinan terhadap Tuhan yang nantinya akan menjadi landasan utama seseorang untuk melakukan suatu aksi harus kita tanamkan sejak dini, harus ditanam dalam dasar setiap jiwa. Apabila jiwa itu sudah memiliki pegangan yang kuat maka jiwa itu akan dapat dengan mudah diajak untuk melakukan “pembangunan”. Pertanyaannya saat ini adalah apakah kita bersedia melakukan “pembangunan jiwa” ini? Apakah kita siap melakukan “revolusi jiwa” ini?

  18. Revolusi yang didengungkan Bung KArno merupakan pemikiran beliau untuk memajukan Indonesia. Revolusi fisik tanpa didahului oleh revolusi jiwa maka itu adalah omong kosong. Pemikiran Bung Karno tentang suatu keyakinan yang tinggi dimana Bung Karno benar2 menghargai keyakinan setiap rakyatnya pada saat itu. Ucapan bung karno pada salah satu pidatonya yg menyebutkan beliau bukan presiden,bukan panglima tertinggi tetapi beliau adalah penyambung lidah rakyat, mencirikan bahwa Bung Karno merupakan sosok yang benar-benar menanamkan jiwa revolusi yang baik kepada rakyatnya. Bangsa Indonesia akan maju apabila setiap warga nagaranya baik rakyat kecil maupun pemimpin negeri ini mampu untuk melanjutkan cita-cita revolusi belum selesai bung karno….

  19. Menanggapi masalah revolusi jiwa yg merdeka..
    Saya rasa, pada saat sekarang ini masih banyak bentuk penindasan mental yang dilakukan beberapa pihak kepada sebagian orang yang dianggap lebih rendah status sosialnya di mata masyarakat. Bahkan banyak kekerasan mental yg dilakukan di dalam rumah tangga (KDRT), baik oleh suami,istri, maupun anak. Ironis memang. Karena kita sebagai makhluk Tuhan memiliki Hak Asasi yang sama. Hak untuk hidup, dan hak untuk berkarya. Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritasnya Muslim, tetapi hebatnya Indonesia juga menganut paham demokrasi yang tinggi. Salah satu bentuk konkritnya kita memiliki KOMNASHAM yang sangat melindungi Hak Asasi Manusia Indonesia. Ini sangat luar biasa..

  20. Nama : irwan affandi Siregar
    Nim : 111040167
    Revolusi belum berakhir.
    Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 menurut saya adalah sebagian dari lanjutan revolusi tahun 45’. Ketika kita menilik pada latar belakang lahirnya reformasi 1998 maka bukan hanya revolusi fisik yang terjadi. Tuntutan dari reformasi 1998 adalah pembangunan jiwa – jiwa pemimpin yang lebih kooperative, lebih melihat sisi rakyat dengan kata lain pemimpin – pemimpin yang punya moralitas dan tanggung jawab.
    Jika kita meninjau revolusi kita titik beratkan pada refolusi jiwa setiap individu masyarakat maka sampai kiamatpun tidak akan pernah selesai. Dalam konteks kehidupan sosial dari segi agama dan ilmu sosial membuktikan bahwa dizaman para nabi pun ada banyak orang – orang yang hadir dengan jiwa – jiwa yang rusak yang dalam blog yakni jiwa yang suci tidak akan sepenuhnya terpenuhi.
    Kehadiran sosok pemimpin yang “ kuatlah “ yang menjadi solusi melawan jiwa – jiwa yang tidak ingin negara ini maju.
    Manusia yang menaati agama bukan berarti jiwa – jiwanya dijajah oleh agama tetapi dia telah menyerahkan jiwanya demi kepentingan agama. Apakah agama itu?, agama adalah sebuah rule aturan yang dibuat oleh sang Maha Pencipta ALLAH SWT. Keingkaran terhadap agama maka keingkaran pula terhadapa ALLAH. Jadi menurut saya jika pak budi mengibaratkan sbuah robot yang di program oleh pembuatnya maka” program “ itulah agama (program yang sudah pasti keberannya ). Otak fikir manusia sangatlah terbatas, tidak semua hal tidak bisa saat ini kita logikan dengan akal kita maka hadirlah Agama yang di dalamnya dapat kita logikan dan “ belum bisa kita logikakan “ namun bagi orang yang Yakin akan Tuhan maka ia akan menjalankannya. Orang – orang yang taat akan agamalah yang saat ini sebenarnya harus hadir sebagai pemimpin negara ini. Manusia manusia yang bukan hanya kesadaran dan tanggung jawabnya pada mental agar tidak dikuasai orang lain seperti yang disebutkan di seven habits tapi manusia manusia yang punya tanggung jawab bagi orang lain dan Tuhan.
    Keyakinan yang mendatangkan dalam diri seseorang bukanlah TUHAN tapi manusia itu sendiri, jika kita berpendapat bahwa keyakinan yang memberikan adalah Tuhan maka secara tidak langsung kita telah masuk pada pemikiran kesamaan agama, yang semua agama tidak ada yang setuju. Keyakinan manusialah yang mencarinya melalui lingkungan, membaca dan lain – lain, inilah salah satu kegunaan otak manusia, berfikir mana yang benar dan mencari kebenaran.
    Jika mau negara maju hanya satu, menjalankan agama secara kaffah termasuk hukum- hukum agama titik. Jangan pernah melogikakan sesuatu yang pada akhirnya bertentangan dnegan agama yang telah diturunkan tuhan sebagai pedoman manusia . way of live. Seseorang yang menjalankan agama seca kaffah akan menghadirkan ALLAH dalam setiap perbuatannya, dan akan merasa bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat, memikirkan orang sekitarnya dan melihat dirinya sendiri.

  21. Nama : irwan affandi Siregar
    Nim : 111040167

    Revolusi belum berakhir

    Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 menurut saya adalah sebagian dari lanjutan revolusi tahun 45’. Ketika kita menilik pada latar belakang lahirnya reformasi 1998 maka bukan hanya revolusi fisik yang terjadi. Tuntutan dari reformasi 1998 adalah pembangunan jiwa – jiwa pemimpin yang lebih kooperative, lebih melihat sisi rakyat dengan kata lain pemimpin – pemimpin yang punya moralitas dan tanggung jawab.
    Jika kita meninjau revolusi kita titik beratkan pada refolusi jiwa setiap individu masyarakat maka sampai kiamatpun tidak akan pernah selesai. Dalam konteks kehidupan sosial dari segi agama dan ilmu sosial membuktikan bahwa dizaman para nabi pun ada banyak orang – orang yang hadir dengan jiwa – jiwa yang rusak yang dalam blog yakni jiwa yang suci tidak akan sepenuhnya terpenuhi.
    Kehadiran sosok pemimpin yang “ kuatlah “ yang menjadi solusi melawan jiwa – jiwa yang tidak ingin negara ini maju.
    Manusia yang menaati agama bukan berarti jiwa – jiwanya dijajah oleh agama tetapi dia telah menyerahkan jiwanya demi kepentingan agama. Apakah agama itu?, agama adalah sebuah rule aturan yang dibuat oleh sang Maha Pencipta ALLAH SWT. Keingkaran terhadap agama maka keingkaran pula terhadapa ALLAH. Jadi menurut saya jika pak budi mengibaratkan sbuah robot yang di program oleh pembuatnya maka” program “ itulah agama (program yang sudah pasti keberannya ). Otak fikir manusia sangatlah terbatas, tidak semua hal tidak bisa saat ini kita logikan dengan akal kita maka hadirlah Agama yang di dalamnya dapat kita logikan dan “ belum bisa kita logikakan “ namun bagi orang yang Yakin akan Tuhan maka ia akan menjalankannya. Orang – orang yang taat akan agamalah yang saat ini sebenarnya harus hadir sebagai pemimpin negara ini. Manusia manusia yang bukan hanya kesadaran dan tanggung jawabnya pada mental agar tidak dikuasai orang lain seperti yang disebutkan di seven habits tapi manusia manusia yang punya tanggung jawab bagi orang lain dan Tuhan.
    Keyakinan yang mendatangkan dalam diri seseorang bukanlah TUHAN tapi manusia itu sendiri, jika kita berpendapat bahwa keyakinan yang memberikan adalah Tuhan maka secara tidak langsung kita telah masuk pada pemikiran kesamaan agama, yang semua agama tidak ada yang setuju. Keyakinan manusialah yang mencarinya melalui lingkungan, membaca dan lain – lain, inilah salah satu kegunaan otak manusia, berfikir mana yang benar dan mencari kebenaran.
    Jika mau negara maju hanya satu, menjalankan agama secara kaffah termasuk hukum- hukum agama titik. Jangan pernah melogikakan sesuatu yang pada akhirnya bertentangan dnegan agama yang telah diturunkan tuhan sebagai pedoman manusia . way of live. Seseorang yang menjalankan agama seca kaffah akan menghadirkan ALLAH dalam setiap perbuatannya, dan akan merasa bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat, memikirkan orang sekitarnya dan melihat dirinya sendiri.

  22. salam sejahtera…

    saya amat sangat setuju dengan pendapat bapak tentang revolusi. banyak contoh kondisi saat ini yg kurang mencerminkan revolusi seperti masih berpedoman pada sikap2 apatis. Belum lama ini seperti yg kita ketahui, selama berlangsungnya pesta demokrasi,banyak masyarakat yg belum sadar akan aspek2 revolusi seperti dalam contoh kecil yaitu ikut berperan serta dalam proses pemungutan suara… namun banyak yg belum memiliki kesadaran tersebut… jadi alangkah baiknya jika kita mulai mengembangkan sikap2 yg mencerminkan jiwa2 revolusi dalam diri kita..

    smangat pak!!

  23. Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan
    menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin,
    namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya.Revolusi umumnya mensyaratkan
    hadirnya seorang pemimpin kharismatik sehinggadanya sebuah elemen ideologi

    Saya setuju dengan apa yang dimaksud dengan Revolusi jiwa. Untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan bangsa ini
    ke arah kemerdekaan yang sempurna kita harus memulai perubahan itu dari diri kita masing-masing,
    tapi apakah semua akan bisa berbuat seperti itu??lebih baik mencoba daripada terlambat!!
    Perubahan itu sungguh sulit untuk dilakukan. Maka kata kunci untuk bisa merubah diri kita adalah “tekad!”, cobalah rubah setiap perilaku kita dengan memaksakannya, lihat perubahannya beberapa hari mendatang,
    atau beberapa minggu atau bulan bahkan tahun, tentu perubahan itu akan muncul dan
    dengan paksaan itu akan melahirkan kebiasaan.

    Kita harus bisa menghasilkan sebuah revolusi pada diri kita jika kita ingin berubah
    kepada hal yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil lebih banyak, keberhasilan lebih
    dahsyat, dan target yang lebih cepat, sebuah perubahan seringkali kita perlukan.
    Berat memang, tapi itu harus..

  24. Memang dibutuhkan waktu yang tidak singkat untuk dapat membenahi kelalaian yang sudah sekian lama tinggal. Dengan adanya penjabaran yg disampaikan oleh pak budi praptono akan membantu menyadarkan kita untuk dapat melihat bahwa betapa pentingnya untuk menghidupkan lagi semangat “berjuang” didalam diri sendiri seperti yang dimiliki masyarakat sewaktu masa sebelum merdeka. Dan untuk dapat memberikan kesadaran dibutuhkan banyak hal yang harus ditanamkan pada diri kita sendiri dan yang harus kita sadari, bahwa manusia yang efektif adalah manusia yang dapat membangun kesadaran dan dapat bertanggung jawab pada diri sendiri akan apa yang telah dilakukan. Diperlukan juga proses untuk lebih mendekatkan diri dengat Tuhan agar dapat terbentuk diri yang lebih baik. Dan menyadari bahwa ketaatan terhadap peraturan adalah karena Tuhan, bukan karena manusia yg merupakan ciptaan-Nya. Perubahan dan pembenahan besar yang saat ini diperlukan oleh bangsa kita, marilah sama sama melakukan nya supaya tercipta suatu bangsa dengan kesatuan dan persatuan yang baik seperti yang dicita citakan oleh pejuang bangsa ini.

  25. assalamuallaikum…

    saya sangat setuju dengan tulisan bapak tentang revolusi jiwa, memang sangat di rasakan jiwa-jiwa generasi penerus bangsa saat ini sangat menurun atau bisa di katakan sangat bobrok… contohnya aja masih banyak pejabat – pejabat pemerintah yang masih korupsi…. padahal mereka orang -orang yang bisa di katakan berpendidikan akan tetapi jiwa mereka masih kotor hingga uang yang harus menjadi hak rakyat yang tidak seberapa banyaknya tetap mereka ambil….

    mungkin lewat tulisan bapak tentang revolusi jiwa banyak pejabat – pejabat pemerintah yang akan sadar tentang pentingnya revolusi jiwa…

    wasalamualllaikum.wr.wb..

  26. Saya tertarik dengan apa yang Bapak sampaikan pada artikel di atas. Saya sangat setuju bahwa perjuangan bangsa ini masih belum selesai. Bahkan menurut saya, secara fisik pun bangsa ini masih dijajah, bukan oleh belanda atau negara asing lainnya melainkan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Tentu ada yang salah dalam negeri ini, salah dalam memaknai kemerdekaan itu sendiri. Mungkin revolusi jiwa yang bapak sampaikan diatas merupakan solusinya. Namun saya ragu apakah bisa memerdekakan jiwa tersebut tanpa bantuan agama. Sebab menurut saya agama lah sarana satu-satunya menghubungkan jiwa dengan Tuhan itu sendiri. Jadi apakah revolusi ini mungkin dilakukan??How??

  27. Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan
    menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin,
    namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya.Revolusi umumnya mensyaratkan
    hadirnya seorang pemimpin kharismatik sehinggadanya sebuah elemen ideologi

    Saya setuju dengan apa yang dimaksud dengan Revolusi jiwa. Untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan bangsa ini
    ke arah kemerdekaan yang sempurna kita harus memulai perubahan itu dari kita masing-masing,
    tapi apakah semua akan bisa berbuat seperti itu??lebih baik mencoba daripada terlambat!!
    Perubahan itu sungguh sulit untuk dilakukan. Maka kata kunci untuk bisa merubah diri kita adalah “paksakan”, cobalah rubah setiap perilaku kita dengan memaksakannya, lihat perubahannya beberapa hari mendatang,
    atau beberapa minggu atau bulan bahkan tahun, tentu perubahan itu akan muncul dan
    dengan paksaan itu akan melahirkan kebiasaan.

    Kita harus bisa menghasilkan sebuah revolusi pada diri kita jika kita ingin berubah
    kepada hal yang lebih baik. Untuk mendapatkan hasil lebih banyak, keberhasilan lebih
    dahsyat, dan target yang lebih cepat, sebuah perubahan seringkali kita perlukan.
    Berat memang, tapi itu harus!!

  28. Artikel yang sangat menarik sekali.
    Dari paparan di atas, Bapak menyampaikan dengan detil poin-poin yang memang terjadi di kalangan masyarakat.

    Ya… saya sangat setuju bahwa negara ini memang masih memiliki “hutang” tuntasnya sebuah revolusi yang sampai saat ini masih ngalor-ngidul tak terurus. Bahkan, saat ini seolah masyarakat tak memperdulikan lagi “beban” revolusi yang seharusnya ditanggung oleh kita bersama.

    Namun… bila kita menalaah kembali paparan artikel di atas, kita tidak bisa dan tidak boleh menyalahkan siapapun.

    mengaapa?

    Karena,, Revolusi suatu bangsa harus diawali dengan Revolusi Jiwa yang Merdeka. Namun apakah Jiwa kita sudah merdeka? Entah saya menangkap penjelasannya seperti apa.. tapi, bila artikel itu ditelaah… manusia adalah citptaan Tuhan. dan HARUS MAU menuruti apa maunya Tuhan.dan tiap-tiap manusia sudah dikodratkan seperti ini. Menggerakkan sebuah sistem yang sudah terencana apik dengan segala keberhasilan dan kebobrokan yang ada didalamnya.

    Sehingga,,, sebelum menyalahkan cara orang lain dalam bertindak dan berfikir, tunjuklah diri kita masing-masing. Apakah kita sudah pantas dibilang berhasil dan bagian dari keberhasilan sistem yang dibuat Tuhan? ataukah kita hanya benalu belaka penyebab kebobrokan dunia?

    dan, YA…
    keyakinan itu sudah MUTLAK tidak dapat dipaksakan… Bagaimanapun alasannya, pemaksaan keyakinan adalah pelanggaran HAM. Oleh karenanya, jangan pernah mencoba untuk memaksakan agar orang lain mengikuti ideologi kita….
    Namun, kita sebagai manusia sosial, juga harus memiliki prinsip hidup yang kita pikir benar (gunakan otak, karena manusia diberikan akal oleh Tuhan untuk perfikir).

    Kembali lagi. Untuk mencapai keberhasilan Revolusi Indonesia yang Hakiki,,, perlu digaris bawahi :
    “jadilah bagian dari keberhasilan dunia dengan Merevolusi Jiwa SENDIRI menjadi lebih Baik dan jalankan amanan manusia sesuai dengan yang diperintahkan oleh Tuhan”

    Mungkin itu komentar yang bisa saia sampaikan untuk artikel di atas.
    Dan, sekedar menanggapi komentar yang sudah disampaikan di atas, bahwa setiap agama (sebagai fasilitator manusia dengan Sang Pencipta) pasti mengajarkan kebaikan bagi umatnya…. TINGGAL bagaimana individu tersebut menjalankan apa yang dia anggap benar.

  29. Menanggapi artikel yang telah bapak tulis dengan judul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’”. Saya sangat setuju dengan beberapa poin pada artikel tersebut dan ada juga poin-poin yang saya takut salah menerjemahkan. Poin-poin tersebut akan saya paparkan dibawah ini.
    Pada bagian “Urusan Dunia atau Kesalehan Sosial” bapak hanya memaparkan sebuah kondisi yang sedang terjadi dan kondisi yang Bapak harapkan. Sangat disayangkan mengapa Bapak tidak membahas bagaimana cara mencapai kondisi yang Bapak harapkan karena bagian yang sangat penting dalam mencapai suatu kondisi yang diinginkan adalah proses pencapaian kondisi tersebut, agar pembaca mengerti apa yang penulis inginkan dan mengerti apa yang akan dilakukan setalah membaca tulisan si penulis. Memang sekarang hokum dibuat secara terperinci dan makin teknis atau operasional tapi menurut saya itu dikarenakan perkembangan zaman dan kebutuhan akan perhatian untuk hal-hal yang lebih detail.
    “Akan Lahir Pemimpin Hebat”, dalam bagian ini dijelaskan bahwa pemimpin yang otoriter, diktator, tidak adil, atau sebutan lainnya tidaklah hebat. Padahal kata ‘hebat’ disini bisa diinterpretasikan kedalam banyak makna. Saya ambil contoh seperti Hitler, dia adalah sosok yang sangat di hormati oleh yang dipimpinnya dan dia juga hebat. Jadi menurut saya otoriter, diktator, atau sebutan lainnya sangat memungkinkan menimbulkan hal-hal yang positif.
    Dalam poin “Ratu Adil, Satrio Piningit”, saya sangat setuju agar setiap elemen berusaha untuk merubah dirinya kedalam pribadi yang dapat membawa hal-hal positif kedalam kehidupan kesehariannya. Karena memang hal-hal positif tersebut tidak akan muncul begitu saja dari seseorang yang di tunggu-tunggu kehadirannya dalam kehidupan ini. Jadi sebagai individu yang peduli dengan lingkungan keseharian maka semua individu harus merubah dirnya ke arah yang lebih baik atau positif.
    Terkahir pada poin “Bhineka Tunggal Ika dengan Dasar Pancasila” dipaparkan bahwa memaksakan kehendak sudah tentu melawan kehendak-Nya. Menurut saya memaksakan kehendak belum tentu melawan kehendak tuhan. Karena disini tidak dijelaskan contoh jelasnya tentang kasus ini jadi saya takut salah menginterpretasikan hal tersebut. Yang saya tangkap disini adalah memaksakan kehendak sesama manusia bisa menimbulkan hal yang positif bilamana pihak yang memaksakan kehendak tersebut lebih tahu dan lebih mengerti apa yang dia paksakan.
    Sekian beberapa pendapat yang sempat muncul disaat membaca artikel hasil pemikiran Bapak. Saya sadar apa yang telah saya sampaikan diatas masih memiliki beberapa kekurangan, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya.

  30. Bertepatan dengan adanya Pemilu legislative yang baru saja diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang merupakan pesta demokrasi terbesar di Negara ini, ada beberapa hal yang cukup menarik apabila dikaitkan dengan tulisan yang bapak buat. Kita tau bahwa kita sebagai penerus para pejuang revolusi Indonesia patut bangga karena untuk sekian kalinya Bangsa kita ini berhasil melakukan acara besar seperti ini. Tapi seperti kita ketahui bersama bahwa banyak sekali timbul masalah baik sebelum, setelah, maupun pada saat pemilu berlangsung. Dari sebelum pemilu, banyak kita lihat para caleg berlomba – lomba menghamburkan uang dan harta mereka untuk mencari simpati masyarakat. Berusaha untuk menjadikan diri mereka terkenal se-terkenal mungkin. Banyak anggapan yang terpilih adalah caleg yang terkenal, bukannya caleg yang memang benar – benar mumpuni. Lalu dimanakah letak revolusi jiwa yang mereka lakukan?? Apa yang mereka cari sebenarnya dari semua ini?? Diri mereka seperti memaksakan kepada tuhan untuk menjadikan apa yang mereka lakukan!
    Masalah juga muncul pada saat pemilu berlangsung, dimana banyak sekali hal – hal yang tidak sepantasnya terjadi. Yang paling utama adalah subjek dari pemilu itu sendiri, yaitu seluruh rakyat Bangsa Indonesia. Berapa persen penduduk yang sudah memenuhi kewajibannya?? Kenapa banyak suara – suara terbuang akibat tidak terdaftarnya ataupun akibat masalah logisik?? Bagaimana kami bias merevolusi jiwa – jiwa kami apabila untuk memilih saja tidak bias?? Apakah hal –hal ganjil ini terjadi akibat ketidak mampuan sebagai manusia atau akibat ulah para jiwa yang kotor??
    Setelah pemilu berlangsung, masalah yang timbul tidaklah berhenti. Banyak caleg – caleg stress bermunculnya akibat keinginan jiwa mereka untuk memenangkan pemilu tercapai. Bahkan ada beberapa orang yang meninggal dunia karena tidak kuat menerima kenyataan yang ada. Mereka hanya memaksa Tuhan untuk membuat mereka menang, dan tidak siap apabila Tuhan berkehendak lain dengan memberikan mereka kekalahan. Padahal Tuhanlah Sang Maha Pengatur. Apakah mereka pantas walaupun hanya untuk menyandang status sebagai caleg??
    Kemudian, apakah sesungguhnya makna dari revolusi jiwa di dalam pemilu ini?? Apakah pemilu memang diperlukan sebagai bagian dari langkah revolusi yang belum selesai ini?? Kenapa kok Bangsa Indonesia seperti nasibnya tergantung pada pemilu ini, bukan bergantung pada kehendak Tuhan yang Maha Kuasa??
    Sekian beberapa hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan tulisan bapak dan keadaan yang ada pada saat ini. Tanpa mengurangi hormat saya kepada bapak, saya mohon maaf atas segala kekurangannya.

  31. Sejarah memang mencatat bahwa Indonesia sudah merdeka dari penjajahan negara asing yang lama pada tanggal 17 Agustus 1945 baik secara de yure maupun secara de facto. Indonesia mendapat pengakuan dari negara lain atas kemerdekaan bangsa ini. Selain itu, diakui bahwa pejuang para pahlawan kita yang memang menjadi modal bangsa ini mencapai kebebasannya.
    Seriring berjalannya waktu, ternyata bukan kemerdekaan negara ini saja yang perlu diperjuangkan. kita ternyata masih dijajah oleh penjajah jiwa. Sebaga makhluk ciptaan Tuhan, seharusnya kita bertanggungjawab dan berbuat karena kemauan sang Pencipta.
    Jiwa yang sudah terjajah oleh faktor lain di luar Tuhan menghalangi kita untuk memperoleh kemerdeaan sesungguhnya. Di dunia kita diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan dengan tanpa membawa apa-apa. Muncul di dunia fana ini tanpa merasa memiliki apa-apa. Diri, tubuh, pikiran, dan sebagainya sesungguhnya semuanya berasal dari Yang Maha Pencipta.
    K ebebasan yang dimaksud adalah bagaimana jiwa ini dipaksakan untuk tunduk kepada sang Pencipta. Segala bentuk penjajah asing di jiwa kita harus diusir jauh-jauh agar Yang Kuasa menguasai ruang jiwa kita secara total.
    Pembangunan nasional baiknya didasari oleh jiwa yang sudah dibentukk dan dimerdekakan dengan penuh keyakinan kepada Tuhan YME. Tentu keyakinan itu sendiri harus menunggu keputusan (dekrit) dan kehendak Tuhan.
    Yang menjadi masalah saat ini adalah segala sesuatu adalah Cuma-Cuma (anugerah) dari Tuhan. Segala sesuatu seturut k ehenda Nya boleh ada (diberi) boleh tidak ada (tida diberi).

  32. Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).
    Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.
    Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.
    Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?
    “Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.
    Cukup sekian apa yang ingin saya sampaikan dalam menanggapi tulisan Bapak dalam artikel tersebut, seperti yang saya paparkan di awal bahwa saya bukanlah individu yang tertarik dengan hal-hal seperti ini jadi saya mohon maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang telah ada pada tulisan diatas.

  33. Memberi pendapat kepada apa yang telah Bapak tuangkan dalam artikel berjudul ”Reformasi Jilid 2 adalah Pengejawantahan dari Jawaban ’Revolusi Belum Selesai’” Secara umum saya setuju atau sepihak dengan apa yang telah Anda tuangkan karena memang sesuai dengan keyakinan yang saya anut sudah sejak lahir. Saya bukanlah orang yang terlalu tertarik / penasaran dengan hal-hal yang menyangkut kearah bidang sosial (orde baru, orde lama, reformasi, revolusi, dsb.).
    Mengisi atau mempertahankan kemerdekaan adalah hal yang lebih sulit dibandingkan dengan memperjuangkan kemerdekaan, karena tantangannya lebih berat disaat sudah merdeka apa lagi yang harus dilakukan, tentunya hal yang positif dan membangun dengan bersaing dengan pihak-pihak lain yang juga sudah merdeka. Sudah merdekakah Indonesia? Jawabannya mungkin belum karena sebagian besar penduduk masih tergatung dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak luar. Juga dengan kekuasaan-kekuasaan yang dimiliki pihak luar yang lebih powerfull dibanding dengan Indonesia.
    Pada bagian “Jiwa yang Hanya Tergantung Kepada yang Maha Digantungi” apakah benar kita harus hanya menggantungkan kepada-Nya karena kata “hanya” disini bisa diinterpretasikan sebagai tidak ada pilihan selain itu. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bersifat sosial, antara kita juga akan tercipta saling ketergantungan walaupun tidak sekuat dengan-Nya. Sebagai contoh, di suatu perusahaan kerja sesorang haruslah sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut sehingga karyawan tersebut secara tidak langsung tergantung dengan perusahaan tersebut. Bagaimana jika dia bekerja hanya sesuai dengan-Nya dan tidak bekerja sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan tersebut? Jadi menurut saya, kata“hanya” tersebut bisa menghasilkan interpretasi yang melenceng dari tujuan awal.
    Di “Pemaksaan Kehendak”, pantaskah kita memaksakan kehendak terhadap bagian yang lain? Menurut saja sah-sah saja selama kehendak yang kita paksakan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. Disaat semua orang mendapat hal yang tidak negative, kenapa tidak?
    “Adil dan Makmur” sepertinya Bapak selalu mempermasalahkan tata letak kata. Memang tata letak kata itu berpengaruh kepada persepsi pembaca. Dalam bagian ini saya melihat Bapak tidak memaparkan secara jelas apa itu adil. Menurut saya adil adalah perbuatan dimana semua pihak mendapatkan haknya yang sebanding dengan apa yang telah dia perbuat atau lakukan, ibaratnya ”Equal pay for equal work”.

  34. revolusi biasanya dikaitkan dengan perkataan komunisme’ gimana pendapat itu?

    apakah revolusi harus selesai?

    Bagaimana kl kata revolusi diganti dengan perubahan?

    mungkin kata ini lebih cocok… untuk judul yang idatas

Leave a Reply