Oleh : Budi Praptono
Ahir-akhir marak diberitakan dimedia massa tentang wacana Calon Presiden yang disodorkan Ketua Umum PKS, bahwa Capres 2009,selain harus berusia ‘balita’ atau di bawah lima puluh tahun, capres PKS juga harus bertitel PhD dan lulusan luar negeri. Syarat yang dicetuskan Presiden PKS Tifatul Sembiring ini dinilai banyak pihak berlebihan dan mengada-ada. Banyak juga pihak yang menilai bahwa wacana tersebut hanya untuk mendulang popularitas.
Terlepas dari penilaian diatas, sebagai warganegara yang baik, saya terpanggil hati untuk turun rembug berpendapat semampu-mampunya.
Yang jadi pertanyaan, apakah sekolah formal itu perlu?
Jawabannya adalah perlu!. Karena dengan sekolah formal “tinggi”, dengan proses yang sistematis dan terukur, kita akan mendapatkan bekal baik berupa soft skill maupun hard skill, terutama dalam bidang tertentu; bahkan semakin tinggi pendidikan, maka semakin mengarah ke bidang yang semakin spesifik. Tetapi yang perlu disadari, bahwa bekal yang diberikan pendidikan formal, hanya bersifat modal dasar, selebihnya harus diasah dan dikembangkan melalui tindakan nyata di masyarakat, yang berproses sangat komplek, terus menerus tiada batas waktu.
Bagi masyarakat atau pihak lain, yang dirasakan, sesungguhnya adalah output yang diberikan, ibarat sebuah pabrik, maka yang dikonsumsi konsumennya adalah produknya, bukan potensi dan prosesnya. Memang idealnya, potensi dan proses yang bagus, akan menghasilkan produk yang bagus.
Ibarat sebuah vektor, yang mempunyai besaran dan arah, potensi yang dimiliki hasil pendidikan ”formal” adalah sebuah besaran, dan arah adalah merupakan tata nilai dasar yang dipegang oleh yang bersangkutan atau dalam bahasa umumnya adalah moral. Maka kalau moralnya salah, semakin berpotensi seseorang, maka akan semakin negatif dampaknya.
Dengan demikian, pendidikan ”formal-tinggi” saja tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan moral yang baik, bahkan akan sangat berbahaya. Tapi bagaimana kalau seseorang sudah bermoral dan berperilaku baik, pendidikan formal “tinggi” itu perlu?
Sebagai sebuah gambaran, bahwa Allah SWT memberi gambaran yang sangat ekstrem yang harus kita pahami, yaitu gambaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW adalah orang yang tidak mengecap pendidikan formal disekolah. Beliau bahkan dikenal dengan orang yang buta huruf (tidak bisa baca tulis), tetapi dengan moral baik, dan landasan ketauhidan yang kuat akhirnya beliau berhasil memimpin negaranya, bahkan menjadi panutan Umat Muslim diseluruh dunia.
Nabi SAW bukanlah seorang Profesor bergelar akademik, tetapi moral beliau melebihi semua manusia dimuka bumi. Kecerdasan beliau adalah ketika beliau mampu mengenal Tuhannya, mengenal Jatidirinya, mengenal mana yang baik dan buruk. Setelah mengenal jalan yang baik dan buruk lalu beliau memilih dan beristiqomah dijalan yang baik yang diridhoi Tuhan. Karena beliau selalu dalam on the track dalam kebaikan dan kejujuran, hasilnya pasti luar biasa, ketika beliau menjadi seorang Presiden beliau mampu menciptakan pemerintahan yang bersih dan adil bagi seluruh rakyatnya. Lewat Nabi SAW dan para sahabatnya lah contoh keteladanan dan keberhasilan memimpin sebuah Negara yang berkeadilan dapat dibuktikan.
Pertanyaan, apakah Nabi Muhammad tidak belajar, jawabannya adalah pasti dan selalu belajar “yang sudah pasti bukan formal”, dan tidak sekedar belajar untuk mendapatkan ilmu, tetapi dengan ilmu tersebut, beliau secara istiqomah mengamalkannya dalam tindakannya, dan ini dibuktikan dalam hadist beliau “Untuk sukses di dunia harus dengan ilmu dan untuk sukses di akherat juga dengan ilmu, dan untuk sukses dua-duanya, juga harus dengan ilmu”.
Apakah beliau menguasai semua ilmu, jawabannya adalah tidak, terbukti untuk urusan yang beliau bukan ahlinya diberikan kepada yang ahlinya, misalkan urusan logistik kepada Sahabat Abubakar, urusan strategi perang kepada Sahabat Umar Bin Khatab, dll. Dan ini dibuktikan semangat beliau dalam hadist “berikan urusan kepada ahlinya”.
Penghambaan Terhadap Gelar dan Ijasah
Ijasah dan gelar akademik, bukanlah satu-satunya jalan membuat orang sukses, namun tanpa Ijasah , pada jaman sekarang, kadang kita memang dibuat sulit, untuk memperoleh kehidupan yang layak secara duniawi, terlebih kalau kita kehilangan semangat bekerja keras. Banyak orang-orang dinegeri ini yang sukses namun berpendidikan rendah, pernah tercatat dalam sejarah negeri ini dan dunia, seorang Presiden yang tidak lulus kuliah tapi berhasil mencapai puncak kepemimpinan bangsa.
Saya pun berpendapat sama. Yang perlu ditanamkan di masyarakat adalah keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari Ijasah atau gelar yang disandangnya, melainkan dari kualitas akan nilai di masyarakat. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bertaqwa kepada Tuhan dan bermanfaat banyak bagi masyarakat luas (Rahmatan lill alamin).
Sebagai orang terhormat, marilah kita bersikap “cerdas” dengan menyuguhkan nilai kejujuran dan pengendalian hawa nafsu. Karena yang diharapkan oleh negara bangsa ini, yang utama adalah bagaimana manusia tersebut menjalankan nilai-nilai yang baik dan jujur di masyarakat –amar ma’ruf nahi mungkar.
Pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya didapatkan dibangku kuliah, tetapi akan didapatkan dalam mengarungi kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Pendidikan sejati adalah ketika kita berusaha untuk selalu lebih baik dari kemarin, baik soft skill maupun hard skill yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
Bagi seorang Pemimpin Negara, sekali lagi pendidikan atau berilmu itu adalah wajib, namun yang bersifat formal, kalau perlu diatur “itu saja kalau diatur”, tidak harus setinggi langit “misalkan cukup SMA dan sederajad”, yang terpenting dia mampu memimpin, bermoral baik, jujur dan mau dan mampu mewujudkan tindakan nyata berlaku adil, serta mampu memahami kondisi rakyatnya, untuk selanjutnya menggiring rakyatnya menuju kemaslahatan dunia dan akhirat.
Tetapi kita juga harus arif dalam menghargai keyakinan kelompok atau golongan, yang menentukan kriteria calon presiden, dengan syarat-syarat tertentu, terlepas dengan niatan apa?; misalkan S3, Profesor, wanita/laki-laki, jawa-non jawa, ningrat-non ningrat, keturunan ini-itu, bahkan yang aneh sekalipun, silahkan saja! Asal hanya untuk internal golongan atau kelompoknya, bukan untuk kriteria resmi dari negara. Yang jelas Negara bukan milik golongan atau kelompok tertentu(termasuk partai), baik berdasar agama, Suku, Ras, dll.
Biarlah rakyat yang memilih pemimpin mana yang cocok bagi mereka! Tetapi, kalau kita mau jujur, bukannya ”Biarlah Tuhan yang akan memilih Presiden Indonesia nanti yang terbaik menurut Tuhan”
Telah Sungguhkah, kita bertanya kepada Tuhan, siapa yang akan diutus Tuhan untuk mengatur Indonesia? Kalau sudah ada jawaban, patuhilah, titik!
Tentunya yang akan diberi amanah oleh Tuhan adalah orang yang selalu Tunduk Patuh kepadaNYA, agar Indonesia Jaya menjadi Mercusuar Dunia, istilah Bung Karno. Tetapi kalau kita ngotot menurut maunya manusia, lebih sempit lagi manusia golongan ini, itu, ya … tunggulah, apa yang akan terjadi.
****
Menyoal Titel PhD Bagi Capres 2009
dari : www.opinimasyarakat.com & Opini Masyarakat Tasikmalaya
Filed under: Artikel Opini



saya setuju dengan pendapat bapak budi, yang terpenting dari seorang pemimpin adalah moral, dan kemampuannya dalam memimpin orang-orang yang dipimpinnya. saya setuju dengan pendapat bapak budi yang mengatakan bahwa pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang dekat dengan tuhan karena dengan dekat kepada tuhan seorang pemimpin dapat memberi yang terbaik kepada orang-orang yang dipimpinnya